Lebih Senang di Indonesia, Pengungsi Rohingya Dapat Perlakuan Seperti Ini dari Malaysia dan Thailand

Pengungsi Rohingya yang masih bertahan di Indonesia mengutarakan mereka mengalami perjuangan yang sangat mengerikan ketika melarikan diri dari negaran

TRIBUN MEDAN/RISKI CAHYADI
Seorang warga imigran etnis Rohingya Myanmar, menggendong bayinya yang baru lahir berusia tiga hari, di lokasi penampungan Imigrasi kelas I khusus Medan, Sumatera Utara, Senin (4/9/2017).Sebanyak 144 Imigran etnis Rohingya Myanmar ditempatkan di penampungan tersebut. 

Laporan Wartawan Tribun Medan/Royandi Hutasoit

TRIBUN-MEDAN.COM, MEDAN - Pengungsi Rohingya yang masih bertahan di Indonesia mengutarakan mereka mengalami perjuangan yang sangat mengerikan ketika melarikan diri dari negaranya di Myanmar

Sebelum ke sampai ke Indonesia para pengungsi Rohingya ternyata lebih dahulu memasuki wilayah negara Thailand dan wilayah negara Malaysia. Namun kedua negara ini tidak bersedia menerima para pengungsi.

"Pertama kali kami tiba di Thailand. Kami tidak diterima di sana. di Malaysia juga kami ditolak. Malaysia dan Thailand memaksa kami kembali ke tengah laut. Kalau dari orang Thailand mau bantu kasih makanan, kalau malaysia tidak," ujar Siradil Islam, pengungsi yang sudah dua tahun tinggal di Indonesia.

Baca: Pengungsi Rohingnya Lebih Senang Tinggal di Indonesia Ketimbang di Malaysia, Ini Alasannya

Bahkan kata Siradil Islam, Malaysia jauh lebih kejam dari Thailand saat menolak pengungsi masuk ke negaranya, militer Malaysia kadang tidak segan-segan menembaki kapal para pengungsi supaya kembali ke tengah laut.

"Kapal Thailand tarik kami kembali ke tengah laut. Kalau Malaysia, tolak kami. Ada yang kapalnya ditembaki supaya kembali ke tengah laut," ujarnya.

Cerita Siradil, sebelum ia masuk wilayah Indonesia, ia sudah berada di dalam kapal yang ditumpanginya selama empat bulan lebih, dengan makanan dan minuman serba terbatas. Mereka setiap harinya dijatah.

Saat di dalam kapal, mereka selalu mengutamakan anak-anak mendapat makanan baru orang dewasa.

"Kami makan biskuit atau mie instan yang dijatuhkan orang-orang Thailand itu," ujarnya.

Para pengungsi Rohingya saat ini tinggal di penampungan di Indonesia serba berkecupuan. Mereka mendapat bantuan makanan, dan kebutuhan sehari-hari, serta fasilitas kesehatan yang bagus.

Mereka mendapat bantuan dari PBB yang disalurkan melalui International Organization for Migration (IOM) dan United Nations High Commissioner for Refugees (UNHCR).

Para pengungsi mendapat bantuan makanan tiga kali setiap harinya. Makanan tersebut terdiri dari nasi, daging ayam dan sayur-sayuran. Selain mendapat bantuan makan, para pengungsi juga mendapat bantuan berupa perlengkapan hidup sehari-hari.

Saat mereka sakit, pengungsi juga akan dibawa ke rumah sakit untuk berobat. Adapun rumah sakit yang menjadi tujuan para pengungsi ini adalah rumah Sakit Siloam, Rumah Sakit Mitra Sejati dan Rumah Sakit Bunda Tamrin.

Siradil Islam, pengungsi yang sudah dua tahun tinggal di Indonesia menceritakan bahwa dia sangat senang bisa tinggal di Indonesia, karena dia bisa mendapat kedamaian tinggal di Indonesia.

""Enak tinggal di Indonesia. Saya nyaman disini. Semua sama disini. Beda di negara kami, kami dikejar-kejar. Kalau dapat dibunuh. Dipotong-potong. Bersyukur orang Indonesia, bisa hidup damai dan aman-aman saja," ujarnya.(*)

Sumber: Tribun Medan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved