Sketsa Kota

Antre di Toko Kue

Barangkali akan lebih logis apabila orang rela berpanas berhujan untuk mendapatkan kebutuhan pokok, kebutuhan untuk menyambung hidup.

Penulis: T. Agus Khaidir | Editor: T. Agus Khaidir
DOK.TRIBUN MEDAN

SEBENTAR lagi Natal dan antrean di toko kue yang terletak persis di sebelah kantor saya makin ramai. Kaitpautnya dengan Natal barangkali sedikit saja. Sebab jauh sebelum Natal pun antrean orang untuk membeli kue di toko ini sudah ramai sekali.

Persis antrean sembako, ya, kata seorang kawan, saat kami pertama kali melihat fenomena ini. Saya masih ingat betul, waktu itu, saya tertawa panjang. Iya, persis. Bahkan lebih dahsyat. Sebab barangkali akan lebih logis apabila orang rela berpanas berhujan untuk mendapatkan kebutuhan pokok, kebutuhan untuk menyambung hidup. Akan tetapi, saya kira, memang akan jadi unik apabila kerelaan ini diperuntukkan bagi sepotong dua potong kue.

Tapi inilah yang terjadi. Nyaris sepanjang hari, dari pagi hingga malam, pembeli berjubel di depan toko. Kenapa bisa? Apakah kuenya enak sekali?

Enak tak enak saya kira relatif. Tergantung pada sensitivitas lidah dan tingkat begah. Namun toko kue ini memang memiliki strategi dagang yang sungguh ciamik. Mereka memberlakukan sistem antrean dengan jam-jam buka loket tertentu. Mirip pelayanan pemeriksaan kesehatan BPJS. Dengan kata lain, kue tidak bisa diperoleh sepanjang hari sebagaimana lazimnya di toko- toko kue yang lain. Loket dibuka satu kali di waktu pagi, lalu sekali siang, dan sekali malam.

Berangkat dari sinilah, ditambah cita rasa kue yang lumayan, antrean demi antrean terbentuk. Lebih luar biasa, ternyata, kecenderungan ini menumbuhkembangkan bisnis-bisnis lain. Atau jika kata 'bisnis' dianggap kelewat tinggi, katakanlah saja, 'membuka kesempatan untuk mengais rezeki'.

Begitulah, di depan toko kue ini sekarang mangkal penjaja-penjaja makanan ringan. Ada tahu goreng, ada kacang, es krim, ada juga rokok. Tidak ketinggalan para calo. Benar, Anda tidak sedang salah baca. Calo, makelar, orang yang jadi perantara dan memberikan jasa untuk mengurus sesuatu berdasarkan rupiah.

Dalam hal kue dari toko kue ini, para calo membeli dan kemudian menjualnya dengan harga lebih tinggi. Ada yang dijual utuh. Versi orisinil. Ada juga yang dimodifikasi sedemikian rupa. Secara kreatif mereka membagi-bagi kue dan menukartempatkannya dan menjadikan kue yang aslinya hanya satu rasa menjadi dua bahkan tiga rasa.

Dan aduhainya, mereka menjual kue-kue itu di seputaran toko. Menawar-nawarkannya pada para calon pembeli yang malas mengantre. Dan dahsyatnya, meski dijual dengan harga jauh lebih mahal, tetap saja ada yang membeli.

Sampai kapankah fenomena ini akan berlangsung? Mungkin sebentar. Mungkin bisa bertahan lama. Mungkin menjelma legenda. Akan tetapi, satu yang pasti, asal tahu cara dan tepat momentumnya, terlepas dari keren tak keren canggih tak canggih (bahkan yang serba konyol sekalipun), di negeri ini apapun bisa jadi fenomena dan popularitas bisa melesat selekas memasak tahu bulat dan sederas klakson telolet.(t agus khaidir)

Sumber: Tribun Medan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved