Breaking News:

Ngopi Sore

Mudah-mudahan Kita Benar-benar Berpuasa

Puasa adalah ibadah yang istimewa. Lantaran berhubungan langsung ke Tuhan, puasa membentuk siapa pun yang menjalankannya untuk menjadi pribadi jujur.

Penulis: T. Agus Khaidir | Editor: T. Agus Khaidir
DOK.WARTA KOTA/ANGGA BHAGYA NUGRAHA
WARGA meneropong matahari untuk melihat Rukyah Hilal di Jakarta, beberapa waktu lalu. 

RAMADAN tiba, dan besok, kita, umat Islam di Indonesia dan di mana pun di kolong langit ini, mulai berpuasa. Kemeriahannya sudah terasa betul. Di media-media sosial, orang-orang riuh menyampaikan permohonan maaf. Ramadan tiba dan dosa harus dibersihkan. Tidak boleh ada ganjalan agar puasa yang dijalankan tak sekadar berhenti pada lapar dan haus.

Idealnya demikian. Inilah hakikat puasa itu. Puasa yang benar-benar puasa. Puasa sebagai bagian dari ibadah. Puasa untuk meningkatkan level keimanan kepada Allah. Puasa untuk mempertebal kecintaan terhadap Islam. Jika cuma menghasilkan lapar dan haus, alangkah sia-sianya.

Namun kita juga tahu betapa yang ideal ini, terutama dalam dua tiga tahun belakangan, sama sekali jauh. Ramadan beberapa tahun belakangan justru riuh sekali. Bukan semata riuh oleh aktivitas-aktivitas beribadah. Riuh oleh suara orang mengaji Al-Quran saat menggelar tadarusan, misalnya. Atau riuh oleh pukulan-pukulan beduk, oleh teriakan-teriakan yang dilontar dengan riang gembira di pagi buta demi membangunkan orang-orang untuk bersantap sahur. Riuh oleh transaksi jual beli di pasar yang berkelindan dengan geliat semangat para ibu yang memasak panganan-panganan berbuka untuk orang-orang tercinta mereka.

Sungguh keriuhan-keriuhan yang sangat indah. Dan bertambah indah lantaran bersenyawa dengan kesenyapan, dengan kekhusukan orang-orang yang mendirikan rakaat-rakaat salat.

Keriuhan-keriuhan seperti ini masih ada. Akan tetapi, keberadaannya makin teredam oleh keriuhan lain yang serba menjengkelkan. Keriuhan-keriuhan yang mengatasnamakan puasa, bahkan mengatasnamakan iman, Islam, dan Tuhan, namun entah sadar entah tidak justru membuat kehakikatannya menjadi kabur.

Paling dominan adalah soal privilese. Soal hak yang (seolah-olah) istimewa. Soal hormat- menghormati. Bahwa orang yang berpuasa harus dihormati. Oleh siapa? Oleh sesama orang yang berpuasa dan oleh orang yang tidak berpuasa. Caranya? Satu di antaranya tidak boleh membuka kedai makan sepanjang Ramadan. Sebab konon, makanan yang disusun dengan cita rasa seni aduhai di balik etalase itu dapat mengganggu puasa yang sedang dijalankan.

Dari sini mencuat suara kontra. Suara yang mempertanyakan tentang kualitas iman. Tentang keteguhan. Apakah puasa yang dijalankan memang semudah itu terganggu?

Suara kontra disambut kontra yang lain. Maka adu tarung argumentasi pun terjadi. Saling tuding pun terjadi. Ada yang dituding buta agama. Ada yang dituding kafir. Ada yang dituding PKI. Ada yang dituding pendukung Jokowi.

Lho, apa hubungannya dengan Jokowi? Saya juga tidak tahu. Namun kecenderungannya memang begitu. Siapa pun yang mendukung Jokowi, atau condong lebih menyukai Jokowi ketimbang Prabowo, misalnya, akan segera  disimpulkan sebagai 'tidak memahami Islam' -buta agama, kafir, dan PKI.

Lho, apa pula salah PKI, kok, dibawa-bawa? Saya sama sekali tak tahu. Apa ini berkaitpaut politik? Sekali lagi saya tidak tahu. Mungkin saja benar. Sebab sebelumnya, sepanjang saya masih bisa ingat, sejak pertama kali berpuasa di kelas 3 SD, soal privilese semacam ini tidak ada. Puasa, ya, puasa saja. Kedai makan tetap buka dan berjualan seperti di hari-hari di luar Ramadan. Paling-paling bedanya, pemilik kedai membentangkan kain untuk menutup sebagian etalasenya.

Biasa saja. Yang mau beli makanan, ya, beli saja. Yang mau makan di situ, ya, makan saja. Tidak pernah ada pertanyaan apa agama Anda dan kenapa Anda tidak berpuasa. Apakah Anda beriman atau tidak beriman. Apakah Anda buta agama, atau Anda kafir, atau Anda keturunan atau antek-antek PKI. Tidak ada. Puasa betul-betul diejawantahkan ibadah personal: setiap yang berpuasa bertanggung jawab langsung pada Tuhan.

Waktu itu saya tinggal di Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, daerah yang warganya terdiri dari pemeluk Islam, Hindu, Buddha, dan sedikit Kristen. Islam, tentu saja, mayoritas. Beberapa tahun kemudian saya pindah ke Sumatera Utara, tepatnya ke Kota Padangsidempuan, Tapanuli Selatan, sebelum kemudian pindah lagi ke Lubukpakam dan akhirnya ke Medan. Dan saya memang baru menemukan soal privilese ini jadi pembahasan yang serius, bahkan panas dan serba ngotot, dalam dua tiga tahun belakangan.

Ini belum termasuk keriuhan-keriuhan politik yang tetap saja mengemuka. Dua kubu yang terbentuk sejak 2014 terus bertempur. Tahun 2014 riuh, tahun 2015 lebih riuh, tahun 2016 makin riuh. Bagaimana 2017? Apakah tingkat keriuhannya akan menjadi-jadi mengingat 2019 semakin dekat dan siapa-siapa saja yang bakal masuk gelanggang pertarungan menuju kursi presiden sudah mulai terang tergambar?

Harapannya, pastilah, jangan terulang. Keriuhan-keriuhan semacam ini bukan saja tidak indah, potensial membuat puasa hanya meninggalkan lapar dan haus dan sebaliknya menerbitkan dosa, tetapi juga bikin capek. Sangat capek. Termasuk bagi orang-orang yang tidak ikut bertempur. Capek karena detik ke detik dihadapkan pada tontonan yang sungguh tak bermutu.

Puasa adalah ibadah yang istimewa. Lantaran berhubungan langsung ke Tuhan, puasa membentuk siapa pun yang menjalankannya untuk menjadi pribadi yang jujur. Jujur kepada Tuhan dan dirinya sendiri.

Namun begitulah. Sayangnya, kita pun tahu, bahwa puasa demi puasa ternyata tak mengurangi jumlah orang yang tidak bisa berlaku jujur. Korupsi merajalela. Fitnah merajalela. Kebohongan demi kebohongan dirayakan dengan gegap gempita sehingga secara menakjubkan mampu mengubahnya jadi kebenaran.

Atau, jangan-jangan, memang ada yang tidak beres pada puasa kita? Apakah kita belum menjalankan puasa yang sebenar-benarnya puasa? (t agus khaidir)

Sumber: Tribun Medan
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved