Ngopi Sore

Ketika Patung Kong Co Kwan Sing Tee Koen Berubah Jadi Pocong Raksasa

Terhadap pelanggaran administrasi oleh pihak kelenteng, jika memang benar demikian, Pemerintah Kabupaten Tuban melakukan tindakan yang lucu.

Ketika Patung Kong Co Kwan Sing Tee Koen Berubah Jadi Pocong Raksasa
ANTARA FOTO/AGUK SUDARMOJO
Petugas Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pemerintah Kabupaten Tuban, Jawa Timur, dengan menggunakan alat berat "crane" menutup patung Dewa Perang dan Keadilan Khong Co Kwan Sing Tee Koen dengan kain putih di Kelenteng Kwan Sing Bio, Minggu (6/8/2017). Patung setinggi 30,4 meter itu ditutup dengan kain oleh pengurus kelenteng karena adanya penolakan dari sejumlah elemen masyarakat atas patung itu. 

Jawaban keempat narasumber Qadir nyaris seragam. Jika dirangkum dan dikerucutkan jadi satu kesimpulan, narasumber-narasumber Qadir berpendapat, berangkat dari cerita orang-orang tua mereka, keberadaan Kelenteng Kwan Sing Bio tidak pernah menjadi masalah bagi warga Tuban. Termasuk warga di luar pemeluk Konghucu.

Dalam satu wawancara tentang Khong Co Kwan Sing Tee Koen yang dilakukan Harian Suara Merdeka, 2 Agustus 2002, diketahui bahwa patung Khong Co Kwan Sing Tee Koen di Kelenteng Kwan Sing Bio merupakan patung dewa sejenis yang tertua di seluruh kelenteng di Pulau Jawa. Dalam hal ini, tentu, patung berukuran kecil yang berada di dalam kelenteng.

Namun terlepas dari perkara ukuran, kenapa sekarang jadi masalah? Atau jangan-jangan memang karena ukurannya. Lantaran berukuran lebih besar dan diletakkan di luar kelentang, maka jadi masalah?

Belakangan mencuat informasi baru. Datang dari Pemerintah Kabupaten Tuban. Akar persoalan ribut-ribut ternyata bukan menyangkut ukuran dan "kerisihan" atas keberadaan patung Khong Co Kwan Sing Tee Koen, melainkan sekadar ketidakberesan perizinan. Menurut Pemerintah Kabupaten Tuban, patung tersebut dibangun tanpa Izin Mendirikan Bangunan (IMB).

Patung  Kong Co Kwan Sing Tee Koen setelah ditutup dengan kain putih.
Patung Kong Co Kwan Sing Tee Koen setelah ditutup dengan kain putih. (militan.co.id)

Sampai di sini, rasa penasaran seketika berubah jadi gelak tawa. Terhadap pelanggaran administrasi oleh pihak kelenteng, jika memang benar demikian, Pemerintah Kabupaten Tuban melakukan tindakan yang lucu.

Mereka menyungkup, menutup, patung Khong Co Kwan Sing Tee Koen dengan kain putih. Tertutup penuh dari atas sampai bawah. Membuatnya terlihat menyerupai pocong. Iya, pocong, mahluk alam gaib dalam kisah legenda urban Indonesia, yang dalam film-film Suzanna sering dipercandakan sebagai "hantu pekok" yang cuma bisa melompat-lompat tanpa pernah benar-benar sukses merasukkan rasa takut.

Apakah menyungkup, menutup, bangunan-bangunan yang memiliki masalah IMB dengan kain putih memang terdapat di dalam aturan? Jika begitu, kenapa tidak dipraktikkan di kasus-kasus serupa di tempat lain?

Di Medan, misalnya. Sejumlah bangunan raksasa ditengarai tak memiliki IMB. Ada yang punya IMB namun tak lengkap. Di antaranya termasuk megaproyek mal, apartemen, dan perkantoran yang dibesut perusahaan properti paling fenomenal di negeri ini, Agung Podomoro Group.

Peristiwa di Tuban membuat saya membayangkan gedung-gedung setengah jadi di kompleks megaproyek ini juga disungkup, ditutup, dengan kain putih. Pasti akan lucu sekali.

Sayangnya, itu tidak akan bisa terjadi, bukan?(t agus khaidir)

Penulis: T. Agus Khaidir
Editor: T. Agus Khaidir
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved