Novrin Handayani Situmorang, Pencicip Kopi Profesional yang Enggak Suka Ngopi

Bernama lengkap Novrin Handayani Situmorang (26) seorang pencicip kopi (cupper) profesional bersertifikat internasional (Q-Grader) yang dikeluarkan.

Novrin Handayani Situmorang, Pencicip Kopi Profesional yang Enggak Suka Ngopi
Tribun Medan/Azis
Pencicip kopi (cupper) profesional, Novrin Handayani Situmorang. 

Kala itu ia justru malah ditawari sebagai asisten oleh temannya yang berprofesi sebagai cupper. Mulanya memang hanya sebagai asisten, tapi lama-kelamaan, Novrin ditawarkan sebagai cupper.

“Ceritanya dulu itu, aku kan punya teman kerjanya cupper dan dia butuh asisten. Setelah aku terima, ternyata ditawari pekerjaan lagi jadi cupper,” kata anak kedua dari empat bersaudara ini.

Ia mengaku minder karena memang buta sama sekali tentang kopi dan memang tak menyukai kopi untuk menerima pekerjaan itu. Ditambah lagi, ia dipaksa mau tak mau harus mencicipi kopi yang sudah merupakan bagian pekerjaannya.

“Awalnya aku nggak tertarik sama sekali karena mikir lucu kali kerjannya kok cicipin kopi. Dia menawarkan aku sampai tiga kali terus diimingi gaji lumayan dibanding kerjaan sebelumnya, barulah aku mau," tambahnya.

Karena tuntutan pekerjaan sebagai seorang cupper Novrin terus belajar. Butuh waktu setahun bagi dia belajar soal kopi hingga akhirnya memahami rasa kopi itu beragam.

Mulai dari herbals, cokelat, apricot, caramel, wine, berry dan banyak lagi.

Merasa telah lebih memahami kopi dari yang dulu tak tahu dan tak suka kopi, ia akhirnya mendapat kesempatan menimba ilmu Q-Grader, itu pun lewat jalan yang tidak disangka-sangka.

Tanpa persiapan apapun karena yg seharusnya berangkat ke Jakarta tahun 2014 silam adalah sang manajer, dia memutuskan menerima tawaran itu.

"Biayanya besar waktu mau sekolah itu. Kalau nggak lulus harus balikin separuh biaya, itu mental kacau karena ujiannya kan sulit. Tapi Alhamdulillah lulus juga di antara lima yang lulus dengan 24 peserta yang ikut.  Alhamdulillah lagi aku satu-satunya cewek yang lulus pada waktu itu. Pesertanya juga ada yang dari luar negeri, dua dari Singapura, satu India dan satu Amerika," bebernya.

Dia juga menceritakan, bahkan, sehari sebelum berangkat tes Q-Grader dia sempat berpikir mencari-cari alasan untuk membatalkan ikut serta, karena takut gagal dan merugikan perusahaan, mengingat biaya pendaftarannya saja mencapai Rp10 juta. 

Halaman
123
Penulis: Azis Husein Hasibuan
Editor: Arifin Al Alamudi
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved