Atletico Madrid vs Real Madrid
Zizou Sedang Bahagia
Kebahagiaan ini dapat membuat Zinedine Zidane lebih lega dan nyaman dalam menghadapi sisa pertandingan Real Madrid.
Penulis: T. Agus Khaidir | Editor: T. Agus Khaidir
AKHIR April lalu, Zinedine Zidane berbicara lantang di depan pers Perancis. Bukan tentang sepakbola. Hari itu, dia bicara politik. Tidak tanggung-tanggung. Zizou, sapaan populernya, meminta rakyat Perancis tidak memilih Marine Le Pen.
"Saya bukan pendukung utama Emmanuel Macron. Namun saya penentang Le Pen. Kita (rakyat Perancis), harus melakukan segala upaya untuk mencegahnya (ke kursi presiden)."
Kenapa Zizou menempatkan diri sebagai penentang La Pen? Ini berhubungan dengan sepakbola. Persisnya rasisme yang terus membayangi sepakbola Perancis, sampai sekarang.
Jelang 1998, jelang Piala Dunia yang digelar di Perancis, ayah Marine Le Pen, pendiri National Front Jean-Marie Le Pen, menjadi orang yang paling keras menyuarakan penolakan terhadap keberadaan pemain-pemain imigran di tubuh Les Bleus --julukan tim nasional Perancis. Menurut dia, hanya orang Perancis tulen yang boleh menjadi bagian dari skuat tim nasional.
Zidane, tentu saja, termasuk pemain yang ditembak Jean-Marie Le Pen. Bahkan sebenarnya dialah fokus tembakan. Zidane bukan cuma imigran. Dia datang dari keluarga muslim pula. Kedua orang tuanya, Ismail dan Malika, bermigrasi dari Aljazair di tahun 1953. Tujuh tahun di Saint-Denis, mereka pindah ke Marseille. Zidane lahir tahun 1972.
Kita tahu bagaimana akhirnya. Upaya Jean-Marie Le Pen tak berhasil. Aime Jacquet, pelatih Les Bleus, tetap membuka pintu bagi Zidane. Juga imigran-imigran lain seperti Youri Djorkaeff, Patrick Vieira, Marcel Desailly, Lilian Thuram, dan David Trezeguet. Dan Perancis memenangkan Piala Dunia untuk kali pertama setelah di final menekuk Brasil 3-0.
Akan tetapi, Jean-Marie Le Pen tidak berhenti. Dia mempersoalkan hal yang sama di tahun 2000. "Orang ini benar-benar mengerikan. Saya tidak habis pikir. Maka beruntunglah orang-orang Perancis tidak pernah memilihnya sebagai pemimpin," ucap Zidane.
"Dia tidak tahu apa-apa tentang Perancis. Presiden Perancis harus orang yang benar-benar paham segala sesuatu tentang bangsa ini," kata Lilian Thuram.
Zidane dan Thuram dan beberapa pemain tim nasional Perancis lain, termasuk pemain-pemain Perancis tulen, ganti menyerang Le Pen yang saat itu, di tahun 2002, mencalonkan diri sebagai presiden. Dan rakyat Perancis agaknya mendengarkan kata-kata bintang sepakbola mereka. Jean- Marie Le Pen kalah dari Jacques Chirac. Kalah sangat telak. Bahkan dia telah gugur di babak awal.
Pencapaian Marine Le Pen, puteri bungsunya, lebih baik. Marine melaju ke putaran terakhir untuk bertarung dengan Emmanuel Macron, mantan bankir yang menjadi politisi dan baru berusia 39. Situasi yang membuat alumnus Les Blues 1998-2002 turun gelanggang. Terutama Zizou. Di tengah segenap kesibukan sebagai pelatih Real Madrid, dia berkali-kali menyuarakan kampanye anti Le Pen.
Pemilu Perancis telah usai. Macron mengalahkan Le Pen dengan angka 65,8 persen berbanding 34,2 persen. Meski sampai kemarin belum memberi selamat, hasil ini pastilah membahagiakan bagi Zizou. Sikap Marine Le Pen setali tiga uang dengan ayahnya, dan Zizou, lewat kampanye- kampanye yang dilakukannya berperan besar dalam meruntuhkan potensi kemenangannya. Rasisme, sekali lagi, berhasil dikalahkan.
Di lain sisi, kebahagiaan ini dapat membuat Zizou lebih lega dan nyaman dalam menghadapi sisa pertandingan Real Madrid. Termasuk di Liga Champions di mana Los Blancos --julukan Madrid- - akan menghadapi Atletico Madrid di semifinal putaran kedua di Vicente Calderon, Kamis (11/5) dinihari nanti.
Hasil putaran pertama, 3-0, seolah-olah menempatkan Real Madrid di atas Atletico. Mengesankan bahwa pertandingan sudah selesai dan tiket ke Cardiff sudah dituliskan atas nama pemain-pemain Real Madrid. Padahal sebenarnya tidak. Masih ada 90 menit dari maksimal 120 menit di Vicente Calderon dan sepanjang kurun waktu itu apapun bisa terjadi.
Keajaiban memang tak diturunkan dalam sepakbola. Yang ada adalah kejelian mengatur strategi, kecerdasan dalam menjalankannya, ketenangan, dan semangat untuk tidak menyerah tatkala bola masih bergulir. Namun kadang kala, di lapangan, segala sesuatu bisa melenceng dari yang direncanakan.
Atletico Madrid akan selalu menjadi tetangga yang menjengkelkan. Dan makin menjengkelkan setelah dibesut Diego Simeone. Menjengkelkan karena mereka bisa bermain spartan. Semangat bertarung Simeone menular sepenuhnya pada seisi pasukannya.
"Semua orang sudah meyakini bahwa mereka (Real Madrid) yang akan pergi (ke Cardiff). Namun kami masih menyimpan keyakinan. Justru ini akan menjadi momentum yang spesial. Kami akan mengalahkan mereka di hari terakhir kami memainkan Liga Champions di Vicente Calderon," kara Saul Niguez. Musim depan, Atletico Madrid akan pindah ke satadion megah bernama Wanda Metropolitano.
Simeone lebih menohok. Selain mengatakan 'tidak ada yang mustahil bagi Atleti' dalam wawancara dengan goal, dia juga memerintahkan staf tim untuk mencetak dan membentangkan satu spanduk berukuran raksasa di tribun utama Vicente Calderon. Spanduk ini berbunyi 'A Morir, Los Mios Mueren', siap mati, karena pasukan ini tak takut mati. Luar biasa.
Namun cukupkah semangat ini untuk membalikkan keadaan? Pertanyaan ini diajukan pada Zinedine Zidane dalam sesi konferensi pers, dan jawabannya adalah 'cukup'. "Bahkan di saat Atletico kehilangan empat pemainnya, mereka masih berbahaya," kata Zizou. Wajahnya, seperti biasa, dingin. Tidak ada senyum. Sama sekali tidak menggambar kebahagiaan.
Satu di antara kunci sukses keberhasilan Ral Madrid mempecundangi Atletico di Santiago Bernabeu pekan lalu adalah kejelian Zizou memanfaatkan sisi terlemah lawan. Yakni sektor bek sayap kanan. Tak ada Juanfran di sana. Juga pelapisnya Sime Vrsaljko. Simeone memasang Lucas Fernandez yang akhirnya memang menjadi santapan empuk bagi Marcelo, Isco, dan Cristiano Ronaldo. Di babak kedua, Fernandez dibikin mati kutu oleh Marco Asensio.
Juanfran dan Vrsaljko masih akan absen dinihari nanti. Simeone barangkali akan mencari opsi lain meski itu hampir pasti tak akan banyak membantu.
Lantas, mengapa Zizou tetap was-was? Sebagaimana Atletico, dinihari nanti Real Madrid juga akan kehilangan bek kanan Dani Carvajal. Zizou punya Danilo dan Nacho yang secara kualitas sesungguhnya tidak terlalu jauh berbeda dibanding Carvajal. Namun perbedaan kualitas ini, sekecil apapun, apabila tidak diantisipasi bisa menjadi senjata yang ampuh bagi Simeone.
Jadi intinya, pertandingan belum berakhir. Di hadapan Atletico, dan pelajaran dari sejumlah laga di Liga Champions musim ini, laga baru benar-benar berakhir apabila wasit sudah meniup pluit panjang. Zizou menyadarinya dan barangkali inilah yang menjadi sebab kenapa dia belum juga tersenyum.(t agus khaidir)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/atletivsmadrid5_20170510_172810.jpg)