Juventus vs Real Madrid

Virtuoso di Sarang Naga

Virtuoso Zidane sebagai pemain berlanjut saat dia melatih. Siasat, taktik, dan strateginya penuh dengan sentuhan seni.

Tayang:
Penulis: T. Agus Khaidir | Editor: T. Agus Khaidir
AFP PHOTO/CESAR MANSO, MIGUEL MEDINA
ZINEDINE Zidane dan Massimiliano Allegri 

SEJUMLAH negara di Eropa lekat dengan mitologi naga. Akan tetapi memang hanya Wales yang menempatkan mahluk yang entah ada entah tidak tersebut di posisi paling terhormat. Iya, naga menjadi bagian dari bendera. Dan naga itu, Y Ddraig Goch, berwarna merah dengan lidah api yang menjulur dan cakar yang siap mencengkeram dan mencabik-cabik, juga disematkan di logo-logo badan otoritas olahraga. Tak terkecuali sepakbola. Berangkat dari ucapan Gareth Bale di Piala Eropa 2016, melejit satu lagu berjudul The Dragon in My Shirt.

Kini naga yang lain mendapatkan panggung yang tiada kalah cemerlang. Naga berwarna biru dengan penampilan yang jauh dari kesan seram.

Naga tersebut, yang mengingatkan pada naga baik hati dalam film How to Train Your Dragon, diberdirikan di tengah-tengah landmark Wales, Cardiff Castle, bersama-sama The Big Ear, Si Kuping Besar, tropi Liga Champions. Dengan posisi sayap yang membentang, naga ini seolah-olah hendak melindungi lambang supremasi sepakbola Eropa yang dinihari nanti, di Millenium Stadium, akan diperebutkan Juventus dan Real Madrid.

Maknanya bisa beragam. Boleh jadi hendak mempertegas keperkasaan bangsa Wales seturut dongeng Y Ddraig Goch. Barangkali pula semacam pesan. Bahwa di sarang naga, tropi ini akan aman dari segenap ancaman. Termasuk terorisme. Belum lekang dari ingatan teror yang menghantam Inggris. Sebanyak 22 orang tewas dan puluhan terluka akibat ledakan bom di konser Ariana Grande.

Terlepas dari kemungkinan latar belakang ini, final Liga Champions edisi 61 (terhitung sejak digelar dengan format European Cup atau Piala Champions pertama kali pada musim 1955- 1956), barangkali akan menjadi bentrok yang paling berseni. Pertarungan virtuoso. Duel antara dua klub terbaik dari kutub-kutub yang saling bertolak-belakang.

Virtuoso sesungguhnya istilah dalam musik. Yakni orang yang memiliki kemahiran luar biasa, sangat ahli dalam memainkan alat musik sehingga mampu melahirkan rangkaian nada yang aduhai. Orang-orang Italia yang kreatif kemudian mendekatkannya dengan sepakbola. Sandro Mazzola, Gianni Rivera, Giancarlo Antognoni, Roberto Baggio sampai Francesco Totti.

Orang-orang luar Italia mendapatkan gelar yang sama. Michael Platini, Diego Maradona, Enzo Francescoli, Dejan Sevicevic. Mereka para fantasista. Para maestro. Virtuoso dalam mengolah bola. Di kaki mereka, bola menjelma benda yang tak terjelaskan dan tak terpaparkan. Bola yang melahirkan ketakjuban-ketakjuban.

Zinedine Zidane tentu saja fantasista juga. Adalah virtuoso yang barangkali paling dikenang dalam sejarah Serie A era modern setelah Platini dan Maradona. Dia datang ke Italia, mendarat di Juventus setelah melewati empat musim yang gemilang di Bordeux.

ZINEDINE Zidane
ZINEDINE Zidane (PLAYBUZZ.COM)

Melangkah dari Turin ke Madrid, reputasi Zidane sebagai virtuoso semakin menguat. Bergabung dalam proyek ambisius Los Galacticos, Zidane menjadi figur sentral. Bintang terunggul di antara parade bintang. Dan dia pensiun sebagai legenda.

Beberapa tahun menepi dari hiruk pikuk sepakbola, riwayat Zidane berlanjut. Dari lapangan ke tepi lapangan. Dari lebih banyak memeras keringat ke sepenuhnya memeras otak.

Tidak terlalu banyak pemain besar yang juga sukses melatih. Johan Cruyff berhasil. Franz Beckenbeauer berhasil. Namun Pele gagal. Sir Bobby Charlton gagal. Maradona gagal. Platini gagal. Marco van Basten juga gagal. Jajaran pelatih yang berhasil justru datang dari mereka yang ketika bermain tergolong bagus namun tak menonjol sehingga jauh dari popularitas, biasa-biasa saja, bahkan tidak punya nama sama sekali. Sebutlah, misalnya, Carlo Ancelotti, Josep Guardiola, Antonio Conte, Sir Alex Ferguson, dan Jose Mourinho.

Zidane memulai riwayat barunya di bawah bayang-barang kegagalan para maestro itu. Bayang- bayang yang sangat kuat karena dia diserahi tanggung jawab melatih Real Madrid, klub yang masih mengidap sindrom kepanikan. Manajemen Real Madrid, siapa pun presidennya, adalah manajemen yang tidak sabaran. Tolok ukur keberhasilan pelatih hanya satu, yakni tropi kejuaraan. Tanpa tropi berarti gagal dan konsekuensinya adalah dipecat.

Sebagai pembanding, Arsene Wenger mengambil pekerjaan sebagai manajer Arsenal pada tahun 1996 dan dia akan bertahan sampai setidaknya dua tahun mendatang. Jika dihitung dari tahun yang sama, minus Zidane, Real Madrid telah mempekerjakan 18 pelatih. Apakah selama periode ini tidak ada tropi yang bertambah di lemari Madrid? Ada, jumlahnya 26. Termasuk empat tropi Liga Champions. Namun itu tadi, manajemen Real Madrid mengharamkan nirgelar.

Sejauh ini posisi Zidane masih aman. Real Madrid telah mengunci gelar La Liga, merebutnya dari tangan Barcelona dengan cara yang penuh gaya pula.

Fabio Capello dua kali mengantarkan Real Madrid berpesta di Plaza de Cibeles. Dua kali pula dia dipecat. Kenapa? Karena permainan Madrid yang menjemukan --monoton, miskin kreasi, minim gol. Apa boleh buat, Capello tidak dapat memenuhi standarisasi Real Madrid: bermain cantik sekaligus memenangkan laga. Dia juga tidak bisa menciptakan atmosfer yang memungkinkan pemain-pemain Real Madrid menjadi selebritas. Padahal, Real Madrid perlu pemasukan dari iklan, hak siar televisi, dan hasil penjualan merchandise.

Zidane dengan rekam jejak masa lalunya yang gemilang berhasil sampai pada titik yang dicapai Jose Mourinho. Dia berhasil membuat Real Madrid menguasai keriuhan media. Berbagi tempat dengan Barcelona. Dari sisi teknis, Zidane bahkan lebih baik.

Mourinho menunjukkan dirinya sebagai bos. Namun sikap ini menjadi bumerang baginya. Mourinho terlibat konflik dengan Iker Casilas, Sergio Ramos, dan Cristiano Ronaldo, dan dia akhirnya dipaksa angkat kaki. Zidane tidak. Zidane sepenuhnya memegang kontrol. Seluruh pemain Real Madrid menaruh hormat yang tinggi padanya.

Apakah semata karena kelegendarisannya sebagai pemain? Tentu saja tidak. Virtuoso Zidane sebagai pemain berlanjut saat dia melatih. Siasat, taktik, dan strateginya penuh dengan sentuhan seni. Sentuhan magis. Dia mampu menyusun rotasi yang sempurna. Membentuk skuat Real Madrid seolah-olah menjadi dua yang sama-sama memiliki daya rusak yang dahsyat. Tidak ada seorang pun pemain yang tersia-sia tanpa kontribusi di bangku cadangan.

CRISTIANO Ronaldo dan Gianluigi Buffon
CRISTIANO Ronaldo dan Gianluigi Buffon (AFP PHOTO/FILIPPO MONTEFORTE, JAVIER SORIANO)

Zidane menjadikan Real Madrid super ofensif. Statistik yang dirilis opta menunjukkan bahwa sepanjang musim ini di Liga Champions, mereka melepaskan 226 tembakan dan menghasilkan 32 gol. Tertinggi dibanding kontestan lain. Juventus berada di urutan enam. Melepaskan 169 tembakan dan menghasilkan 21 gol.
Posisi berbalik apabila parameternya pertahanan. Dalam 12 laga, gawang Juventus yang dikawal Gianluigi Buffon hanya kebobolan tiga gol. Sedangkan gawang Real Madrid dijebol 17 kali.

Massimiliano Allegri pada dasarnya bukanlah seorang master untuk urusan bertahan. Dia bukan penganut paham catenaccio. Dia tak piawai benar menerapkan strategi pertahanan gerendel ini. Allegri pernah mencoba menerapkan catenaccio saat AC Milan melawat ke Camp Nou pada putaran kedua Liga Champions ? Hasilnya, Milan kocar-kacir dan dilumat Barcelona.

Lalu kenapa sekarang dia bisa membuat lini belakang Juventus sekokoh batu karang? Kuncinya adalah materi pemain dan kepiawaian mengatur sinergi. Allegri adalah virtuoso juga. Buffon dan tiga pemain yang berdiri di depannya, trio BBC: Andrea Barzagli, Leonardo Bonucci, dan Giorgio Chiellini, menjadi kuartet yang sangat solid.

Duel ofensif kontra defensif biasanya tidak akan berlangsung menarik. Cenderung membosankan dan bikin ngantuk. Yang satu memukul yang satu lari. Datar dari awal sampai akhir. Pemenang sudah bisa ditebak. Tinggal menunggu momentum. Akan tetapi, kadangkala, pertarungan model begini bisa juga menghadirkan drama yang akan dikenang lama sekali, seperti Foreman lawan Ali.(t agus khaidir)

GRAFIS/TRIBUN MEDAN/BOBY SILALAHI
GRAFIS/TRIBUN MEDAN/BOBY SILALAHI
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved