Arsenal vs Bayen Munchen
Pintu Keluar Monsieur Wenger
Kesabaran sudah sampai pada batas dan suporter Arsenal telah menyampaikan kekesalan mereka tanpa sungkan.
Penulis: T. Agus Khaidir | Editor: T. Agus Khaidir
KESABARAN ada batasnya dan suporter Arsenal sekarang sudah sampai pada batas itu. Pada laga kontra Liverpool di Anfield, di mana Arsenal kalah 1-3, puluhan suporter mengacung- acungkan poster bertuliskan 'Wenger Out'.
Di luar lapangan, di media sosial, seruan serupa melesat-lesat lebih dahsyat. Seluruhnya disampaikan dengan kalimat yang menyiratkan kemarahan. Arsenal kalah empat kali dalam lima laga terakhir. Namun yang paling membuat suporter Arsenal meledak adalah pilihan strategi Wenger yang dinilai ajaib.
Pertandingan kontra Liverpool jelas sangat penting. Pertandingan yang bisa sangat berpengaruh pada potensi Arsenal, apakah dapat merangsek ke papan atas dan kembali ke Liga Champions musim depan, atau sebaliknya, terlempar ke Liga Europa. Manchester United yang sebelumnya telah tertinggal jauh sekarang sedang kencang. Melaju 17 pertandingan tanpa sekalipun menelan kekalahan.
Namun Wenger justru melakukan blunder. Dia mengeluarkan Alexis Sanchez dari starting line up dan memilih menurunkan Olivier Giroud. Dalam formasi 4-2-3-1, Giroud dibantu Danny Welbeck yang bergerak dari sayap kiri untuk merangsek ke kotak penalti. Alasan Wenger, dia ingin memainkan bola lebih jauh ke dalam kotak 16 Liverpool dan untuk itu dia membutuhkan pemain yang dapat memenangkan duel-duel di udara.
"Sanchez pemain yang hebat dan sangat cepat. Namun Liverpool punya kelemahan di udara dan kami punya pemain yang bagus di sana. Kami ingin mengambil kesempatan itu," kata Wenger pada goal usai laga.
Pertimbangan yang sesungguhnya sangat logis. Giroud memang pemain yang tangguh dalam duel bola atas. Ini fakta yang tak dapat dimungkiri. Di musim ini, sejumlah golnya lewat sundulan telah memberi poin untuk Arsenal. Paling dikenang barangkali gol ke gawang Manchester United di Old Trafford, 19 November 2016. Sundulan di menit 88 itu menyelamatkan Arsenal dari kekalahan.
Sekali lagi, pertimbangan Wenger menempatkan Giroud dibantu Welbeck yang piawai menanduk bola merupakan hal yang logis. Akan tetapi dia barangkali luput, atau jangan-jangan tidak memperkirakan, bahwa Jurgen Klopp, pelatih Liverpool, telah mengantisipasi strategi ini.
Klopp menurunkan Joel Andre Job Matip dan Ragnar Klavan di jantung pertahanan mereka. Dua pemain bertubuh tegap tinggi menjulang. Matip bertinggi 195 cm sedangkan Klavan 187 cm. Lebih dari cukup untuk menandingi Giroud yang memiliki tinggi 192 cm dan Welbeck yang bertinggi badan 185 cm.
Hasilnya bisa ditebak. Giroud dan Welbeck mati kutu. Terlebih-lebih pasokan bola dari sisi kanan dan kiri lapangan tersendat. Sisi kanan Arsenal yang ditempati Alex Oxlade-Chamberlain dan Hector Bellerin gagal menembus James Milner. Di kiri, Nacho Monreal yang tidak mendapatkan bantuan maksimal dari Welbeck yang bermain lebih ke dalam, tidak berdaya menghadapi Nathaniel Clyne.
Dan tanpa Mesut Ozil, lini tengah Arsenal hanya lelucon yang jadi bulan-bulanan Liverpool. Jarang sekali (untuk tidak menyebutnya tidak ada) bola direct (diumpan secara langsung) kepada Giroud dan Welbeck, karena tiap-tiap serangan yang dibangun sangat mudah dipatahkan oleh Georginio Wijnaldum, Emre Can, dan Adam Lallana yang bermain penuh tenaga.
"Saya sama sekali tidak mengerti. Monsieur ('Tuan' dalam Bahasa Perancis) Wenger adalah peracik strategi yang hebat dan brilian. Tapi saya benar-benar tidak mengerti (atas keputusannya membangkucadangkan Alexis Sanchez). Saya bingung. Saya tak melihat alasan yang mengharuskan dia (Sanchez) berada di sana (bangku cadangan)," kata Ian Wright, mantan striker Arsenal era 1980-1990an pada ESPN.
Pendapat yang lebih keras datang dari legenda Arsenal yang lain, Martin Keown. "Dia (Sanchez) pemain terbaik di Arsenal sejauh ini. Dia tidak hanya bisa mencetak gol namun memiliki pergerakan, sentuhan, umpan, yang dapat mengubah permainan. Ternyata dia tidak bermain. Dia datang dari bangku cadangan. Saya benar-benar tidak bisa mengerti," ujarnya.
Keown yang sekarang menjadi analis sepakbola menilai pilihan menurunkan Giroud sebagai penyerang tunggal adalah pilihan yang keliru. Terutama dalam kondisi tim bermain tanpa Ozil.
"Arsenal butuh kreativitas dan Monsieur Wenger justru menepikan pemain yang bisa memberikannya. Bermain tanpa kreativitas dan tanpa kecepatan menghadapi Liverpool sama saja dengan bunuh diri. Saya tidak dapat mengingat kesalahan strategi yang lebih buruk dari ini," katanya.
Kekalahan yang berbuntut kemarahan suporter memang bukan kali pertama terjadi di era rezim Arsene Wenger. Setidaknya sejak tiga musim terakhir suara-suara sumbang seperti ini sudah meluncur deras. Akan tetapi memang belum pernah sedahsyat sekarang. Belum pernah seterus-terang sekarang. Suporter telah menyampaikan kekesalan mereka tanpa sungkan. Tanpa terbentengi lagi oleh perasaan segan yang bertitik tolak pada jasa-jasa Arsene Wenger untuk Arsenal.
Para suporter agaknya memang telah melupakan jasa itu. Kenangan-kenangan kejayaan pupus oleh kedongkolan karena harapan-harapan yang terus-menerus tergerus. Gelar juara liga semakin jauh. Tropi Liga Champions yang lagi-lagi lepas dari genggaman.
Sebenarnya tropi ini belum benar-benar lepas. Masih ada harapan. Namun bagi suporter Arsenal, harapan ini sekadar semu. Harapan yang sangat boleh jadi mustahil terwujud. Harapan yang baru bisa menjadi kenyataan apabila Tuhan menurunkan keajaiban.
Bagaimana tidak. Putaran kedua babak 16 besar Liga Champions 2016-2017 memang dimainkan di Emirates Stadium, Rabu (8/3) dinihari nanti. Namun bola akan bergulir dari titik tengah dalam posisi yang sangat tidak menguntungkan bagi Arsenal. Mereka memulai pertandingan dengan selisih empat gol. Di Alianz Arena, 15 Februari lalu, Bayern Munchen membantai Arsenal 5-1.
Sepanjang sejarah kejuaraan, hanya ada satu klub yang mampu membalikkan kekalahan jadi kemenangan pascatertinggal sedemikian jauh. Di musim 1985-1986, era sebelum Liga Champions, Real Madrid kalah 1-5 di putaran pertama kontra VfL Borussia Monchengladbach. Di putaran kedua yang digelar di Santiago Bernabeau, Madrid menang 4-0 dan melangkah ke fase selanjutnya.
Setelah era Liga Champions bergulir tak ada klub yang mampu mengulang pencapaian ini. Satu- satunya yang mendekati adalah Deportivo La Coruna. Musim 2003-2004, mereka membalikkan kekalahan 1-4 atas AC Milan di San Siro menjadi kemenangan 4-0 di Estadio Municipal de Riazor.
Di tahun-tahun berikutnya pencapaian ini menjadi semacam tolok ukur bagi klub-klub yang tertinggal jauh. Tepatnya sebagai upaya untuk menghibur diri. Upaya untuk tetap menjaga keoptimistisan. Bahwa jika La Coruna bisa mengapa mereka tidak. Sayangnya, memang tidak bisa. Tidak ada yang bisa.
Di musim 2012-2013, dua laga semifinal menghasilkan skor yang jomplang. Di Dortmund, Borussia memberangus Real Madrid 4-1. Berjarak 473 km, di Munich, Bayern menghancurkan Barcelona empat gol tanpa balas. Putaran kedua, Madrid hanya berhasil menang 2-0 sedangkan Barcelona malah semakin hancur. Gol Arjen Robben dan Thomas Muller, ditambah bunuh diri Gerard Pique, mengantarkan Barcelona pada kekalahan (dalam agregat) terburuk sepanjang sejarah keikutsertaan mereka di Liga Champions.
Di sinilah letak persoalan yang membuat suporter-suporter Arsenal terpaksa memandang laga dinihari nanti dengan tatap pesimistis. Bagaimana bisa mengulang pencapaian Real Madrid jika untuk menyamai rekor Deportivo La Coruna saja belum ada yang mampu.
Bukan tak mungkin, memang, namun mustahil. Atau katakanlah hampir mustahil. Melesakkan empat gol tanpa balas ke gawang kiper sekelas Manuel Neuer yang dibentengi bek-bek kelas satu, jelas bukan perkara main-main. Bahkan dalam situasi internal Arsenal yang "aman tenteram" sekali pun tetap akan sangat sulit tercapai. Kecuali, seperti disebut sebelumnya, Tuhan berkehendak dan menurunkan keajaibannya.
Bagi Monseiur Wenger, laga ini berarti krusial. Bayern Munchen adalah pertahanannya yang terakhir. Kekalahan membuat pintu keluar Emirates terbuka lebih lebar. Dan suporter-suporter yang marah itu akan ramai-ramai mendorong punggungnya.(t agus khaidir)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/arsenals4_20170307_144355.jpg)