Breaking News

Truk Bertonase Lebih Marak di Kecamatan Bohorok, DPRD Segera Lapor ke Polda

Kondisi memprihatinkan itu berada di hampir seluruh badan jalan mulai Kecamatan Kuala hingga Kecamatan Bohorok.

Penulis: Tulus IT | Editor: Randy P.F Hutagaol
Tribun-Medan.com/ Nanda Fahriza
Kendaraan melintasi jalan rusak di sekitar Kecamatan Bohorok pada Selasa (13/9/2016) silam. (Tribun-Medan.com/ Nanda Fahriza) 

Laporan Wartawan Tribun Medan / Nanda F. Batubara

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Anggota DPRD Sumut Muhri Fauzi Hafiz bakal melaporkan sejumlah keluhan masyarakat soal maraknya truk pengangkut material Galian C bertonase melebihi batas maksimal yang kerap beroperasi di Kecamatan Bohorok, Kabupaten Langkat.

Muhri akan segera menyurati Kapolda Sumut Irjen Rycko Amelza Dahniel mengenai hal ini. Menurutnya, pengoperasian truk bertonase melebihi batas tidak hanya membahayakan bagi para pengguna jalan lain yang melintas, namun juga menyebabkan aspal kerap rusak.

"Waktu saya reses di Desa Tanjung Lenggang, Kecamatan Bahorok kemarin, masyarakat di sana mengeluhkan truk-truk itu. Jalan jadi hancur dan pengguna jalan jadi resah. Ini sudah terjadi sejak beberapa tahun lalu," kata Muhri melalui sambungan telepon, Minggu (28/12/2016).

Menurut Kepala Desa Tanjung Lenggang, Sobirin, jalan di desa mereka merupakan jalur lalu lintas yang padat untuk truk-truk bertonase tinggi. Tidak hanya dilalui truk pengangkut material Galian C, namun juga truk bertonase tinggi lainnya seperti pengangkut komoditi kelapa sawit.

Sobirin mengungkapkan bahwa kondisi jalan di desa mereka kerap rusak meski telah berulang kali dibenahi. Hal ini tidak terjadi di desa mereka saja, namun di beberapa kecamatan lain pada rute jalan Medan-Bukit Lawang

Kata Sobirin, kondisi jalan yang hancur membuat sejumlah pengguna kendaraan yang melintas mengalami kecelakaan.

Sobirin mengatakan telah berulang kali melaporkan persoalan ini ke pemerintah daerah. Namun belum ada solusi atau tindakan terhadap persoalan tersebut.

"Setiap jam truk pengangkut bahan Galian C hilir mudik di atas badan jalan yang hanya mampu menampung beban lima sampai delapan ton. Truk-truk itu sudah melebihi tonase sehingga jalan kami cepat rusak," kata Sobirin.

Amatan www.tribun-medan.com pada Oktober 2016 lalu, infrastruktur jalan menuju objek wisata Bukit Lawang, Kabupaten Langkat, rusak parah.
Mulai jalanan yang berlubang dan tergenang air, hingga badan jalan yang penuh dengan bebatuan kerikil akibat pengerjaan perbaikan yang tak kunjung tuntas.

Parahnya, kondisi memprihatinkan itu berada di hampir seluruh badan jalan mulai Kecamatan Kuala hingga Kecamatan Bohorok.

Baca: Jembatan Payaroba Hanya Bisa Dilintasi Truk Bermuatan 8 Ton, Petugas Ukur Tonase Pakai Penglihatan

Kondisi demikian tak jarang membuat pengendara yang melintas kesulitan. Bahkan, menurut kesaksian beberapa warga Kecamatan Tanjung Langkat, banyak pengendara yang terjatuh akibat terjerumus ke lubang di badan jalan.

"Yang jatuh pun banyak, apalagi kalau musim hujan seperti ini, sudah mirip danau jalan-jalan itu," ujar boru Ginting, Selasa (13/9) lalu.

Menurut pengalamannya, perbaikan kerap dilakukan tiap tahun di beberapa titik jalan. Ironisnya, hal tersebut tidak bertahan lama. Padahal, terdapat berbagai objek wisata potensial di kawasan tersebut.

Kerusakan badan jalan itu disinyalir tidak hanya disebabkan kualitas aspal dan pengerjaan perbaikan jalan yang buruk, namun juga diakibatkan lalu lintas kendaraan truk bertonase tinggi setiap harinya.

"Kalau truk angkat batu-batu yang lewat setiap hari itu hampir ratusan, tapi kalau truk angkat sawit lebih lah seratus kali sehari yang lewat sini," tuturnya.

(cr5/tribun-medan.com)

Sumber: Tribun Medan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved