Vonis 2 Tahun Penjara Justru Memperkuat Karir Politik Ahok

Pengamat Politik Ray Rangkuti melihat penahanan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) akan menimbulkan simpati dari masyarakat.

Editor: Salomo Tarigan
TRIBUN MEDAN/DANIL SIREGAR
Ribuan warga menggelar aksi Solidaritas Seribu Lilin Keadilan di Lapangan Merdeka Medan, Sumatera Utara, Kamis (11/5/2017) malam. Aksi Seribu Lilin tersebut dilakukan untuk menuntut keadilan bagi Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok, serta mengajak masyarakat untuk mempertahankan Pancasila dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). TRIBUN MEDAN/DANIL SIREGAR 

TRIBUNMEDAN.com - Pengamat Politik Ray Rangkuti melihat penahanan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) akan menimbulkan simpati dari masyarakat.

Ahok saat ini menjalani hukum setelah hakim Pengadilan Negeri Jakarta Utara menjatuhkan vonis 2 tahun penjara kepada mantan Bupati Belitung Timur tersebut terkait kasus penodaan agama.

Gerakan masyarakat menyikapi vonis hakim terhadap Ahok dinilai Ray Rangkuti sebagai bentuk luka atas keadilan.

"Dia dikalahkan di Pilkada DKI yang salah satunya disebabkan isu SARA, kini ia mendekam dipenjara karena divonis menista agama. Tentu ini memantik simpati publik atasnya," ujar Ray Sangkuti,Minggu (14/5/2017).

Menurut Ray Rangkuti, hukuman tersebut justru menaikan derajat Ahok.

Vonis terhadap Ahok justru menimbulkan ikon baru bagi upaya melawan sikap intoleransi, anti pluralisme, dan anti kebhinekaan.

Sehingga, kata Ray Rangkuti, Ahok malah menjelma menjadi tokoh baru nasional yang mulai dielu-elukan.

Dengan begitu, ia tak lagi sekedar mantan Gubernur DKI Jakarta, tapi mulai menjadi milik warga Indonesia.Ahok jadi fenomena nasional.Dua tahun itu tak akan lama.

Proses bandingnya nanti berpotensi menarik simpati publik yang lebih luas padanya.

"Jika begitu, karir politik Ahok bukan hancur sebaliknya makin menguat, makin kokoh dan makin luas, bahkan sampai ke unjung Indonesia dan luar negeri," jelasnya.

Vonis Ahok juga sekaligus menarik ingatan publik tentang pentingnya toleransi, pluralis, dan Pancasila.

"Tentu saja, kita berharap kehendak untuk tetap menjaga toleransi, pluralisne, dan Pancasila sesuatu yang sejatinya abadi di setiap dada warga Indonesia," katanya.

Proses Pilkada DKI Jakarta harus menjadi satu pelajaran.

"Pilkada DKI cukup jadi pelajaran bahwa isu SARA dalam politik akan mencabik-cabik bangsa ini," katanya.

Diketahui, Aksi bela Ahok, tidak hanya terjadi di tanah air tapi juga muncul di belasan negara di Amerika, Australia, Eropa, dan Asia.(*)

Sumber: Tribunnews
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved