Ngopi Sore

Setelah Patung, Apa Lagi yang akan Diributi?

Kebencian melesat-lesat membenamkan cinta. Tak ada lagi tempat untuk cinta. Bahkan tidak di panggung dangdut pantura sekali pun.

Penulis: T. Agus Khaidir | Editor: T. Agus Khaidir
ANTARA FOTO/DIDIK SUHARTONO
MASSA dari berbagai ormas dan LSM berunjuk rasa di depan Gedung DPRD Jatim, Surabaya, Jawa Timur, Senin (7/8/2017). Mereka menolak pembangunan patung Kwan Sing Tee Koen serta menuntut pembongkaran patung yang ada di Tuban itu. 

WHERE there is love there is life. Di mana ada cinta disanalah letak kehidupan. Kurang lebih begitu. Kalimat ini lahir di India, dari seorang penganjur Ahimsa, ajaran antikekerasan, bernama Mahatma Gandhi. Menurut Gandhi, sekian banyak perbedaan dan pertentangan dalam hidup dan kehidupan di dunia terkasih ini hanya bisa disatukan oleh cinta.

India masa itu memang India yang muram. India yang hari-harinya dilewati dengan segala bentuk syakwasangka dan curiga atas nama Tuhan dan agama.

Alih-alih menentramkan, ketuhanan dan keagamaan justru menjelma sebagai tanda-tanda yang bengis. Tanda-tanda yang selalu penuh dengan kemarahan. Urut-urutannya adalah: tafsir, vonis, dan eksekusi. Mayoritas tak cuma menekan minoritas dengan semena-mena. Tidak ada tempat bagi pemeluk Islam dan Kristen. Keduanya dianggap "pihak luar". Sedangkan di lingkaran dalam hanya Hindu.

Di lain sisi, lewat tafsir-tafsir yang serba sempit, mayoritas juga berselisih dengan sesamanya. Antara satu kelompok dengan kelompok lain sama-sama merasa paling benar. Bentrok tak terhindarkan. Korban-korban berjatuhan.

Kondisi India pada tahun-tahun awal 1900-an sedikit banyak mirip dengan Indonesia di hari-hari belakangan. Ketentraman dan ketenangan nyaris sirna. Saban hari ada saja keriuhan. Ada saja silang-sengketa. Ada saja pergesekan.

Kebencian melesat-lesat membenamkan cinta. Tak ada lagi tempat untuk cinta. Bahkan tidak di panggung dangdut pantura sekali pun. Di antara liuk nada dan goyang selalu ada protes yang menyergap. Baik protes yang disuarakan secara halus maupun yang diteriakkan dengan penuh emosi. Intinya, pedangdut-pedangdut itu, dicap pendosa.

Selama bertahun-tahun sejak 2002, sejak Bali luluh lantak dihajar bom, negeri ini terus diteror dengan cara serupa. Namun di hari-hari belakangan, cara ini kelihatannya tak lagi dipakai. Entah diketepikan sementara atau selamanya, saya tak tahu. Pun entah pelakunya dari kelompok yang sama atau berbeda. Pastinya, teror dalam bentuk bom makin jarang muncul. Berganti teror dalam bentuk lain. Teror yang seolah-olah bukan teror namun pada dasarnya tiada berbeda dari teror. Yakni pemikiran dan sikap yang dipaksakan.

Teranyar adalah perlakuan terhadap patung-patung. Di Tuban, patung berukuran raksasa panglima perang dan Dewa Keadilan Kong Cho Kwan Sing Tee Koen yang berdiri di dalam lingkungan kelenteng, terpaksa ditutup dengan kain putih. Ditutup menyeluruh dari atas sampai bawah dan membuatnya kelihatan seperti pocong.

Sebelumnya ada juga patung yang dirobohkan. Patung-patung wayang di Purwakarta dirobohkan karena dianggap sebagai tanda-tanda kebangkitan kaum jahiliyah. Kaum Abu Jahal dan Abu Lahab. Para penyembah berhala. Patung diidentikkan dengan perbuatan syirik, menyekutukan Tuhan.

Di Bekasi, patung Tiga Mojang yang dipahat maestro patung Nyoman Nuarta, juga dirobohkan. Alasannya sungguh-sungguh aduhai. Patung berbentuk tiga perempuan dalam balutan kemben, dinilai terlalu seksi dan dapat membangkitkan berahi.

PATUNG Tiga Mojang yang dirobohkan di Bekasi.
PATUNG Tiga Mojang yang dirobohkan di Bekasi. (panoramio.com)

Atas alasan yang sama, patung-patung dalam rupa perempuan tanpa busana di Istana Bogor di-make over. Diubah sedemikian rupa penampilannya supaya kelihatan lebih sopan. Caranya? Patung-patung itu dipakaikan baju! Iya, benar, baju! Bahwa baju-baju yang dipakaikan ini sama sekali tidak cocok dan membuat nilai seni patung tersebut hilang, agaknya memang tak jadi pertimbangan. Yang penting ketelanjangannya tertutupi.

Perlakuan terhadap patung-patung ini, sekilas pintas, terkesan sepele. Bahkan Ketua MPR kita tercinta, Zulkifli Hasan, berpendapat serupa. Diwawancarai Kompas TV, Zulkifli yang meresmikan patung Kong Cho Kwan Sing Tee Koen bulan lalu, menanggapi enteng ribut-ribut yang terjadi.

Padahal masalahnya tidaklah sederhana. Yang terjadi pada patung-patung ini, saya kira, adalah bagian dari upaya untuk membuat orang berubah jadi ndablek dan pekok. Dungu tingkat dewa kata anak-anak sekarang.

Pertanyaannya, setelah patung, apa lagi yang akan diributi? Saya tidak tahu. Namun sampai di sini, pemerintah seyogianya perlu meningkatkan kewaspadaan. Lalu bereaksi nyata.

Jangan terlalu cuek dan selow. Sebab ini bukan ancaman yang main-main. Bukan sebangsa ancaman kelas kresek yang bisa diselesaikan dengan sekadar nge-vlog atau memberikan sepeda sebagai hadiah sagu hati.

Jika dibiarkan, kendablekan dan kepekokan, akan membuat rasa cinta berubah jadi petaka. Kendablekan dan kepekokan, terlebih-lebih yang tidak disadari, percayalah, jauh lebih berbahaya ketimbang ledakan bom. Jauh lebih berbahaya dibanding peluru yang dihujamkan Nathuram Godse ke tubuh Mahatma Gandhi.(t agus khaidir)

Sumber: Tribun Medan
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved