Dua Tahun Memimpin Indonesia, Jokowi Dinilai Ugal-ugalan, Ini Musababnya

"Dua tahun pertama, Jokowi ini ugal-ugalan. Growth turun, tapi (target penerimaan) pajak dinaikkan luar biasa,"

Dua Tahun Memimpin Indonesia, Jokowi Dinilai Ugal-ugalan, Ini Musababnya
KOMPAS.com / GARRY ANDREW LOTULUNG
Presiden Joko Widodo usai memberikan kata sambutan di Gedung Bank Indonesia, Senin (19/12/2016). Bank Indonesia meluncurkan uang NKRI baru dengan menampilkan 12 pahlawan nasional, Adapun uang desain baru yang diluncurkan hari ini mencakup tujuh pecahan uang rupiah kertas dan empat pecahan uang rupiah logam. (KOMPAS.com / GARRY ANDREW LOTULUNG) 

TRIBUN-MEDAN.com - Ekonom Universitas Indonesia (UI) Faisal Basri menilai, dua tahun pertama pemerintah Jokowi-JK, perekonomian dijalankan secara ugal-ugalan.

"Dua tahun pertama, Jokowi ini ugal-ugalan. Growth turun, tapi (target penerimaan) pajak dinaikkan luar biasa," kata Faisal dalam diskusi bertajuk Indonesia's Economic Outlook 2017, di Jakarta, Selasa (7/3/2017) malam.

Faisal Basri
Faisal Basri ()

Faisal mengatakan, pada tahun 2015 pemerintah mematok target penerimaan pajak APBN-P sebesar Rp 1.489 triliun atau 29,8 persen dari realisasi tahun sebelumnya yang sebesar Rp 1.147 triliun.

Baca: Mengurai Kisah Cinta Putra Bungsu Amien Rais, Lamaran saat Sang Pujaan Hati masih Pacari Pria Lain

Baca: Alamak, di Dermaga Sepi Mobil Dinas DPRD Goyang-goyang, Warga Melongok Ada Apa Gerangan?

Baca: Nikita Mirzani Dicecar usai Berpose Angkat Satu Kaki dan Tutupi Bagian Sensitif dengan Tangan

Target yang hampir mencapai 30 persen itu, menurut Faisal, mustahil direalisasikan mengingat perekonomian masih melambat.

Realisasi pertumbuhan ekonomi Indonesia 2014 hanya 5,02 persen, melambat dibandingkan tahun 2013 yang mencapai 5,58 persen.

Bahkan kalaupun dilakukan extra effort, ia memperkirakan penerimaan pajak hanya tumbuh sekitar 11 persen.

Pada tahun 2016 pemerintah kembali mematok target penerimaan pajak APBN-P sebesar Rp 1.539 triliun atau 24,11 persen dari realisasi tahun sebelumnya yang sebesar Rp 1.240 triliun.

Halaman
12
Editor: Randy P.F Hutagaol
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved