Breaking News:

Ngopi Sore

Pilih Firaun atau Musa. . . Di Jakarta!

Persis seperti di putaran pertama, semangat kampanye di putaran ini tidak berbeda: pro Ahok dan anti Ahok.

Penulis: T. Agus Khaidir | Editor: T. Agus Khaidir
ANTARA FOTO/AKBAR NUGROHO GUMAY
BASUKI Tjahaja Purnama 

Barangkali pilihannya adalah bersikap lebih pasif. Sejarah tetap sebagaimana telah dituliskan dan kita mengandaikan diri kembali ke masa itu hanya untuk memilih dan pilihannya adalah Firaun atau Musa.

Begitulah, sekali lagi tidak ada masalah. Pengandaian ini baru menjadi masalah saat dibawa dan didekatkan pada Pilkada Jakarta. Bukan sekadar melintas waktu. Pengandaian ini juga dilesatkan melintas batas-batas geografi dan kultural. Mesir dan Jakarta abad 21.

Dan satu pertanyaan terpenting. Di Pilkada Jakarta, siapa Firaun siapa Musa? Apakah Ahok dapat merepresentasikan Firaun? Kapan kali dia pernah mengucapkan kalimat sebagaimana pernah diucap Firaun yang dicatat dalam Al-Qashshas ayat 38: "Wahai pembesar kaumku, aku tidak mengetahui Tuhan bagimu selain aku"?

Sejauh ini belum pernah. Justru, entah disadari entah tidak, justru tidak sedikit dari para pengandai dan penuding (dan pengikut-pengikutnya) itu yang berlaku seperti Firaun. Sebuah hipokrisi. Bahkan ultrahipokrisi. Lain di mulut lain di perbuatan. Satu kecenderungan yang entah sadar entah tidak pula telah melahirkan Firaun-compulsive disorder, "penyakit kejiwaan" yang memang sangat sulit disembuhkan.(t agus khaidir)

Sumber: Tribun Medan
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved