Breaking News:

Ngopi Sore

Koruptor Korban KPK: Sekadar Logika Miring DPR, Panik, atau Bentuk Kekacauan Fungsi Otak?

Para koruptor justru tetap merasa gagah, tetap merasa terhormat, tetap merasa dibutuhkan. Bahkan ada beberapa yang tetap saja merasa suci.

Penulis: T. Agus Khaidir | Editor: T. Agus Khaidir
TRIBUN JABAR/GANI KURNIAWAN
ANGGOTA Komisi I DPR sekaligus Ketua Panitia Khusus (Pansus) Hak Angket Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Agun Gunandjar didampingi sejumlah anggotanya memberi keterangan kepada wartawan saat keluar dari Lapas Kelas 1A Sukamiskin, Jalan AH Nasution, Kota Bandung, Kamis (6/7/2017). Kehadiran Pansus Hak Angket KPK di Lapas Sukamiskin ini untuk meminta keterangan dari sejumlah narapidana korupsi terkait prosedur penegakan hukum KPK. 

Di lain sisi, kengototan para anggota DPR menggeber hak angket boleh dicurigai sebagai bentuk kepanikan. Jika tak panik, mereka pasti tidak akan melakukan tindakan-tindakan yang mengangkangi logika dan kewarasan berpikir.

Bagaimana mungkin mereka bisa datang ke penjara lalu berbicara dengan orang-orang yang telah mendapatkan keputusan hukum yang bersifat tetap dari lembaga yang sah? Bukankah orang-orang ini dibui telah menggunakan seluruh haknya untuk membela diri?

Proses praperadilan, misalnya. Bukankah apabila KPK melakukan kesalahan prosedural pengadilan akan menggugurkan tuntutan dan membebaskan tertuduh? Pun apabila pengadilan ternyata juga ikut bersalah, bukankah masih ada upaya banding dan kasasi? Jika semua mekanisme ini sudah dilewati dan menghasilkan keputusan incracht, seyogianya tak ada lagi yang perlu dipertanyakan dan diragukan, bukan?

Ketika sekarang para anggota DPR ramai-ramai datang ke penjara untuk meminta kesaksian para narapidana dan kemudian dengan enteng menyebut KPK telah bertindak di luar prosedur, maka kecurigaan memang patut dialamatkan pada mereka. Barangkali memang panik lantaran belakangan sepak terjang KPK makin menggetarkan dan sewaktu-waktu dapat menyasar dan menjerat mereka.

Kepanikan ini mungkin pula berimbas pada kekacauan fungsi otak. Sebagaimana Si Mamad, mereka tidak bisa lagi berpikir jernih. Bedanya, Mamad memilih mati untuk menebus dosa. Mereka tidak.(t agus khaidir)

Sumber: Tribun Medan
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved