Usai Dokter Ditampar dan Pahanya Dipegangi Ketua DPRD, 17 Dokter Magang Dipindahkan

Kementerian Kesehatan menarik 17 dokter internship atau magang yang ada di Kabupaten Lebong, Bengkulu

Tayang:
Ketua DPRD Lebong Teguh Raharjo Eko Purwoto (dok.pribadi/Tribunnews) 

TRIBUN-MEDAN.com, BENGKULU - Pasca-insiden penamparan seorang dokter oleh Ketua DPRD Lebong Teguh Raharjo Eko Purwoto, Kementerian Kesehatan menarik 17 dokter internship atau magang yang ada di Kabupaten Lebong, Bengkulu, Kamis (5/10/2017), termasuk dr I yang ditampar oleh ketua dewan.

Para dokter magang tersebut dipindahkan ke Rumah Sakit Rafflesia dan Puskesmas Ratu Agung di Kota Bengkulu.

Bupati Lebong Rosjonsyah mengatakan, tak ada persoalan yang muncul saat para dokter tersebut ditarik dari wilayahnya meski sisa waktu magang para dokter masih sekitar 4 bulan lagi.

"Tak masalah pelayanan rumah sakit akan tetap berjalan normal melayani masyarakat," tutur Rosjonsyah.

Dia pun berharap, kejadian serupa tak terulang lagi.

"Saya berharap kedua belah pihak saling mengevaluasi agar situasi tetap kondusif. Pelayanan di RSUD Lebong akan saya evaluasi," ujar Rosjonsyah.

Menurut dia, sejauh ini, situasi di Kabupaten Lebong tetap kondusif pelayanan di RSUD Lebong berjalan seperti biasanya dan begitu pula aktivitas di lembaga DPRD.

"Kondusif, semoga ini menjadi evaluasi bersama, saya juga sudah peringatkan manajemen rumah sakit untuk memperbaiki layanan rumah sakit," ujarnya dihadiri perwakilan Kemenkes, RSUD Lebong, Komite Internship Dokter Indonesia (KIDI) Wilayah Bengkulu dan Dinas Kesehatan Kabupaten Lebong.

Seperti yang diketahui seorang dokter di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Lebong, Kabupaten Lebong, Provinsi Bengkulu, dilaporkan telah ditampar oleh Ketua DPRD setempat, Teguh Raharjo Eko Purwoto.

Direktur RSUD Lebong, Selviana, Minggu (17/9/2017), mengatakan, peristiwa penamparan itu terjadi dua hari lalu. Namun Selviana tidak menyebutkan nama dokter yang ditampar.

"Kasus penamparan yang dilakukan oleh Ketua DPRD Lebong (itu menimpa) terhadap salah seorang dokter. Itu salah paham saja," kata Selviana seperti yang dilansir Tribun Medan dari Kompas.com. 

Masih menurut Selviana, kasus itu telah dilaporkan ke Polres Lebong. "Itu ada salah paham. Namun perkara ini sudah dilaporkan korban ke Polres Lebong," kata dia.

Kabar tentang seorang dokter ditampar ketua DPRD setempat itu cukup santer di masyarakat Kabupaten Lebong.

Dari keterangan yang diperoleh, penemparan itu bermula saat Ketua DPRD Lebong itu membesuk rekannya di rumah RSUD Lebong.

Ketua DPRD Kabupaten Lebong, Bengkulu, Teguh Raharjo Eko Purwato, membantah bahwa dirinya menampar wajah seorang dokter di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Lebong berinisial I. Dia mengaku, hanya mencolek pipi dokter tersebut.

Saat dihubungi, dia menceritakan kronologi kejadian tersebut. Pada malam kejadian itu, Raharjo mengaku tengah menghadiri sebuah hajatan milik warga. Di tengah hajatan, dia menerima telepon dari seorang anggota DPRD bernama Popiansyah.

"Popiansyah dirawat di RSUD Kabupaten Lebong karena mengalami infeksi kaki. Dia sudah dua hari dirawat dan mendapatkan suntikan antibiotik, namun karena mengidap diabet tinggi, Popiansyah tak kunjung sembuh, dan menderita sakit berkepanjangan berteriak-teriak. Sambil menelepon saya, dia mohon disidak pelayanan di RSUD Lebong," ujar Raharjo dalam klarifikasinya pada Kompas.com melalui telepon, Selasa (19/9/2017).

Saat itu, Raharjo menjelaskan kepada Popiansyah bahwa dia belum bisa segera menjenguk ke rumah sakit karena masih menghadiri acara jamuan masyarakat. Selang beberapa waktu, Popiansyah kembali menelepon Raharjo sambil mengerang.

"Saya menjadi khawatir karena mendengar dia mengerang sepertinya sakit sekali," jelasnya.

Selepas jamuan, Raharjo mengaku langsung melakukan inspeksi mendadak ke RSUD Lebong dengan terlebih dahulu menghubungi Direktur RSUD Lebong dr Silvia. Di rumah sakit, dia masuk dulu ke salah satu kamar rumah sakit dan bertemu dengan warga yang dikenalnya. Warga tersebut mengantar cucunya yang sakit.

"Saya bertemu dengan rekan lain, kebetulan cucunya dirawat karena hidungnya kemasukan lipstik. Saya sempat berbincang menggunakan bahasa daerah," ungkapnya.

Saat berbincang dengan pihak keluarga, seingat dia, terdapat sekitar enam orang berada di sekitarnya, termasuk dokter I.

"Saat itu saya tanya, 'mana dokternya, apakah anak ini sudah diperiksa?'" kata Raharjo menirukan ucapannya saat itu.

Pertanyaannya dijawab oleh dokter I. Menurut Raharjo, dokter tersebut menjawab sambil menunjuk dadanya.

"Ini dokter, ini dokter, ini dokter, pasiennya sudah diperiksa," kata Raharjo menirukan jawaban dokter I.

"Nah saya menjadi agak aneh kenapa saat menjawab pertanyaan saya, kok dokter harus menunjuk dada sambil menjawab 'ini dokter'. Saya bilang, 'saya heran, dokter itu saya tanya kenapa Anda seperti tersinggung. Dek, saya ini cuma tanya kenapa Anda seperti tersinggung sambil menunjuk dada'," tambah Raharjo menirukan ucapannya pada dokter I.

Melihat suasana kurang baik, Raharjo akhirnya meninggalkan dokter I dengan dokter lainnya. Dia lalu menuju ruangan tempat anggota DPRD Popiansyah dirawat. Saat berjalan, dia mengaku sempat mengeluhkan sikap dokter I kepada sopir pribadinya yang kebetulan ikut mendampingi.

"Alangkah sombong dokter ini, ada apa ya?" katanya mengulang ucapannya kepada sang sopir.

Lalu ketika tiba di ruangan tempat Popiansyah dirawat, ternyata dia tidak mendapatinya.

"Ternyata saat saya ke ruangan Pak Popi, dia sudah dirujuk ke rumah sakit di Kabupaten Rejang Lebong, Curup. Maka saya menuju pulang. Saat pulang, melintas lagi di ruang sebelumnya dan masih ada dokter I. Lalu saya ajaklah dokter I bicara empat mata di tempat terpisah," tuturnya.

Di ruangan itu, Raharjo dan dokter I bicara empat mata sambil duduk berhadapan. Dia mengaku sempat memegang paha dokter I dengan sedikit keras sambil bicara. Raharjo menuturkan, dia hanya menanyakan kenapa dokter I mudah tersinggung saat dirinya bertanya.

"Dek, jangan mudah tersinggung, saya hanya bertanya tadi," kata Raharjo kembali mengulang pernyataannya saat itu.

Menurut Raharjo, dokter I menjawab bahwa dirinya tidak tersinggung. Raharjo lalu mengingatkan dokter I bahwa mereka berdua sama-sama pelayan masyarakat. Dia pun sempat bertanya tentang dirinya kepada dokter I.

"Saya tanya, 'Anda kenal saya?'. Lalu dia jawab 'tidak kenal, Pak'. Saat itulah saya sentuh pipinya dengan jari, saya towel tidak ada penamparan," tutur Raharjo.

Menurut dia, saat mencolek pipi dokter I lah tiba-tiba seorang dokter perempuan berinisial Y datand lalu berteriak bahwa Raharjo menampar dokter I.

"Karena dokter Y berteriak keras, maka muncullah kegaduhan hingga ada juga pasien dan ramai orang. Mereka berteriak juga akan lapor ke polisi," ungkap Raharjo.

Setelah itu, dia meninggalkan rumah sakit lalu menghubungi Direktur RSUD Lebong. Dia mengatakan, jika ada penamparan, maka seharusnya ada bekas tamparan di pipi dokter I.

"Silakan divisum apakah ada bekas tamparan karena bukan tamparan. Saya cuma mentowel pipi, bukan menampar. Ini juga sudah saya klarifikasi ke polisi, direktur, dan dalam dengar pendapat di DPRD sudah saya sampaikan," kata dia.

Sejauh ini pihaknya masih melakukan upaya damai dengan dokter I.

Sumber: Tribun Medan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved