Cerita Seleb

Perubahan Drastis Yuki Kato sejak Tinggal di Pesantren

"Sebenarnya waktu tersebut merupakan waktu yang sangat singkat untuk saya memahami budaya dan lainnya di pesantren tersebut,"

Penulis: Ayu Prasandi | Editor: Randy P.F Hutagaol
Tribun-Medan.com/ Ayu Prasandi
Yuki Kato saat hadir di acara meet and greet yang diadakan di XXI Hermes Place Monginsidi Medan, Senin (26/12/2016). (Tribun-Medan.com/ Ayu Prasandi) 

Laporan Wartawan Tribun Medan/ Ayu Prasandi

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Tinggal di pesantren selama beberapa hari ternyata memberikan banyak dampak positif bagi Yuki Kato.

Berperan sebagai Shila di film terbarunya yang berjudul Cahaya Cinta Pesantren memang mengharuskan Yuki dan pemeran lain berada di pesantren.

“Jadi untuk syuting film Cahaya Cinta Pesantren ini ada dua tempat syuting yaitu di Jakarta dan Medan. Nah untuk yang di Medan dilakukan di pesantren dan kita (pemain) harus berbaur dengan santri yang lain karena karakter kita di situ sebagai santri,” ujar aktris kelahiran 2 April 1995 ini saat meet and greet Film Cahaya Cinta Pesantren di XXI Hermes Place Mongonsidi Medan, Senin (27/12/2016) malam.

Ia menuturkan, tinggal di pesantren walau hanya beberapa hari namun membuat banyak perubahan bagi Yuki Kato. Berbagai pengalaman baru terutama pengalaman religi ia dapatkan selama berada di pesantren.

“Setelah syuting film Cahaya Cinta Pesantren ini, jujur banyak yang berubah dari saya terutama perubahan di ibadah saya. Saya jadi semakin rajin ibadah, soalnya karena saat syuting kan kita memang benar-benar memposisikan diri sebagai santri dan sering diingatkan santriwati lainnya untuk ibadah jadi terus ke bawa sampai sekarang,” tuturnya.

Sejak syuting film yang akan mulai hadir di bioskop Indonesia tanggal 12 Januari mendatang, ia juga jadi nyaman menggunakan hijab.

“Memang waktu awal syuting agak gerah dan suka sering buka hijab. Namun semakin ke sini semakin nyaman aja. Malah beberapa kali break atau istirahat sudah tidak pernah buka hijab lagi,” jelasnya.

Berada dan menginap di pesantren selama empat hari tiga malam merupakan waktu yang cukup singkat untuk Yuki dan pemain lain memahami budaya dan kebiasaan yang ada di pesantren.

“Kita juga nginap langsung di pesantrennya sekitar 4 hari tiga malam. Sebenarnya waktu tersebut merupakan waktu yang sangat singkat untuk saya memahami budaya dan lainnya di pesantren tersebut, jadi itu benar-benar menjadi Pekerjaan Rumah (PR) setiap hari mencari tahu lagi,” terangnya.

Tak hanya harus berperan sebagai seorang santriwati di pesantren, di film terbarunya tersebut Yuki juga mendapatkan tantangan sebagai memerankan sosok Sila yang merupakan anak seorang nelayan yang tinggal di sekitar Danau Toba.

“PR kedua di film ini adalah memerankan karakter Sila dan harus menggunakan dialek Medan. Jujur ini pengalaman pertama saya berlogat Medan, awalnya cukup sulit karena silsilah saya tidak ada darah Sumatera nya,” terangnya.

Baca Juga: Jupe Pilih Berobat Pakai BPJS karena Hal Ini . . .

Namun, banyak melakukan latihan, terus mencari tahu kata-kata yang sering digunakan anak muda Medan serta belajar dari beberapa orang akhirnya ia sukses memerankan karakter Sila tersebut.

“Jadi setiap hari bisa dibilang latihan terus. Sebelum take saja kita latihan reading. Seru banget memerankan karakter yang memang bukan kita,” katanya mengakhiri.

(pra/tribun-medan.com)

Sumber: Tribun Medan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved