AFF Suzuki Cup 2016

Jangan Parkir Bus !

Untuk ukuran negara yang baru lepas dari pengasingan internasionaldan liga domestiknya berjalan acak-kadut, melaju ke final adalah hasil menakjubkan.

Tayang:
Penulis: T. Agus Khaidir | Editor: T. Agus Khaidir
ANTARA FOTO/WAHYU PUTRO
UJI COBA LAPANGAN - Pemain tim nasional Indonesia berlatih ketika uji coba lapangan di Rajamangala National Stadium, Bangkok, Thailand (16/12/2016). Indonesia bertanding melawan Thailand pada putaran kedua final AFF Suzuki Cup 2016 di Rajamangala National Stadium, Sabtu (17/12/2016) sore ini. 

SAAT Alfred Riedl ditunjuk kembali oleh PSSI untuk menukangi tim nasional Indonesia, reaksi yang mencuat di kalangan suporter adalah ketidakpuasan. Di media-media sosial, foto Riedl, dikemas sedemikian rupa menjadi meme dengan beragam komentar yang isinya rata-rata adalah ejekan.

Riedl yang November lalu berusia 67, disebut sebagai pelatih dari era dinosaurus dengan strategi kuno dan catatan kegagalan yang jauh melewati ukuran panjang kumisnya. Kelompok suporter lain yang sama mendongkol namun barangkali kurang memiliki selera humor, memilih julukan lain. Julukan yang lebih umum dan tidak terlalu "nyelekit" meskipun punya tujuan serupa: Mr Runner Up.

Begitulah, sejak memulai era kepelatihannya pascagantung sepatu sebagai pemain FC Admira Wacker Modling tanpa pernah sekalipun turun merumput di musim 1985-1986, Rield memang belum satu kalipun meraih tropi kejuaraan. Hingga tahun 2016, dia silih berganti menangani 14 tim, termasuk enam tim nasional, dan pencapaian tertingginya adalah peringkat kedua. Yakni bersama tim nasional Vietnam dan Indonesia.

Bersama Vietnam yang ditanganinya dalam dua periode, Riedl menjadi runner up di AFF Cup 1998 (masih bernama Tiger Cup), SEA Games 1999, 2003, 2005, dan King's Cup 2006. Sedangkan Indonesia dibawanya ke posisi yang sama di AFF Cup 2010. Riedl kembali ke Indonesia tahun 2013. Dia melatih tim nasional dan setahun berikutnya menangani PSM Makassar. Keduanya gagal total.

Reputasi inilah yang mendorong perisakan terhadap Riedl (juga PSSI). Bagaimana mungkin orang dengan catatan kegagalan seperti ini ditunjuk melatih tim negara yang baru lepas dari pengucilan sepakbola internasional.

ridel1
PELATIH tim nasional Indonesia, Alfred Riedl

Bagaimana pelatih dengan strategi kuno, strategi yang "seolah-olah tertinggal dari peradaban modern", akan berhadap-hadapan dengan tim nasional negara-negara lain yang melesat jauh selama Indonesia dikucilkan? Suporter tim nasional dibekap cemas lantaran terlanjur berkeyakinan, bersama Riedl, Indonesia hanya akan jadi pesakitan di AFF Suzuki Cup 2016.

Keyakinan itu, kita sama-sama tahu, tak menjadi kenyataan. Meski awalnya tertatih, Indonesia ternyata lolos ke final. Di semifinal, Indonesia menyingkirkan Vietnam dan sejauh ini punya modal satu gol berkat keunggulan 2-1 atas Thailand di final putaran pertama.

Luar biasa? Untuk ukuran tim nasional negara yang baru lepas dari pengasingan internasional akibat sanksi FIFA dan liga domestiknya berjalan acak-kadut, tentu saja, hasil ini luar biasa. Bahkan menakjubkan. Akan tetapi, tidak boleh dilupa, final AFF Cup sama sekali belum membuat rekor Riedl, juga rekor Indonesia, terkoreksi. Riedl dua kali gagal di final. Indonesia? Empat kali! Rekor yang menyakitkan.

Tapi final kali ini sedikit berbeda. Sejak sistem home and away di fase gugur mulai diberlakukan pada tahun 2004, untuk kali pertama Indonesia menghadapi putaran kedua dengan modal kemenangan. Modal positif. Tahun 2004, di putaran pertama, Indonesia dihajar Singapura 1-3 di Jakarta. Dan di Singapura, kekalahan itu disempurnakan. Singapura unggul agreegat 5-2.

Tak kalah menyakitkan adalah final 2010. Indonesia yang difavoritkan melawat ke Stadion Bukit Jalil, Kuala Lumpur, untuk dibekap tiga gol tanpa balas oleh Malaysia. Di Jakarta, Indonesia menang 2-1 namun tak cukup lantaran secara agregat kalah 2-4.

Pertanyaannya, mampukah modal positif ini dikonversi jadi kemenangan? Keoptimistisan memang merebak di mana-mana. Di media sosial, terutama di Twitter, hastag atawa tagar (tanda pagar, #) Indonesia Bisa bahkan sempat menjadi trending topic.

Tapi mungkinkah Indonesia bisa? Sejauh mana potensinya? Menilik apa yang ditunjukkan Indonesia dan apa yang ditunjukkan Thailand di putaran pertama, harus diakui bahwa potensi ini tak bisa dibilang besar. Indonesia memang menang. Namun terlepas dari dua gol yang bersarang di gawang Kawin Thamsatchanan, Thailand menunjukkan dominasi atas Indonesia.

timnas indon-thai1
TIM nasional Thailand tengah berlatih di Stadion Rajamangala jelang putaran kedua final AFF Suzuki Cup 2016 yang digelar, Sabtu (17/12/2016) sore ini.

Aliran bola dan alur serangan Thailand lebih rapi, lebih terukur, dan secara menyeluruh lebih terencana. Sebaliknya gempuran Indonesia terkesan sporadis.

Di lain sisi, sesungguhnya, dominasi Thailand disebabkan oleh strategi Alfred Riedl. Guna mengimbangi agresivitas permainan ofensif Thailand, sebagaimana ketika bentrok lawan Vietnam, Riedl mengusung formasi 4-2-3-1. Tetapi Stefano Lilipaly yang diharapkan dapat membuka celah serangan gagal memaksimalkan fungsinya. Konsentrasi Lilipaly terpecah karena dia punya tugas lain. Dia juga harus lebih sering turun ke tengah membantu kerja Manahati Lestusen dan Bayu Pradana Andriatmo.

Lilipaly harus berpikir bagaimana caranya membuka peluang untuk Boaz Salossa, Rizky Pora dan Andik Vermansyah (kemudian digantikan Zulham Zamrun), sementara di saat yang sama dia mesti menjadi orang pertama yang menutup akselerasi Chanathip Songkrasin, pengendali irama permainan Thailand yang dijuluki Messi Jay karena gaya dan karakter bermainnya yang dianggap mirip Lionel Messi.

Akibatnya permainan Indonesia jadi serba tanggung. Menyerang tidak bertahan juga tidak. Kesalahan-kesalahan elementer semacam tak sempurna menahan bola atau salah memberi umpan, memperparah tingkat kerusakan permainan.

Sial bagi Thailand, di pertengahan babak kedua, angin keberuntungan berbalik ke arah Indonesia. Gol Risky Pora mengganggu kestabilan permainan Thailand dan Indonesia mampu memanfaatkan kecenderungan ini dengan sempurna.

Indonesia sekarang punya modal keunggulan satu gol. Modal yang pada dasarnya tidak terlalu menguntungkan. Sebab adanya regulasi gol tandang membuat Thailand cukup melesakkan satu gol untuk menambah panjang daftar mengenaskan Indonesia.

Dalam situasi seperti ini, tidak sedikit pelatih yang tergoda untuk menurunkan strategi bertahan total. Semacam catenaccio yang diadaptasi sedemikian rupa, dengan atau tanpa semangat dan karakter Gli Azzuri. Sejenis pertahanan dinding beton Gimnasia La Plata yang dipraktikkan Carlos Bilardo pada tim nasional Argentina di Piala Dunia 1990. Sebangsa "parkir bus" temuan Jose Mourinho.

Upaya ini sering berhasil. Mourinho telah berkali-kali melakukannya. Paling legendaris tentulah putaran kedua Inter Milan kontra Barcelona di semifinal Liga Champions, 28 April 2010. Racikan Mourinho membuat Inter mampu mempertahankan modal dua gol di Guiseppe Meazza (3-1). Padahal nyaris sepanjang 90 menit di Camp Nou, pertahanan mereka dibombardir pemain-pemain Barcelona dengan perbandingan penguasaan bola sangat jomplang, nyaris 70 berbanding 30 persen.

Sekali lagi, upaya ini sering berhasil. Klub-klub besutan Mourinho, La Plata di masa jaya, juga tim nasional Italia. Namun bermain bertahan juga penuh risiko. Meleset sedikit saja akan berakibat celaka dua belas dan inilah yang lebih sering terjadi. Pertahanan yang tidak betul-betul solid hanya akan melahirkan blunder.

Dan Alfred Riedl bukan pelatih yang memiliki reputasi sebagai peracik pertahanan yang ciamik. Tolok ukurnya jelas dan terang. Sepanjang AFF Suzuki Cup 2016, gawang Indonesia tidak pernah bersih dari gol. Empat gol kontra Thailand di fase penyisihan, ditambah dua dari Filipina, satu dari Singapura, tiga dari Vietnam, dan satu lagi dari Thailand di final pertama. Total sebelas gol dalam enam laga.

Karena itu, Rield sebaiknya jangan pernah berpikir untuk memainkan strategi bertahan di Stadion Rajamangala, Bangkok, Sabtu (17/12) petang ini. Bertahan, apalagi sampai bertahan total, entah memarkir bus atau kereta api atau memancakkan fosil dinosaurus sekalipun, hanya akan berakhir sebagai kesia-siaan.

Bukan lantaran bus atau gerbong kereta atau dinosaurus tidak kuat menahan gempuran pemain-pemain Thailand. Melainkan karena kekurangpiawaian Riedl dalam menempatkannya tanpa menyisakan celah yang memungkinkan untuk ditembus.

Strategi yang diterapkan di Stadion Pakansari kemarin adalah pilihan terbaik bagi Indonesia. Hanya saja perlu dilakukan perbaikan-perbaikan. Selain pada peran Stafano Lilipaly, Riedl juga harus bisa memperbaiki transisi kedua bek sayap. Terutama sekali Benny Wahyudi yang sering keteteran apabila sudah naik membantu serangan. Gol pertama Thailand yang dicetak Teerasil Dangda tidak lepas dari kurang cepatnya Benny menutup ruang jaga.

Persoalan lain adalah bagaimana Alfred Riedl memilih pemain untuk ditempatkan di pos Andik Vermansyah yang tidak bisa merumput karena cedera. Zulham Zamrun sejauh ini belum menunjukkan performa terbaik. Ada dua pemain bagus di bangku cadangan, Bayu Gatra dan Muchlis Hadi Ning Saifullah, yang bisa jadi pilihan. Riedl pun sesungguhnya bisa mencoba Ferdinand Sinaga di pos ini.

Apabila Riedl mampu menyempurnakan racikannya, barangkali rekor buruk Indonesia akan berakhir.(t agus khaidir)

Sumber: Tribun Medan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved