Breaking News:

Ngopi Sore

Ancang-ancang Dukung Pak Jokowi, Apakah Pak Hary Tanoe Akan Tinggalkan Pak Prabowo?

Jika Anda termasuk rajin mengikuti perkembangan politik tanah air, terutama pasca Pemilu 2014, tentu tak asing pada sepak terjang Pak Hari Tanoe.

Penulis: T. Agus Khaidir | Editor: T. Agus Khaidir
TRIBUNNEWS/HERUDIN
KETUA Umum Perindo, Hary Tanoesoedibjo 

Kita tahu bagaimana akhir dwitunggal ini. Win-HT gagal ikut bertarung dan hanya meninggalkan lelucon-lelucon garing semacam tingkah polah penyamaran dan kuis ecek-ecek yang kedoknya terbongkar karena kesembronoan sendiri.

HARY Tanoesoedibjo dan Wiranto dalam deklarasi calon Presiden dan Wakil Presiden dari Partai Hanura di Jakarta, 2 Juli 2013.
HARY Tanoesoedibjo dan Wiranto dalam deklarasi calon Presiden dan Wakil Presiden dari Partai Hanura di Jakarta, 2 Juli 2013. (TRIBUN MEDAN/DANY PERMANA)

Setelah nyata-nyata gagal, Pak Hary Tanoe merapat ke kubu Prabowo-Hatta. Sikap yang berseberangan dengan arah kebijakan partai, membuatnya didepak dari Hanura. Ini pendepakan kedua. Sebelumnya, dia juga keluar dari Nasional Demokrat (NasDem) lantaran berselisih pendapat perihal filosofi dan arah kerja partai dengan Surya Paloh.

Entah barangkali kapok ikut partai bikinan orang lain, Pak Hary Tanoe mendirikan partainya sendiri, Perindo. Pak Hary Tanoe serius betul membesarkan partai ini. Seluruh kekuatan media yang dimilikinya dikerahkan. Termasuk  melakukan propaganda lewat lagu. Saya tidak tahu, saking seringnya mendengar, entah berapa banyak orang Indonesia yang hapal Mars Perindo yang aduhai itu.

Di lain sisi, sebagaimana pilihan politik Pak Hary Tanoe, meski baru akan bertarung di Pemilu Legislatif 2019, Perindo telah bersikap seolah-olah mereka adalah oposan pemerintah. Persisnya, musuh Jokowi. Mereka menjadi semacam anggota tak resmi Koalisi Merah Putih (KMP). Pak Prabowo bilang 'A', maka Pak Hary Tanoe juga akan bilang 'A' dan Perindo juga akan bilang 'A'.

Pak Hary Tanoe bahkan tetap bersetia pada Pak Prabowo meski pun kawan-kawan koalisi mereka, terutama Golkar dan PPP, telah menyeberang. Kerja koalisi paling nyata, dan terbesar, di antara mereka adalah keberhasilan menyingkirkan Ahok dari Jakarta.

Begitu solidnya Pak Hary Tanoe bersama Pak Prabowo, sehingga rasa-rasanya, memang mustahil retak. Begitu solidnya, sampai-sampai Pak Hary Tanoe sangat percaya diri mengatakan bahwa kelak dia akan menjadi pemimpin di negeri ini.

Maka, apa tidak lucu jika sekarang tiba-tiba Perindo melihat kemungkinan mereka akan mendukung Jokowi pada Pemilu 2019. Apakah ini juga sekaligus berarti Pak Hary Tanoe berancang-ancang meninggalkan Pak Prabowo? Apa tidak aneh? Bagaimana mungkin soliditas tadi bisa runtuh?

Sesungguhnya tidak ada yang lucu apalagi aneh. Politik memang begitu. Rendra memapar politik dalam Maskumambang dan saya kira beliau memang kelewat muluk.

Meskipun hidup berbangsa perlu politik,
tetapi politik
tidak boleh menjamah kemerdekaan iman dan akal
di dalam daulat manusia

Kenyataannya tidak seperti ini, bukan? Kenyataannya, makin ke sini politik makin mengangkangi kemerdekaan iman dan akal dan membuat manusia tak lagi berdaulat atas dirinya.

Pak Hary Tanoe sudah membuktikannya.(t agus khaidir)

Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved