Ngopi Sore

Main Curanglah Secara Elegan, Jangan Kampungan, Kayak Tetangga Kita

Pada dasarnya tak ada negara penyelenggara kejuaraan multicabang yang tidak curang. Hanya kadar kecurangannya yang berbeda-beda.

Main Curanglah Secara Elegan, Jangan Kampungan, Kayak Tetangga Kita
KOPAS.COM/DOK.KEMENPORA
OFISIAL Tim Sepak Takraw Indonesia melancarkan protes kepada wasit pada pertandingan sepak takraw puteri SEA Games 2017 di Kuala Lumpur, kemarin. Indonesia memutuskan mundur dari pertandingan karena merasa dicurangi. 

Kecenderungan seperti inilah yang sekarang sedang terjadi di Malaysia. Mereka sangat dominan. Bukan cuma di cabang favorit dan selalu jadi andalan, mereka juga mampu menang di cabang- cabang di mana atlet-atletnya berkualitas medioker.

SEA Games Kuala Lumpur 2017 belum berlangsung setengah jalan dan tuan rumah telah unggul sangat jauh. Malaysia di puncak tabel peringkat dengan torehan 21 emas, 18 perak, 15 perunggu (hingga Senin, 21 Agustus, sore). Mengekor di belakangnya Singapura dengan 9 emas, 10 perak, 8 perunggu, disusul Thailand, Vietnam, dan Indonesia yang baru mengumpulkan 5 emas, 7 perak, dan 13 perunggu.

Namun dominasi ini meninggalkan jejak noda. Banyak keganjilan yang menyeruak. Paling anyar menimpa tim sepak takraw puteri Indonesia, yang setelah berulangkali dikerjai wasit, akhirnya memutuskan untuk mundur dari pertandingan dan memberikan kemenangan pada Malaysia.

Tim nasional sepakbola punya cerita lain yang tak kalah menjengkelkan. Mulai dari kehabisan makanan untuk makan malam sampai pengadil yang secara terang-terangan menunjukkan sikap tak adil.

PEMAIN Timnas Indonesia bersitegang dengan pemain Timor Leste dalam babak kualifikasi Grup B Sepakbola SEA Games, di MPS Stadium, Selayang, Malaysia, Minggu (20/8/2017).
PEMAIN Timnas Indonesia bersitegang dengan pemain Timor Leste dalam babak kualifikasi Grup B Sepakbola SEA Games, di MPS Stadium, Selayang, Malaysia, Minggu (20/8/2017). (THE JAKARTA POST/SETO WARDHANA)

Permainan-permainan pemain Timor Leste yang sangat membahayakan dan berlangsung nyaris sepanjang pertandingan, baru diganjar hukuman di menit akhir. Itu pun lantaran kebrutalan yang dipertontonkan pemain Timor Leste sudah keterlaluan. Jika tidak, barangkali Nagor Amir Noor Mohamed, wasit berkebangsaan Malaysia ini, tetap akan menutup mata.

Pun demikian, seraya memberikan kartu merah untuk pemain Timor Leste, dia juga mengacungkan kartu kuning untuk dua pemain Indonesia, Marinus dan Evan Dimas. Kartu kuning Evan Dimas membuatnya tidak bisa bermain dalam laga krusial kontra Vietnam.

Belum lagi cerita-cerita miring perihal dugaan kecurangan nonteknis lain. Ada gambar bendera yang terbalik. Ada pemindahan hotel yang serba mendadak. Ada keterlambatan kendaraan jemputan atlet ke lokasi pertandingan.

Begitulah, SEA Games masih akan digelar hingga 30 Agustus. Barangkali masih akan banyak kecurangan terjadi. Di Indonesia, khususnya di media sosial, banyak warnaget mengusulkan agar kontingen Indonesia melakukan aksi walk out secara menyeluruh. Mundur dari SEA Games.

Saya kira tidak perlu seperti itu. Selain kerdil, juga akan memberi dampak besar. Indonesia bisa kena sanksi. Tetaplah bertanding. Kalau pun kalah lantaran dicurangi, ya, diterima saja, sembari dijadikan pelajaran dan penegasan, bahwa ketika kita jadi tuan rumah Asian Games tahun depan, janganlah bersikap seperti tetangga kita ini. Jadilah tuan rumah yang baik. Kalau pun mau curang, lakukan secara elegan. Jangan grasak-grusuk. Jangan kampungan!(t agus khaidir)

Penulis: T. Agus Khaidir
Editor: T. Agus Khaidir
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved