Baca Edisi Cetak Tribun Medan

Sehari-hari Mengambil Air dari Jurang, Harpen Sedih Anaknya Tak Mandi ke Sekolah

Selain persoalan krisis listrik Kabupaten Dairi juga mengalami krisis air bersih.

Sehari-hari Mengambil Air dari Jurang, Harpen Sedih Anaknya Tak Mandi ke Sekolah
Tribun Medan/Tommy Simatupang
Seorang warga di Desa Batu Sindor Sidikalang menunjukkan material program sumur bor yang terbengkalai, Jumat (13/10/2017). 

SIDIKALANG, TRIBUN -Selain persoalan krisis listrik Kabupaten Dairi juga mengalami krisis air bersih. Kabupaten yang baru saja merayakan hari jadi ke 70 tahun ini masih belum menyelesaikan persoalan-persoalan penting di masyarakat.

Seorang warga, Harpen Naibaho yang bertempat tinggal di Desa Batu Sindur Sidikalang mengaku hingga saat ini mengambil air dari mata air yang berada di hutan. Bahkan persoalan fasilitas air bersih telah terjadi sejak dulu.

Saat ditemui Tribun/www.tribun-medan.com, Harpen mengungkapkan rasa sedihnya jika melihat anaknya yang tak pernah mandi saat hendak ke sekolah.

"Kami ada sekitar 50 kepala keluarga. Di sini tidak ada masuk PDAM. Kami mengambil air dari jurang untuk keperluan sehari-hari. Anak-anak begitu kesulitan ke sekolah saat pagi hari karena hanya cuci muka saja. Kalau mengharapkan hujan kan sulit, apalagi saat kemarau," ujarnya, Jumat (13/10).

Ia mengungkapkan pemerintah pernah membuat program sumur bor, namun material terbengkalai karena daya listrik tak mencukupi. Karena persoalan listrik yang kurang, pihaknya juga sempat mengeluhkan ke PLN, tetapi tak ada respons.

"Kita sudah pernah demo PLN untuk buat tiang dan travo, tetapi belum ada realisasi, kita hanya buat tiang dari bambu dan pohon di depan rumah. Maka kami sangat berharap bisa dibantu," katanya.

Persoalan air bersih juga dialami Riska Naipospos, warga Desa Barisan Nauli. Riska Naipospos mengaku tak sanggup menarik air bersih lantaran biaya pemasangan sangat mahal, sebesar Rp 3 juta. Masyarakat lebih memilih menggunakan sumur bor atau penampungan air hujan.

"Kalau kami tak sanggup karena pemasangan air sampai Rp 3 juta," katanya.

Kabupaten ini memiliki perusahaan daerah air minum (PDAM) Tirta Nciho Sidikalang. Dari 15 kecamatan baru 12 kecamatan yang teraliri air hingga ke rumah. Namun, hanya sebagian kecil desa dari 12 kecamatan tersebut yang sudah terpasang air bersih.

Pemerintah pun menggunakan alternatif proyek sumber air bersih (PSAB) atau sebuah tong untuk puluhan kepala keluarga.

Halaman
123
Editor: Liston Damanik
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved