Catatan Sepakbola
Mau Dibawa ke Mana PSMS Kami
Apakah manajemen memang sungguh-sungguh berniat membawa PSMS keluar dari keterpurukannya?
Penulis: T. Agus Khaidir | Editor: T. Agus Khaidir
KETIKA mendapat kabar PSMS kalah dari Persibat Batang pada matchday 3 babak 16 Besar Liga 2, harapan saya menyaksikan PSMS berlaga di kasta tertinggi sepakbola nasional, langsung surut jauh. Harapan memang masih ada. Akan tetapi tinggal harapan samar. Harapan yang membutuhkan campur tangan keajaiban untuk bisa diwujudkan.
Dua dari tiga laga sisa PSMS digelar di Stadion Teladan. Persibat 3 Oktober dan PSIS 7 Oktober. Matchday terakhir empat hari berselang di Stadion Maulana Yusuf, Tangerang.
Satu pertandingan sejauh ini sudah dilalui. Persibat dikalahkan 2-1. Namun posisi di klasemen tak berubah. PSIS mengoleksi 10 poin setelah pada laga di hari yang sama menang 2-0 atas Persita. Persibat menyusul dengan 7 poin dan PSMS 4 poin. Persita hanya punya 1 poin.
Secara matematis, PSMS bisa mendapatkan maksimal 10 poin. PSIS 16 poin, Persibat 13 poin. Hitung-hitungan ini bisa terkoreksi apabila PSMS menang atas PSIS dan Persita, lalu pada saat bersamaan Persibat gagal menang dari Persita dan PSIS. Taruhlah keduanya imbang. Poin PSIS jadi 11, PSMS 10, Persibat 9, dan Persita 2. PSMS lolos ke fase 8 Besar sebagai runner up.
Hitung-hitungan aduhai inilah yang saya sebut sebagai bagian dari keajaiban. Bahkan tetap ajaib andaikan situasi ini terjadi pada permainan strategi Football Manager sekali pun.
Mari kita lihat hitung-hitungan yang lebih logis. PSMS mungkin bisa menang dari PSIS dan Persita. Namun mengharapkan Persita mengadang Persibat di Batang levelnya boleh dikata nyaris mustahil.
Apa kepentingan Persita? Mereka sudah tersingkir. Satu-satunya harapan bagi PSMS adalah jika Persita berpikir mereka datang ke Batang untuk menghapus noda di wajah. Bertarung demi harga diri. Masak mau kalah terus, apa tak malu?
Kita ambil kemungkinan terburuk. Persita memang ngotot namun tetap kalah lantaran Persibat juga tak kalah ngotot. Tiba di laga terakhir. Sama-sama mengoleksi poin 10 akan membuat PSIS dan Persibat bermain santai. Laga sama-sama senang. Tetangga yang baik tak mungkin saling bunuh, bukan? Jadi sekiranya pun PSMS menang dari Persita, poin PSMS tetap kalah.
Mana yang akan terwujud? Yang dicampurtangani keajaiban atau yang berangkat dari hitungan logis? Kita lihat nanti, dan sebaiknya, apa pun hasilnya, tak usah dipandang terlalu penting lagi. Sebab yang terpenting sudah lewat jauh di belakang. Yakni pertanyaan apakah manajemen memang sungguh-sungguh berniat membawa PSMS keluar dari keterpurukannya?
Saya kira ini ambigu. Antara niat tak niat. Bahkan sejak awal manajemen PSMS justru lebih sering menelurkan kebijakan-kebijakan aneh, yang mau tak mau, akhirnya memunculkan kecurigaan perihal keseriusan tadi.
Paling mencolok adalah pergantian pelatih. Pergantian dari Slamet Riyadi ke Mahruzar Nasution dilakukan tanpa alasan yang betul-betul jelas. Kecuali semacam kilah, bahwa Slamet sebenarnya hanya ditunjuk sebagai koordinator pembentukan tim. Sebab jika bicara track record dan pengalaman, Slamet jelas lebih baik dari Mahruzar yang belum pernah sekali pun menangani klub profesional di kompetisi nasional. Slamet pernah menangani Pro Duta dan Kwarta.
Mahruzar ternyata berhasil membawa PSMS lolos ke 16 besar. Kemudian, tak diduga, dia dicopot pula, diganti Djajang Nurdjaman (Djanur). Pergantian bahkan dilakukan hanya berselang kurang sepekan sebelum laga kontra PSIS. Alasannya lagi-lagi kabur. Selentingan beredar Mahruzar dikembalikan ke tim dari mana dia sebelumnya dicomot.
Ini bukan lagi sekadar konyol. Di kompetisi sepakbola di belahan bumi mana pun, tak ada pelatih diberhentikan saat kondisi tim sedang di puncak dan kompetisi memasuki fase penting.
Maka jangankan Djanur, Jose Mourinho atau Josep Guardiola sekali pun yang menggantikan Mahruzar, hasilnya pasti tetap jeblok. Apalagi, di lain sisi, secara umum materi pemain PSMS tak bagus-bagus amat. Cuma bagus-bagus jambu. Bagus sekali tidak, buruk sekali pun tidak.
Terus terang, di awal sekali, saya sempat optimistis, bahwa dengan manajerial baru PSMS akan memasuki era kebangkitan. Sekarang keoptimistisan itu surut jauh. Berganti kebingungan.
Ada apa dengan manajeman yang tadinya sangat bersemangat? Sebenarnya, mau ke mana PSMS ini mereka bawa? Ke gelanggang kejayaan, atau sekadar jadi kendaraan politik orang-orang tertentu, untuk kemudian ditinggalkan dengan kerusakan lebih parah?
Jangan begitulah, kawan.(t agus khaidir)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/psms1_20171005_143315.jpg)