Edisi Cetak Tribun Medan

Air Danau Toba Tercemar Limbah, Warga Terpaksa Jalan Kaki 3 KM untuk Dapat Air Bersih

Warga terpaksa berjalan ke perbukitan berjarak kurang-lebih 3 kilometer untuk mencari sumber air, lalu membawa ke rumah.

Tribun-Medan.com/ Dedy Kurniawan
Suasana di usaha Keramba Jaring Apung PT Aquafarm berlokasi di perairan Danau Toba, Desa Pangambatan, Kecamatan Simanindo, Kabupaten Samosir, Minggu (26/2/2017). (Tribun-Medan.com/ Dedy Kurniawan) 

Menurut warga pakan ikan yang ditabur ke danau telah memengaruhi rasa dan warna air Danau Toba, semula being dan tawar kini jadi keruh. Rasa air Danau Toba yang dulu enak diminum. Saat diteguk, memiliki rasa-rasa tidak mengenakkan tenggorokan.

Kebiasaan warga sebelum adanya aktivitas KJA, seperti sepulang dari ladang langsung ke Danau Toba dan bisa langsung menenggak air danau, kini sudah tidak ada lagi. Warga takut langsung mengonsumsi air danau sebagai air minum maupun memasak. Kalaupun dimanfaatkan, air danau digunakan untuk mandi, mencuci dan kakus.

Desa Silimalombu, desa tetangga Huta Ginjang Lontung, perjalanan sekitar 50 menit dari Tomok, juga dipenuhi keramba milik PT Aquafarm Nusantara. Kondisinya membuat lebih miris. Warga terpaksa mengonsumsi air danau yang sisa-sisa pakan ikan, dan berlumut, lantaran tidak memiliki sumber air minum alternatif lain.

"Sumber air minum kami dari danau ini saja. Dari mana lagi kami mau ambil. Kalau dulu memang jarang masak air minum kami, karena bisa langsung minum air danaunya, sekarang wajib masak. Masak airnya pun harus benar-benar mendidih. Sejak ada keramba itulah begini kami," ujar Boru Gultom.

Didampingi suaminya marga Sitohang, Boru Gultom menyampaikan selain air minum, warga juga memanfaatkan air danau untuk aktivitas mandi, mencuci dan kakus. Namun tidak seperti dulu, yaitu langsung mencuci dan mandi di danau.

Saat ini warga sudah mengalirkan air danau menggunakan pompa air ke rumah dan sisa air cucian pun tidak langsung dialirkan ke danau.

"Dulu kami mandi dan cuci di danau. Sekarang enggak lagi. Kami udah buat pipa-pipa ke rumah. Tidak ada lagi limbah mandi dan cuci kami di danau. Sudah di rumah kami nyuci dan mandi," ujarnya.

Air Berubah Warna
Menurutnya Boru Gultom, belakangan dibangun sumur bor air minum. Namun kualitas air dari sumur bor ini lebih memprihatinkan dari air danau. "Bau karat airnya. Enggak terminumlah," ujarnya.

Anggiat Sinaga, pegiat Kelompok Studi dan Pengembangan Prakarsa Masyarakat (KSPPM) yang berkegiatan di Kabupaten Samosir menuturkan, sepuluh tahun terakhir dia sering melihat kondisi air Danau Toba berubah warna.

"Kami sudah sering melihat perubahan warna air Danau Toba. Kadang biru, kadang hijau, kadang coklat seperti lumpur. Ada fase-fasenya. Kalau ada ombak kencang pasti berubah warna air Danau Tobanya," ujar Anggiat di Lontung beberapa hari lalu.

Halaman
1234
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved