Breaking News:

Tambah Negara Tujuan Ekspor, Kelapa Sawit Indonesia Makin Diminati

erdasakan data Badan Pusat Statistik (BPS) nilai ekspor Indonesia mengalami peningkatan.

Tribun Medan/ Ryan Juskal
Sekretaris Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Sumut, Timbas Ginting saat diwawancarai di Lantai II Gedung Farmasi USU, Medan, Kamis (25/2/2016). 

Laporan Wartawan Tribun Medan, Ryan Achdiral Juskal

TRIBUN-MEDAN.COM, MEDAN - Berdasakan data Badan Pusat Statistik (BPS) nilai ekspor Indonesia mengalami peningkatan.

Hal tersebut pun mengakibatkan neraca perdagangan pada Februari 2017 surplus sebesar 1,32 miliar Dolar Amerika Serikat. Satu di antaranya yang mendorong peningkatannya ialah kelapa sawit.

Sekretaris Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Sumut, Timbas Ginting mengatakan, awal tahun 2017 ini, perdagangan kelapa sawit Indonesia semakin membaik.

Hal tersebut tampak dari bertambahnya nilai ekspor dengan tambahnya negara tujuan ekspor.

Baca: Menteri Pertanian Sambangi KPK, Bahas Pengawasan Dana Peremajaan Lahan Sawit

Baca: Indonesia Perkuat Citra Sawit di Eropa

Baca: Gapki Yakin UU Kelapa Sawit Bisa Hempang Kampanye Hitam dan Beri Perlindungan

"Semakin membaik. Karena memang ekspor untuk CPO kita dari hulu ke hilir, semakin tambah permintaan dari negara-negara tujuan. Ada negara baru yang meminta, seperti Pakistan. Karena selama ini kita punya rancangan misi untuk menambah negara tujuan ekspor," katanya Kamis (16/3/2017).

Dikatakannya, sejauh ini memang parlemen di negara-negara Eropa ada yang melakukan pembatasan untuk impor ke Indonesia. Namun tetap saja permintaan dunia usaha di sana masih tinggi.

"Walaupun parlemen di negara Eropa itu membatasi, tapi yang di bawahnya tetap meminta. Kalau di Eropa itu sekitar 15 persennya. Afrika dan Amerika itu sekitar 3 persenan. Tapi 80 persen lebih lagi tetap di Asia," ungkapnya.

Sampai saat ini, lanjut Timbas, Negara terbesar yang menjadi tujuan ekspor hasil kelapa sawit Indonesia masih didominasi China dan India.

"Asia tetap terbesar, China dan India paling banyak. Tapi tetap karena adanya black campaign itu kita mendesak agar kita tetap mencari pasar baru" terangnya.

Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved