Paris Saint Germain vs Barcelona

Mimpi Buruk Emery

Unai Emery punya rekor buruk saat menghadapi Barcelona. Bahkan boleh dibilang sangat buruk. Klub yang dilatihnya hanya menang satu kali dari 23 laga.

Tayang:
Penulis: T. Agus Khaidir | Editor: T. Agus Khaidir
AFP PHOTO/PHILIPPE DESMAZES
UNAI Emery 

WAJAH semringah Unai Emery seketika berubah tatkala reporter yang mewawancarainya bertanya tentang pertandingan hari Selasa. Padahal sebelumnya dia begitu bersemangat. Paris Saint Germain (PSG) baru saja menghempaskan Girondins de Bordeaux.

Tak tanggung, di kandang lawan, Nouveau Stade de Bordeaux, PSG menang telak tiga gol tanpa balas. Hasil yang mendongkrak posisi PSG di klasemen sementara Ligue 1. PSG naik ke peringkat dua, menggeser Nice.

Namun kegembiraannya sirna setelah reporter bertanya tentang pertandingan hari Selasa. Pertandingan babak knock out pertama, babak 16 besar Liga Champions. Selasa, 14 Februari (Rabu dinihari waktu Indonesia), di Parc des Princes, PSG akan bentrok kontra Barcelona.

"They will be different matches because Bordeaux and Barcelona are different teams," kata Emery seperti dikutip ESPN.

Kalimat yang di satu sisi diplomatis. Kalimat yang memang tak perlu didebat sebab sudah barang tentu Bordeaux tdak dapat dibandingkan dengan Barcelona. Jauh di bumi jauh di langit. Barcelona klub kaya raya dan amat tangguh pula secara teknis. Mereka memiliki pemain-pemain terbaik dunia di setiap lini.

Sedangkan Bordeaux sekadar klub elite di Perancis. Itu pun tidak selalu berada di jajaran papan atas. Dalam beberapa tahun terakhir, Bordeux tenggelam sepenuhnya di bawah kedigdayaan PSG. Di Liga Champions, pencapaian tertinggi klub ini adalah semifinalis musim 1984-1985.

Di lain sisi, kalimat 'Bordeaux and Barcelona are different teams', bisa dimaknai berbeda. Kalimat yang menggambarkan sikap Unai Emery dalam menghadapi laga. Dia kurang percaya diri. Kenapa?

Unai Emery punya rekor buruk. Bahkan boleh dibilang sangat buruk. Sebelum membesut PSG, Emery lama berkutat di Liga Spanyol. Dia melatih tiga klub: Almeria (2006-2008), Valencia (2008-2012), dan Sevilla (2013-2016). Di dua klub terakhir dia mencatat sukses. Terutama Sevilla yang dibawanya menjuarai Europa League tiga musim beruntun.

Sayangnya segenap kecemerlangan ini lesap di hadapan Barcelona. Emery mendadak jadi medioker. Barcelona adalah mimpi buruk baginya. Total 23 kali Emery menghadapi Barcelona di berbagai kompetisi, dan dua hanya bisa menang satu kali. Dan ini terjadi tatkala Lionel Messi tidak bermain. Messi, le cauchemar d'Emery, tulis koran olahraga Perancis, L'Equipe.

LIONEL Messi
LIONEL Messi (AFP PHOTO/CESAR MANSO)

Begitulah Messi menjadi "hantu" dalam mimpi buruk Unai Emery. Dari 21 laga di mana Messi bermain, gawang klub-klub besutan Emery dikoyaknya sebanyak 25 kali. Masing-masing satu ke gawang Almeria, sembilan ke gawang Valencia dan 11 ke gawang Sevilla. Empat gol lain dijebloskan Messi ke gawang Spartak Moskow, klub yang sempat ditangani Emery selama enam bulan di tahun 2012.

Maka memang wajarlah kiranya jika Emery memilih untuk tidak melontar sesumbar. Ini persoalan psikologis. Bukan lagi teknis. Sebab jika kualitas teknis jadi ukuran, jelas, PSG tidak buruk-buruk amat dibanding Barcelona. PSG juga punya pemain kelas dunia di tiap lini.

Di depan, misalnya. Angel Di Maria, Edinson Cavani, dan Lucas Moura tak tertinggal jauh dari trio MSN. Pula demikian di lini tengah dan belakang. Banyak nama-nama jaminan mutu. Dan seperti Barcelona, PSG juga bermain dengan formasi menyerang yang agresif, 4-3-3.

Namun sekali lagi persoalannya tidak melulu teknis. Dalam hal Unai Emery, persoalannya adalah psikis. Tatkala rekor jumlah kekalahan berjarak sangat jauh dari catatan kemenangan, memang menjadi sangat tak mudah bagi bagi pelatih manapun untuk melepaskan diri dari bayang-bayang kekhawatiran. Satu kondisi yang pasti akan berpengaruh pada strategi yang akan diterapkannya.

"Kami mempersiapkan diri untuk dua pertandingan. Kami tahu seperti apa kekuatan mereka dan saya kira peluang kami tetap terbuka. Kami mampu melakukannya," kata Emery pada As.

Kalimat yang sedikit lebih optimistis. Apakah Emery akan menitahkan pasukannya untuk menyerang, menggempur habis pertahanan Barcelona yang ditinggal Javier Mascherano?

Formasi 4-3-3 adalah formasi menyerang. Filosofi bermain PSG, terutama sejak era Carlo Ancelotti, juga menyerang. Pun kecenderungan Emery. Di Valencia dan Sevilla, dia menerapkan permainan menyerang. Nyaris secara konstan. Bahkan saat berhadapan dengan klub-klub level atas semacam Barcelona atau Real Madrid.

Masalahnya, hasil penerapan filosofi ini amatlah buruk. Real Madrid memang beberapa kali bisa disulitkan. Bisa dikalahkan. Akan tetapi Barcelona tidak. Filosofi menyerang Emery tak cukup kuat untuk meruntuhkan soliditas Tiki Taka. Permainan terbuka justru menjadi bumerang karena pada celah-celah yang terbuka, para pemain Barcelona dapat masuk untuk menghujamkan tikaman mematikan.

Bumerang seperti ini bisa dihindarkan apabila lawan-lawan Barcelona memiliki lini tengah dan belakang yang juga solid. Memiliki pemain-pemain yang bisa cepat menutup celah dan berani bertarung. Terutama dalam mengadang dan menghentikan pergerakan Messi, Neymar, Luis Suarez, dan Andres Iniesta. Meleset sedikit saja akan jadi petaka.

PEMAIN-pemain PSG berlatih jelang menghadapi Barcelona di putaran pertama babak 16 Besar Liga Champions 2016-2017, di Paris, dinihari nanti.
PEMAIN-pemain PSG berlatih jelang menghadapi Barcelona di putaran pertama babak 16 Besar Liga Champions 2016-2017, di Paris, dinihari nanti. (AFP PHOTO/PHILIPPE LOPEZ)

PSG tidak memiliki kemampuan ini. Lini tengah dan belakang mereka terlalu stylish. Rapat tapi kurang ngotot sehingga gampang roboh. Dari Ancelotti, ke Laurent Blanc, sampai sekarang, PSG belum punya solusi.
Marcos Aoas Correa alias Marquinhos, sebelas dua belas dengan David Luiz. Walau sama-sama berkebangsaan Brasil, koneksi dan koordinasinya dengan Thiago Silva masih lemah. Mereka boleh tangguh di Ligue 1. Akan tetapi di Eropa kualitas kolaborasi mereka tak bisa dikatakan istimewa. Di fase grup, gawang PSG dibobol tujuh kali dalam enam laga.

Di tengah, mereka juga tidak memiliki gelandang jangkar yang betul-betul "menggigit". Gelandang yang siap jungkir balik, kalau perlu bermain kotor. Masa keemasan Thiago Motta sudah lewat. Sedangkan Grzegorz Krychowiak belum menemukan sentuhan terbaiknya. Dan lebih sial bagi PSG, di Parc des Princes, dinihari nanti keduanya harus absen karena cedera.

Maka begitulah. Unai Emery memang harus betul-betul cermat dan berhati-hati dalam menurunkan strategi. Jika tidak, mimpi buruknya bakal semakin panjang.(t agus khaidir)

Sumber: Tribun Medan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved