Seluruh Polisi Lakukan Salat Jumat dan Ghoib di Masjid Al Hidayah Polda Sumut

"Tidak dikatakan umatku umat Muhammad kalau dia tidak mencintai saudaranya seperti mencintai dirinya sendiri. Agama nasrani juga seperti itu,"

Tayang:
Tribun Medan / HO
Jajaran Polisi se Sumatera Utara melakukan Salat Jumat di Masjid Al Hidayah Polda Sumut yang dilanjutkan Salat Ghoib untuk mendoakan tiga polisi yang tewas saat bertugas di Kampung Melayu, Jumat (26/5/2017). (Tribun Medan / HO) 

Laporan Wartawan Tribun Medan / Akbar

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Seluruh jajaran Polres se Sumatera Utara melakukan Salat Jumat di Masjid Al Hidayah yang dilanjutkan Salat Ghoib dan doa untuk almarhum tiga Anggota Polri yang gugur dalam melaksanakan tugas akibat bom yang terjadi di Kampung Melayu.

Hal ini dikatakan Kepala Direktor Pengamanan Objek Vital (Kadirpam Obvit), Kombes Hery Subiansauri saat dihubungi melalui aplikasi WhatsApp, Jumat (26/5/2017).

Ia mengatakan tidak ada yang harus disalahkan dalam kejadian di Kampung Melayu. Namun sebagai umat manusia sejak lama mulai dari buyut sudah memegang teguh adat istiadat dengan saling silih asih, silih asah dan silih asuh dengan saling menghargai satu sama lainnya.

Baca: Ngeri, Bersamaan Bom Kampung Melayu, Peserta Pawai Obor Teriakkan: Bunuh Si Ahok

Kegiatan salat jumat bersama anggota Polri se Sumut, katanya, sengaja dilakukan sebagai tanda bahwa Polda Sumut berduka atas kejadian yang timbul dan banyak merugikan semua pihak.

Kejadian itu juga, akunya, banyak yang meributkan masalah agama. Padahal, agama itu adalah ciptaan Allah SWT mulai dari Nasrani sampai ke Islam.

"Tidak dikatakan umatku umat Muhammad kalau dia tidak mencintai saudaranya seperti mencintai dirinya sendiri. Agama nasrani juga seperti itu, sayangilah saudaramu seperti engkau menyayangi dirimu sendiri,"katanya.

Maka dari itu, kata Hery, mari kembali kepada agama dan adat istiadat bahwa manusia dilahirkan untuk berbuat baik kepada manusia yang lain yang bertujuan mendapat ridho dari Allah SWT.

Masalah perbedaan, aku Hery, itu biasa terjadi. Malah perbedaan itu sangat diperlukan. "Misalnya dalam sebuah musik, kalau semuanya berperan untuk bermain gitar, maka tidak akan tercipta musik yang indah. Melainkan harus ada gitaris, drummer, bassis dan vocalis agar tercipta musik yang indah dan enak didengar,"ujarnya.

Nah, namun jangan karena berbeda aliran, manusia menjadi berpecah belah karena manusia yang lain tidak ikut ataupun tidak sesuai dengan alirannya.

"Beragama boleh dan alangkah bagusnya kalau agama selalu dibarengi dengan adat istiadat, sopan santun dan tenggang rasa. Maka kalau itu sudah dilakukan tunggulah indahnya perbedaan,"katanya.

(akb/tribun-medan.com) 

Sumber: Tribun Medan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved