Breaking News:

Ngopi Sore

Dua Hal yang Ingin Saya Tahu dari Agus Yudhoyono

Agus tidak muncul pada dua debat kandidat Gubernur Jakarta yang digelar Kompas TV dan Net TV dengan dalih debat-debat ini tak resmi.

Penulis: T. Agus Khaidir | Editor: T. Agus Khaidir
TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN
Calon Gubernur Jakarta, Agus Harimurti Yudhoyono, berfoto bersama warga saat melakukan kampanye di Kawasan Kebayoran Lama Utara, Jakarta, Selasa (6/12/2016). 

MALAM ini debat resmi sebagai rangkaian Pemilihan Gubernur Jakarta akan digelar. Sebagai orang Medan dan ber-KTP Medan, pada dasarnya debat ini tidak penting-penting amat bagi saya. Bahkan siapapun yang kelak jadi gubernur juga tidak terlalu penting.

Mau Ahok, mau Anies, atau mau Agus Yudhoyono, sama sekali tidak penting. Mereka bertiga tak akan bisa mengatasi perkara-perkara kesemrawutan dan kecentangprenangan yang serba memusingkan dan mengesalkan di kota saya, di provinsi saya.

Mereka, misalnya, tidak bisa mengatasi kemacetan di ruas-ruas jalan di Medan. Tidak bisa mengatasi banjir dan pemadaman listrik yang berlarut-larut, atau menertibkan pungutan- pungutan liar, menertibkan premanisme dan praktik-praktik percaloan, atau menekan angka peredaran narkotika atau menumpas perampok dan begal-begal, dan sebagainya dan sebagainya. Mereka akan bekerja untuk warga Jakarta, bukan warga Medan (dan Sumatera Utara pada umumnya).

Namun saya akan menonton debat ini. Kenapa? Saya ingin menonton Agus Yudhoyono, punawirawan mayor anaknya Pak SBY. Bukan lantaran saya mengidolakan beliau. Terus terang, dibanding beliau, saya lebih ngefans sama Annisa Pohan, istrinya, yang sebelum jadi anggota "Keluarga Cikeas" adalah model yang punya rambut bagus sekali.

Pengakuan atas kualitas rambut Annisa ini pun sahih. Tahun 2001, atau empat tahun sebelum dia menikah dengan Agus, Annisa terpilih sebagai Gadis Tiara Sunsilk, yang sudah barang tentu sekaligus didapuk sebagai bintang iklannya. Dari Sunsilk, tahun 2008, dia pindah ke Pantene dan bertahan sampai tiga tahun kemudian.

Bahwa Annisa sekarang kembali sering muncul di televisi mendampingi Agus blusukan menemui rakyat Jakarta, bukanlah alasan kenapa saya ingin menonton Agus. Lantas apa? Saya penasaran pada program-programnya.

Agus tidak muncul pada dua debat kandidat Gubernur Jakarta yang digelar Net TV (9 Desember 2016) dan  Kompas TV  (Program Rosi, 15 Desember 2016) dengan dalih debat-debat ini tak resmi. Demikian pula di acara serupa yang sebelumnya digelar Metro TV (program Mata Najwa, 26 November 2016) dan UIN Syarif Hidayatullah (5 Desember 2016), atau di TV One (16 Desember 2016). Agus (dan wakilnya Sylviana Murni), menegaskan bahwa mereka hanya akan hadir pada debat resmi yang digelar KPU.

Dalih yang saya kira sama sekali tidak keliru. Sangat bisa dibenarkan. Sebab memang hanya debat yang digelar KPU yang berkategori wajib. Artinya mesti dihadiri karena merupakan bagian dari proses pemilihan. Sedangkan debat di Net TV , Kompas TV, Metro TV, UIN Syarif Hidayatullah, dan TV One, hukumnya tidak wajib. Boleh dihadiri boleh tidak. Ketidakhadiran tak membuat "nilai" kontestan di mata KPU berkurang.

Dari sinilah rasa penasaran tadi mencuat. Ahok dan Anies telah memapar (sebagian) program mereka di debat-debat tersebut. Belum terang dan jelas, namun setidaknya sudah ada gambaran. Agus Yudhoyono tidak. Sampai sejauh ini, program-program Agus, yang disampaikannya dalam tiap aksi blusukan atau di forum-forum yang digelar tim kampanyenya, masih kabur. Beberapa di antaranya, saking kaburnya, bahkan terasa absurd.

Dari semua program Agus, saya benar-benar penasaran pada dua hal. Pertama, kota yang mengapung. Agus mengedepankannya sebagai solusi mengatasi banjir di Jakarta, plus menghindarkan penggusuran warga di kawasan jalur hijau sungai.

Saya penasaran bagaimana wujud kota terapung ini? Apakah seperti Amsterdam yang diwujudkan lewat pembangunan benteng dan kanal-kanal untuk menghempang air laut? Atau seperti Venice (Venesia) yang benar-benar berada di tengah-tengah air? Saya berharap Agus menjelaskannya pada debat nanti. Menjelaskannya sampai terang-benderang sehingga tak menjadi fitnah yang berlarut-larut pada dirinya.

AHYEEEE1
AHYEEEE1

Kedua tentang peningkatan keamanan dan ketertiban. Agus menyebut neighborhood watch sebagai jawaban. Mahluk asing apakah ini? Saya sempat menelusur lewat google dan menemukan defenisi ini: one of the oldest and most effective crime prevention programs, bringing citizens together with law enforcement to deter crime and make communities safer.

Defenisi yang tidak terlalu asing. Bahkan sebaliknya, dekat dan akrab dengan kita. Menjadikan masyarakat (warga) bekerjasama dan sama-sama bekerja untuk menjaga keamanan di lingkungan masing-masing. Bukankah ini sama dengan metode yang sudah lama sekali kita kenal sebagai Sistem Keamanan Lingkungan alias Siskamling? Kita biasa pula menyebutnya dengan istilah yang lebih umum, yakni ronda atau jaga malam.

Inikah yang dimaksudkan Agus? Sekiranya benar, saya sungguh berharap dia bisa memberikan paparan yang merujuk pada pembaruan. Bukan sekadar mengganti Siskamling atawa ronda alias jaga malam dengan neighborhood watch supaya kedengaran lebih modern dan canggih.

Sebenarnya ada hal ketiga yang membuat saya ingin menonton Agus Yudhoyono. Bukan Annisa Pohan. Melainkan Ibu Ani. Saya sudah lama tak melihat Ibu Ani. Saya ingin melihat keanggunannya saat memotret dengan kameranya yang canggih itu. Mudah-mudahan beliau hadir.(t agus khaidir)

Sumber: Tribun Medan
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved