Ngopi Sore

Jokowi, Pabrik Semen, dan Nyawa Seorang Ibu

Jika ada orang yang nekat menyiksa kakinya sendiri dengan cara mengerikan seperti itu, tentulah persoalannya gawat sekali.

Penulis: T. Agus Khaidir | Editor: T. Agus Khaidir
ANTARA FOTO/M AGUNG RAJASA
SEJUMLAH petani menyemen kaki saat melakukan aksi unjuk rasa di depan Istana Merdeka, Jakarta, Jumat (17/3). Mereka menolak pembangunan pabrik semen di Pegunungan Kendeng, Jawa Tengah, karena dinilai berdampak buruk pada lingkungan dan masyarakat sekitar. 

KABAR duka datang lewat tengah malam. Patmi, seorang perempuan, seorang ibu berusia 48, meninggal dunia. Siapa Patmi?

Anda yang tidak menonton televisi untuk sekadar melihat drama sontoloyo Raffi Ahmad, Nagita Slavina, dan Ayu Ting Ting, atau memelototi kecentilan-kecentilan tak berguna Nikita Mirzani, atau mengikuti perkembangan kasus perceraian Ustaz Al Habsi dengan istrinya lantaran disebut- sebut memiliki perempuan idaman lain selama enam tahun, pasti akan tahu.

Anda yang tak beraktivitas di media sosial hanya untuk pamer eksis, pasti akan tahu. Barangkali bukan Patmi sebagai pribadi sebab dia memang bukan publik figur. Dia cuma seorang petani warga desa di kawasan Pegunungan Kendeng, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Seorang di antara warga yang menolak pendirian pabrik semen di sana, dan penolakan ini mereka tunjukkan dengan cara yang sangat mengerikan: membenamkan kaki ke dalam adukan cor, semen bercampur pasir dan kerikil.

Mula-mula sepuluh orang. Lalu terus bertambah dari hari ke hari. Dari Kendeng mereka ke Jakarta, ke Istana Negara. Dengan kaki terbenam dalam adukan cor mereka duduk di seberang jalan depan istana. Berpanas berhujan. Menyampaikan aspirasi lewat orasi.

Di antara mereka ada Ibu Patmi. Hingga hari kematiannya yang mendadak (disebut dokter lantaran serangan jantung), Selasa, 21 Maret 2017 sekitar pukul 02.30, Patmi telah membenamkan kakinya dalam kotak kayu berisi adukan cor selama satu pekan.

Aksi cor kaki (dan tangan) ini bukan kali pertama terjadi. Pertengahan April 2016, tepatnya tanggal 12, sebanyak sembilan warga Kendeng juga melakukan aksi serupa. Sembilan perempuan yang sehari-hari bertani: Sukinah, Supini, Murtini, Surani, Kiyem, Ngadinah, Karsupi, Deni Yulianti, dan Rimabarwati. Mereka dijuluki Kartini-Kartini Kendeng. Ini merupakan aksi lanjutan dari sikap menolak pembangunan pabrik semen milik PT Semen Indonesia di Kendeng, yang diwujudkan lewat rangkaian unjuk rasa yang dilakukan secara maraton selama 664 hari sejak 1 Juni 2014.

Lalu, di mana sebenarnya letak masalah? Cor kaki jelas satu masalah. Anda pernah mengenakan sepatu yang satu ukuran lebih kecil dari ukuran Anda? Apa yang Anda rasakan? Sakit pastinya lantaran sendi-sendi yang terjepit dan aliran darah yang tak lancar. Padahal sepatu umumnya dibuat dari bahan yang lumayan empuk, entah kulit entah karet atau kain, bukan adukan semen, pasir dan kerikil.

Maka, jika ada orang yang nekat menyiksa kakinya sendiri dengan cara mengerikan seperti itu, tentulah persoalannya gawat. Terlebih-lebih kenekatan ini ternyata dilakukan berulang. Sekali saja sudah sangat mengerikan, kok, ya, berani-beraninya melakukan lagi. Pasti masalahnya gawat sekali.

Masalah apa? Kelanjutan hidup! Ini harus digarisbawahi. Orang-orang yang menolak pembangunan pabrik semen memang orang-orang kampung. Para petani kampung yang seumur hidupnya barangkali tidak pernah nongkrong di Starbuck. Namun mereka sama sekali bukan orang yang kampungan. Bukan orang udik yang menolak pembangunan dan tidak ingin maju.

Pendirian pabrik semen yang sudah barang tentu akan diekori oleh penambangan di kawasan karts, sangat potensial merusak lingkungan. Terutama sekali menggerus sumber air. Padahal, nyaris seluruh warga di seputaran kawasan Pegunungan Kendeng menggantungkan hajat hidup mereka pada pertanian. Bukan cuma mereka. Petani-petani di Rembang, Pati, Blora, dan Grobogan, juga bergantung pada sumber air yang sama.

Sampai di sini persoalan sudah lebih terang. Mendirikan pabrik semen pada dasarnya bukan masalah. Semen adalah kebutuhan juga. Indonesia sekarang sedang menggiatkan pembangunan dan makin gencar pembangunan makin banyak pula semen yang diperlukan. Dengan kata lain, produksi memang harus ditingkatkan.

Sekali lagi tidak ada yang salah. Namun hal yang benar ini menjadi salah, bahkan sangat salah, tatkala pabrik didirikan di tempat yang tidak semestinya. Pabrik yang memunculkan gelombang protes ini didirikan di Gunung Watu Putih, yakni kawasan perbukitan batu kapur yang secara hukum telah ditetapkan sebagai Kawasan Lindung Geologi. Penetapannya dilakukan melalui Peraturan Daerah (Perda) Tata Ruang Kabupaten Rembang Nomor 14 tahun 2011.

Bukan cuma itu. Keputusan Presiden Nomor 26 tahun 2011 juga menetapkan Gunung Watuputih sebagai Cekungan Air Tanah (CAT) yang harus dilindungi.

Para pemrotes menyuarakan protes mereka secara elegan. Mereka tidak main kasar. Mereka menempuh jalur yang memang semestinya ditempuh. Mereka menghormati hukum dan sudah bolak-balik menang perkara di pengadilan. Akan tetapi, pihak yang diprotes, selalu saja punya siasat untuk berkelit. Celah demi celah dimanfaatkan untuk meneruskan proyek, antara lain dengan mengatasnamakan, atau malah meminjam pakai tangan-tangan kekuasaan.

Protes pertama diakhiri oleh janji Presiden Jokowi. Janji menyejukkan yang makin ke sini makin kabur sehingga membuat para petani Kendeng merasa harus menyiksa kaki mereka lagi. Dan sejauh ini sudah satu orang yang mati.(t agus khaidir)

Sumber: Tribun Medan
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved