Tapteng Persembahkan Drama Fragmen Satahi Saoloan

Sutradara sekaligus penulis naksah pertunjukan mengatakan, dirinya sengaja menampilkan kesenian semua etnis yang ada di Sibolga dan Tapteng.

Tapteng Persembahkan Drama Fragmen Satahi Saoloan
TRIBUN MEDAN/ ARJUNA BAKKARA
Pementasan drama musikalisasi di pagelaran seni budaya Tapteng di PRSU, Sabtu (1/4) malam. 

Laporan Wartawan Tribun Medan / Arjuna Bakkara

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng) mempersembahkan pagelaran seni dan budaya bertajuk Harmoni Sejuta Pesona di Pekan Raya Sumut 2017, Sabtu (1/4) malam. Pagelaran drama ini dimaksudkan untuk memperkokoh semangat Bhinneka Tunggal Ika warga Sumut.

Khairil E L Fauzi (50), sutradara sekaligus penulis naksah pertunjukan mengatakan, dirinya sengaja menampilkan kesenian semua etnis yang ada di Sibolga dan Tapteng. Sehingga, tetap mendukung moto Satahi Saoloan yang berarti seiya sekata.

"Semua etnis ada di sana, mulai dari pesisir, Toba, Mandailing, Minang, Jawa, Angkola, Aceh, Nias dan lainnya sengaja diperkenalkan," ujarnya.

Pria peraih juara pertama tingkat nasional sandiwara radio se-Indonesia ini menceritakan, sengaja menampilkan kesenian yang ada di sana secara keseluruhan. Sehingga berbeda dengan daerah lain, yang biasanya menampilkan secara konvensional atau pagelaran tunggal.

Pagelaran ini juga menceritakan kondisi Tapteng saat ini yang baru saja melaksanakan pilkada. Sehingga perlu adanya motivasi untuk mempersatukan dengan semangat kebersamaan, kesadaran, kepedulian di tengah masyarakatnya yang majemuk.

Pria yang juga Ketua Satu Dewan Kesenian Sibolga ini berharap, pesan-pesan yang disampaikan pada pagelaran ini bisa sampai ke penonton dan dipahami. Meskipun mungkin selama ini terdapat perbedaan pandangan politik, tapi harus tetap mengokohkan tujuan untuk memajukan Tapteng dan Sibolga.

Hal senada disampaikan Monica Mauliyandri, anggota Kesatuan Aksi Mahasiswa Sibolga (KAMISTA). Monica selaku Koordinator Tari dalam kegiatan ini menyebutkan, tujuan menampilkan tarian multi etnis ini ialah menggambarkan daerah Sibolga dan Tapteng yang penduduknya beragam, tetapi tetap saling merangkul.

Wanita lulusan Sendratari Unimed ini menceritakan, betapa indahnya Sibolga maupun Tapteng. Sekalipun suku dan agama majemuk di sana, tetapi tetap memiliki semangat kebhinnekaan.

"Karena di Tapteng itu, kami memiliki istilah Satahi Saoloan. Maknanya, walau kami beragam tetapi tetap pada tujuan yang sama," ujarnya.

Halaman
12
Penulis: Arjuna Bakkara
Editor: Irfan Azmi Silalahi
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved