Breaking News:

Ngopi Sore

Masih Terkenang Ira Koesno

Satu situasi yang boleh dibilang luar biasa mengingat debat ketiga pasangan kandidat melahirkan amunisi berat untuk dibawa ke panggung pascadebat.

Penulis: T. Agus Khaidir | Editor: T. Agus Khaidir
KOMPAS IMAGES/KRISTIANTO PURNOMO
PEMBAWA acara Ira Koesno menjadi moderator debat perdana calon gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta 2017 yang diselenggarakan Komisi Pemilihan Umum Provinsi DKI Jakarta di Hotel Bidakara, Jakarta, Jumat (13/1/2017). Dalam debat pertama kali ini KPU DKI Jakarta mengangkat tiga isu, yakni sosial-ekonomi, pendidikan-kesehatan, dan lingkungan-transportasi. 

Tentu saja anomali ini tidak berlaku bagi para petempur garis keras. Dalam hal ini perlu digarisbawahi bahwa pada dasarnya pertempuran tidak berlangsung tiga arah. Petempur bisa dipisahkan ke dalam dua bagian saja. Sebab memang sesungguhnya tidak pernah ada pro Agus dan pro Anies yang militan. Yang ada hanya pro Ahok yang militan, yang secara nyaris terus-menerus berhadapan dengan kontra Ahok yang juga tiada kalah militan.

Para kontra ini ada yang seolah-olah pro Agus dan ada pula yang seakan-akan pro Anies. Padahal tidak. Mereka cuma orang-orang yang bergabung membentuk kelompok seolah-olah dan seakan-akan lantaran kebencian yang sama. Kebencian terhadap Ahok --entah karena mulut nyablaknya, kebijakan-kebijakannya, sukunya, atau agamanya.

IRA Koesno
IRA Koesno

Syukurlah, keberadaan Ira Koesno, setidak-tidaknya membuat pertempuran para pro dan kontra Ahok yang militan ini terlokalisir. Ibarat Bharatayudha perang mereka hanya berlangsung di Padang Kurusetra, tidak merembet kemana-mana. Kaum-kaum oposan, suporter-suporter karbitan, labil, unyu-unyu dan menye-menye, yang selama ini ikut meramaikan pertempuran dengan militansi setipis kulit bawang dan kemampuan berdebat yang serba menyedihkan, memilih untuk sekadar menyela sembari riuh mempercakapkan Ira.

Namun sampai di sini saya justru khawatir. Ada satu kecenderungan yang sangat tak asyik di Indonesia. Yakni kelatahan. Satu kesuksesan akan segera diikuti oleh upaya untuk mengekorinya, dengan cara yang kurang lebih sama.

Saya cuma berharap, kesuksesan Ira Koesno meredam gejolak dan kegaduhan panggung pascadebat tak lantas membuat pengusul dan pemilihnya berpikir dan berkesimpulan bahwa formula paling tepat untuk mengalihkan fokus perhatian adalah perempuan cantik dan populer.

Sebab jika demikian, saya khawatir, mereka justru akan melakukan blunder. Kalau Dian Sastro masih bolehlah. Tapi apa tidak jadi celaka, misalnya, apabila di panggung debat kedua mereka memilih Luna Maya atau Cita Citata atau Mulan Jameela.(t agus khaidir)

Sumber: Tribun Medan
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved