Sepakbola Inggris dan Boxing Day

Merry Christmas . . . This is Football Time!

Di Inggris, dimulai sejak laga Preston North End versus Derby County di tahun 1888, Boxing Day adalah sepakbola.

Tayang:
Penulis: T. Agus Khaidir | Editor: T. Agus Khaidir
huffington post
PENONTON sepakbola mengenakan busana Santa Claus saat menonton pertandingan di masa Boxing Day di Inggris, tahun lalu. 

ANDA yang telah mengikuti Liga Inggris sejak dekade 1990an, atau boleh jadi termasuk "generasi lebih muda" namun rajin mengulik informasi yang berumur lebih tua dari bilangan usia, tentunya mengenal dua nama ini: Matthew Le Tessier dan Paul Merson.

Nama pertama adalah pemain yang barangkali bisa disebut sebagai anomali sepakbola Inggris. Sebagaimana Paul Gascoigne, Le Tessier merupakan pesepakbola Inggris yang bermain tidak dengan karakter pesepakbola Inggris. Xavi Hernandez menyebutnya sebagai sumber inspirasi.

"Saya beruntung karena televisi di rumah kami bisa menangkap siaran dari Inggris dan satu yang tidak pernah saya lewatkan adalah rangkuman hasil pertandingan. Acara ini menyajikan jajaran gol-gol terbaik, dan di sana, nyaris setiap pekan ada Matt Le Tessier. Dan seluruh golnya luar biasa," kata Xavi.

Jika pujian seperti ini datang dari seorang Xavi, satu di antara konduktor lapangan tengah paling brilian yang pernah dilahirkan, maka sudah bisa dibayangkan bagaimana kualitas Le Tessier. Gambaran lain bisa dicermati dari komentar Sir Alex Ferguson.

Dalam satu wawancara, Sir Alex bilang bahwa Matt Le Tessier merupakan pemain yang barangkali tidak akan pernah dia pilih untuk bermain di tim yang dilatihnya, akan tetapi sebaliknya, juga tak diharapkannya berada di tim yang menjadi lawan.

Kenapa? Karena Le Tessier bukan termasuk pemain yang disiplin. Bukan pemain yang suka berlatih. Dia bisa dengan enteng melewatkan waktu latihan atau bahkan melupakan statusnya sebagai pesepakbola profesional untuk perkara-perkara yang dianggapnya lebih penting.

Matt Le Tessier1
MATTHEW Le Tessier

Satu kisah yang paling kesohor adalah bagaimana Matt Le Tessier mengganyang daging kalkun dan minum berbotol-botol sampanye di malam Natal 1989. Padahal esoknya, Southampton, klub di mana dia merumput selama 16 tahun, dijadwalkan bertanding dengan Manchester City.

"Sebenarnya tidak ada rencana sebelumnya. Saya datang ke rumah tetangga, lalu kami makan, lalu mengobrol, kemudian satu botol sampanye mulai dibuka. Obrolan berlanjut dengan botol sampanye lain kembali dibuka, lalu botol lain, lalu botol-botol yang lainnya. Telah jauh lewat tengah malam ketika saya kembali ke rumah dan pergi tidur," kata Le Tessier dalam video yang dirilis skysports.

Tidak sampai 24 jam, Le Tessier sudah berada di lapangan, memimpin Southampton dan mencetak gol kemenangan 3-2 timnya atas City. "Hari yang luar biasa. Salah satu yang paling indah dalam hidup saya," ujarnya.

Kisah Paul Merson mirip-mirip ini. Bedanya, berakhir malu. Merson yang juga dikenal malas berlatih, selain punya kegemaran yang agak kelewat batas terkait judi dan minum minuman keras (dia bahkan "mengenalkan" gaya selebrasi kontroversial: drink selebration yang menirukan gerakan orang sedang menegak minuman keras), sama sekali tidak berada dalam kondisi fit saat diturunkan memperkuat Arsenal kontra Wimbledon pada laga yang digelar sehari setelah Natal.

Kurang tidur, kekenyangan, dan kepala pusing karena menegak bir dan sampanye, Merson yang berlari di sisi kanan lapangan jatuh terjengkang tanpa ada seorang lawan pun di dekatnya. Tak lama kemudian, George Graham, pelatih Arsenal, menariknya keluar.

Paul Merson1
PAUL Merson

Dua kisah ini sering dikedepankan bukan saja sebagai contoh sikap indisipliner pesepakbola profesional, melainkan juga dijadikan gambaran betapa mencekamnya Boxing Day, hari-hari pertandingan setelah perayaan Natal yang hanya dimiliki oleh Liga Inggris.

Di belahan lain Eropa, juga di Amerika Serikat dan sebagian Afrika dan Asia, Boxing Day dimaknai sebagai hari-hari meriah. Hari-hari untuk bersenang-senang, bertamasya, dan --terutama sekali-- berbelanja. Day after christmas sale. Juga beberapa tradisi kuat lain.

Akan tetapi di Inggris, dimulai sejak laga Preston North End versus Derby County di tahun 1888, Boxing Day adalah sepakbola. Merry christmas..., this is football time! Dan dua kisah tadi dipapar untuk menyentilkan dua pesan. Kepada pemain: jika Anda bukan pemain ajaib seperti Le Tessier, tetaplah bersikap profesional, jangan macam-macam dan sok jagoan, sebab itu hanya akan membuatmu jadi lelucon seperti Paul Merson. Untuk pelatih: cermatlah memilih pemain yang paling siap diturunkan.

Boxing Day 2016, 26 Desember, memainkan tujuh pertandingan. Dilanjutkan masing-masing satu laga pada tiga hari berikutnya, lalu dua rangkaian pertandingan hingga 4 Januari 2017. Total tiap klub memainkan tiga pertandingan dalam sepekan. Dan dari laga-laga ini, arah pandang difokuskan ke London dan Kingston upon Hull. Juga Manchester. Di London, Chelsea menjamu AFC Bournemouth dan ini menjadi Boxing Day pertama bagi Antonio Conte.

Pengalaman pertama juga akan dicatat Josep Guardiola. Manchester City kontra Hull yang dibesut Mike Phelan, pelatih yang sudah berkali-kali melewati Boxing Day sebagai asisten Sir Alex Ferguson. Di Old Trafford, Zlatan Ibrahimovic, menambah tebal catatan buku sejarahnya. Dari Swedia melanglang buana ke Belanda, Italia, Spanyol, dan Perancis, kini dia bertualang di Inggris dan akan punya cerita perihal Boxing Day. Apakah dia memulai cerita ini dengan indah atau sebaliknya?

Ibrahimovic lebih beruntung karena dia bukan bos. Bukan pengendali dan pengambil keputusan. Dengan kata lain, adaptasinya cuma untuk diri sendiri. Sekiranyapun Ibrahimovic gagal beradaptasi, Jose Mourinho tinggal menggantinya dengan pemain yang lebih siap.

antonio conte1
ANTONIO Conte

Conte dan Guardiola berada di posisi berbeda. Mereka beradaptasi dengan sistem baru. Dan berhasil tidaknya mereka akan memberi pengaruh signifikan terhadap tim secara menyeluruh. Bahkan boleh dibilang, pencapaian akhir Chelsea dan Manchester City di penghujung musim 2016-2017, tergantung pada hasil Boxing Day.

Sejauh ini Conte unggul dari Guardiola. Chelsea bercokol di posisi puncak sedangkan Manchester City di peringkat tiga. Meski secara umum terbilang baik, keduanya sama-sama telah menunjukkan kebelumpahaman terhadap kultur sepakbola Inggris.

Conte belum paham betapa FA, federasi sepakbola Inggris yang mengendalikan penuh jalannya roda kompetisi, seringkali membuat keputusan yang kejam. Kesalahan-kesalahan yang di kompetisi lain barangkali sepele, seperti melancarkan protes keras kepada wasit atau perselisihan antar pemain di dalam dan di luar lapangan, bisa berakibat fatal. Mulai dari pengurangan poin sampai sanksi larangan tampil. Dan keputusan seperti ini dijatuhkan tanpa kenal ampun dan tak pandang bulu pula.

Conte, baru-baru ini, menyebut dirinya tidak habis mengerti, bahkan menganggap konyol rencana FA yang hendak memotong poin Chelsea karena insiden perkelahian pemain di akhir laga yang panas kontra Manchester City, awal Desember lalu. Dua pemain City, Sergio Aguero dan Fenandinho, diusir keluar lapangan oleh wasit. Namun FA melakukan penyelidikan setelah kubu City melapor bahwa insiden yang berbuah kartu merah kedua terjadi karena adanya provokasi dari pemain-pemain Chelsea.

"Pengurangan poin? Ini menggelikan. Pertandingan itu disiarkan ke seluruh dunia dan semua orang bisa melihat bahwa pemain saya justru hendak mendinginkan emosi. Kami tidak bersalah. Sama sekali tidak," kata Conte seperti dikutip banyak media di Inggris.

guardiola3
JOSEP Guardiola

Pun demikian, dibanding Guardiola, pemahaman Conte lebih baik. Conte sekadar belum memahami kebiasaan di luar lapangan. Di dalam lapangan, minus Boxing Day yang baru akan dihadapinya malam nanti, dia belajar lebih cepat.

Sedangkan Guardiola masih "terbawa-bawa" atmosfer sepakbola Spanyol dan Jerman. Masih terkenang-kenang pada kedigdayaan Barcelona dan Bayern Munchen yang memang nyaris tidak bisa disentuh kecuali oleh satu dua klub.

Ivan Campo, pesepakbola Spanyol yang pernah merumput bersama Bolton Wanderers dan Ipswich Town, pada Omnisport mengatakan bahwa jika tidak cepat beradaptasi, Guardiola akan kehilangan semua gelar musim ini.

"Dia harus sadar bahwa sepakbola Inggris sangat berbeda dengan sepakbola di luar sana. Di sini lebih cepat, dan tiap-tiap pemain secara sadar melibatkan diri dalam pertarungan yang sengit. Sepakbola di Inggris adalah pertarungan. Dan dia (Guardiola) menurunkan pemain yang sama dalam setiap pertandingan, seperti yang dilakukannya di Spanyol dan Jerman. Di sini dia harus menyiapkan banyak strategi cadangan," ucapnya.

City memang sempat melejit di awal-awal kompetisi. Namun pilihan strategi yang monoton cepat memerosokkan mereka. Dan Guardiola terhenyak tatkala pasukannya yang serba mahal ditahan imbang para semenjana semacam Everton, Southampton, dan Middlesbrough, sebelum dihajar Leicester, juara bertahan yang ironisnya juga sedang limbung.(t agus khaidir)

Sumber: Tribun Medan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved