Asahan Alham, Adik DN Aidit Sindir Jenderal yang Masuk ke Ranah Politik
Asahan Alham membuat status di Facebook-nya, Asahan Alham, yang membuat gerah warga Indonesia.
TRIBUN-MEDAN.com-Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo dinilai sejumlah pihak sedang melakukan manuver politik terkait sejumlah pernyataannya.
Adapun sejumlah pernyataan Panglima TNI yang menuai polemik antara lain ajakan untuk nonton bareng film Penumpasan Pengkhianatan G30S/PKI (1984) dan soal kabar pembelian 5.000 pucuk senjata oleh institusi non-militer, seperti dilansir kompas.com.
Namun, Gatot membantah bahwa apa yang ia lontarkan adalah manuver poltitik menjelang Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019.
"Di sini (gedung DPR) tempat banyak orang politik. Kalau orang politik di sini, itu (menilai) bodoh yang saya lakukan. Kontituen saya pada kabur," kata Gatot di Kompleks Parlemen DPR RI, Jakarta, Rabu (27/9/2017).
Menurut Gatot, jika sedang bermanuver politik, maka dia hanya akan menyampaikan pernyataan yang baik dan menarik simpati publik.
"Kalau saya berpolitik, 'Oh kamu baik, PKI baik'. Baik semuanya," kata Gatot.
Sejumlah kritik memang ditujukan kepada Panglima TNI. Wakil Sekretaris Jenderal Partai Demokrat Rachland Nashidik misalnya, yang menganggap pernyataan Gatot soal pembelian senjata merupakan contoh manuver politik.
Asahan Alham yang merupakan adik DN Aidit, tokoh yang dianggap paling berperan dalam peristiwa G30S/PKI tampaknya ingin ikut ambil bagian dalam isu panas ini.
Belakangan ini, dia membuat status di Facebook-nya, Asahan Alham, yang membuat gerah warga Indonesia.
Pada 27 September, Asahan membuat status Facebook yang seakan menyindir isu tersebut.
Dia menulis: Bila Jenderal Masuk Ke Politik, Mereka Masuk Ke Dunia Coup dan Terorisme.
Tulisan itu diunggah dengan latar belakang hijau, yang juga menyerupai warna TNI.
Postingannya kerap mendapat hujatan dari warganet, namun tampaknya dia cuek dan terus saja membuat status yang terbilang provokatif, khususnya berkaitan dengan peristiwa G30S/PKI.
Sosok Dipa Nusantara Aidit atau DN Aidit memang lekat dengan peristiwa G30S/PKI.
Sebagai pemimpin PKI saat itu, dia dinyatakan bersalah sebagai dalang di balik penculikan dan pembunuhan para pahlawan revolusi.
Walau dia telah dinyatakan tewas, namun hingga kini, keluarganya masih ada.
Mereka tinggal di berbagai negara, tak hanya di Indonesia.
Di antaranya adalah adiknya bernama Asahan Alham atau Asahan Aidit.
Dilansir dari Wikipedia, dia dilahirkan di Tanjung Pandan, Belitung, Sumatera Selatan, 4 Desember 1938 yang berarti Desember 2017 nanti dia bakal genap berusia umur 79 tahun.
Dia adalah seorang penulis Indonesia yang termasuk dalam penulis sastra eksil Indonesia.
Sastra eksil Indonesia adalah kumpulan karya sastra karya para penulis Indonesia yang terasingkan dan terdampar, tak bisa atau tak dibolehkan pulang setelah peristiwa G30S/PKI.
Dia merupakan alumni Fakultas Sastra Universitas Indonesia hingga 1961.
Kemudian dia melanjutnya belajar di Moskow, Rusia, lulus pada 1966 dan memperoleh gelar Sarjana Penuh di bidang filologi.
Pada 1975 dia belajar bahasa dan sastra Vietnam di Universitas Hanoi dan pada 1978 mendapatkan gelar PhD-nya.
Dia mulai menulis pada 1952, di antaranya pernah dimuat di majalah Waktu, Mimbar Indonesia, Sunday Courier dan di beberapa ruang kebudayaan surat kabar Jakarta pada tahun-tahun 50-an.
Selain menulis puisi, dia juga menulis prosa.
Puisi dan cerpennya lebih banyak di muat di media eksil, seperti majalah Arah, Arena dan Kreasi.
Pada 1993, kumpulan sajaknya yang pertama, berjudul Perjalanan dan Rumah Baru diterbitkan oleh Stichting ISDM Culemborg, Belanda.
Kumpulan sajaknya, 23 Sajak Menangisi Viet Tri diterbitkan oleh Pustaka Jaya, Jakarta pada 1998.
Novel pertamanya, Perang dan Kembang, juga diterbitkan oleh Pustaka Jaya 2001.
Cinta Perang dan Ilusi, kumpulan cerpen memoar Antara Moskow - Hanoi diterbitkan oleh Lembaga Humaniora Depok, 2006.
Pada 2009, memoarnya, Azalea: Hidup Mengejar Ijazah, diterbitkan oleh Ultimus.
Saat ini, diketahui dia berdomisili di Belanda dan merupakan pensiunan dari sebuah perusahaan ekspor impor di Belanda.
Tampak dari foto-fotonya di Facebook, dia berada di luar negeri bersama para bule dalam berbagai pose dan kesempatan. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/asahan_aslan_20170930_073757.jpg)