Ngopi Sore

Jokowi, Pabrik Semen, dan Nyawa Seorang Ibu

Jika ada orang yang nekat menyiksa kakinya sendiri dengan cara mengerikan seperti itu, tentulah persoalannya gawat sekali.

Jokowi, Pabrik Semen, dan Nyawa Seorang Ibu
ANTARA FOTO/M AGUNG RAJASA
SEJUMLAH petani menyemen kaki saat melakukan aksi unjuk rasa di depan Istana Merdeka, Jakarta, Jumat (17/3). Mereka menolak pembangunan pabrik semen di Pegunungan Kendeng, Jawa Tengah, karena dinilai berdampak buruk pada lingkungan dan masyarakat sekitar. 

Sampai di sini persoalan sudah lebih terang. Mendirikan pabrik semen pada dasarnya bukan masalah. Semen adalah kebutuhan juga. Indonesia sekarang sedang menggiatkan pembangunan dan makin gencar pembangunan makin banyak pula semen yang diperlukan. Dengan kata lain, produksi memang harus ditingkatkan.

Sekali lagi tidak ada yang salah. Namun hal yang benar ini menjadi salah, bahkan sangat salah, tatkala pabrik didirikan di tempat yang tidak semestinya. Pabrik yang memunculkan gelombang protes ini didirikan di Gunung Watu Putih, yakni kawasan perbukitan batu kapur yang secara hukum telah ditetapkan sebagai Kawasan Lindung Geologi. Penetapannya dilakukan melalui Peraturan Daerah (Perda) Tata Ruang Kabupaten Rembang Nomor 14 tahun 2011.

Bukan cuma itu. Keputusan Presiden Nomor 26 tahun 2011 juga menetapkan Gunung Watuputih sebagai Cekungan Air Tanah (CAT) yang harus dilindungi.

Para pemrotes menyuarakan protes mereka secara elegan. Mereka tidak main kasar. Mereka menempuh jalur yang memang semestinya ditempuh. Mereka menghormati hukum dan sudah bolak-balik menang perkara di pengadilan. Akan tetapi, pihak yang diprotes, selalu saja punya siasat untuk berkelit. Celah demi celah dimanfaatkan untuk meneruskan proyek, antara lain dengan mengatasnamakan, atau malah meminjam pakai tangan-tangan kekuasaan.

Protes pertama diakhiri oleh janji Presiden Jokowi. Janji menyejukkan yang makin ke sini makin kabur sehingga membuat para petani Kendeng merasa harus menyiksa kaki mereka lagi. Dan sejauh ini sudah satu orang yang mati.(t agus khaidir)

Penulis: T. Agus Khaidir
Editor: T. Agus Khaidir
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved