Breaking News:

Alamak

Di Negara Terpencil dan Miskin Ini, 'Uang Ponsel' Malah Gusur Uang Tunai

"Kebanyakan orang membayar dengan ponselnya sekarang," kata Omar, sambil memproses suatu transaksi di ponselnya. "Ini jauh lebih mudah."

Editor: Tariden Turnip
MATTHEW VICKERY
Somaliland memang tidak memimpin dunia dalam banyak hal, kecuali mungkin dalam transaksi nontunai. 

TRIBUN-MEDAN.COM - Somaliland, sebuah republik independen di Afrika Timur, mengalami tingkat buta huruf tinggi dan ekonomi yang hancur oleh perang saudara. Tapi negara itu mungkin akan menjadi masyarakat tanpa uang tunai pertama di dunia.

Beberapa orang mengerumuni sebuah kios kaki lima di Hergeisa, Republik Somaliland. Mereka berteriak-teriak dan berdebat tentang kualitas khat - tanaman narkotik ringan yang disamakan dengan kopi dan kokain - yang dijajakan oleh si pedagang.

Para pelanggan datang dan pergi dengan cepat, mengambil berbuntal-buntal dedaunan hijau khat yang mereka nilai berkualitas cukup baik, sebelum mengetikkan nomor-nomor di ponsel mereka dan berlalu.

Tidak ada uang tunai yang dibayarkan, dan tidak ada kartu kredit. Namun para pelanggan tidak mendapatkan khat mereka secara cuma-cuma; mereka membayar via transfer, dengan bermodalkan hanya sebuah telepon genggam dan sejumlah nomor.

Satu dolar AS setara dengan 9.000 shilling Somaliland - nilai mata uang ini begitu rendah, para pelanggan berkeliling pasar dengan tumpukan uang kertas dalam tas mereka.Satu dolar AS setara dengan 9.000 shilling Somaliland - nilai mata uang ini begitu rendah, para pelanggan berkeliling pasar dengan tumpukan uang kertas dalam tas mereka/AFP/SIMON MAINA.

Negara independen itu, yang pecah dari Somalia pada 1991 tapi tetap tidak diakui komunitas internasional, sedang dalam proses untuk menjadi masyarakat nontunai pertama di dunia.

Dari kios gubuk di pinggir jalan sampai supermarket di ibu kota Hargeisa, pembayaran mobile segera menjadi standar di negara itu.

"Kebanyakan orang membayar dengan ponselnya sekarang," kata Omar, sambil memproses suatu transaksi di ponselnya. "Ini jauh lebih mudah."

Meski negara-negara maju dan berkembang juga tengah mewujudkan pembayaran nontunai dengan ponsel atau kartu, Somaliland punya motivasi yang unik.

Pergeseran dari uang tunai ini sebagian disebabkan oleh devaluasi shilling Somaliland. Mata uang republik yang memisahkan dirinya sendiri itu sekarang diperdagangkan dengan nilai 9.000 shilling untuk 1 USD.

Halaman
1234
Sumber: bbc
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved