Tanggulangi Krisis Air, PDAM Mesti Siapkan Cadangan Pipa, Bukan Korbankan Pelanggan

PDAM Tirtanadi dalam menyelesaikan keluhan pelanggan tidak profesional, karena PDAM Tirtanadi tidak punya alternatif

Tanggulangi Krisis Air, PDAM Mesti Siapkan Cadangan Pipa, Bukan Korbankan Pelanggan
Tribun Medan/Arifin
Pipa PDAM Bocor seperti air mancur di jalan Gatot Subroto KM 7,5 Medan, Sabtu (21/10/2017). 

Laporan Wartawan Tribun Medan / Ryan Achdiral Juskal

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Sekretaris Lembaga Advokasi Perlindungan Konsumen (LAPK), Padian Adi mengatakan, menanggulangi krisis air yang diakibatkan kebocoran pipa, PDAM Tirtanadi harus menyediakan cadangan pipa yang dapat digunakan sewaktu-waktu, jika terjadi kebocoran dan pecah pipa, tanpa harus menunggu pemesanan kepada produsen.

"Pelanggan tidak boleh dibiarkan menerima alasan PDAM Tirtanadi untuk bersabar dengan kualitas pelayanan yang tidak maksimal sepanjang menunggu pesanan pipa pengganti yang pecah datang. Tentu PDAM harus mencarikan solusi, agar distribusi air kepada pelanggan tetap berjalan. Apakah menurunkan mobil tangki air di kawasan tertentu atau memberikan suplai air dari IPA yang ada," ungkapnya Senin (23/10/2017).

Sesungguhnya, lanjutnya, PDAM Tirtanadi sedang membuka borok sendiri ketika beralasan pipa yang pecah harus menunggu ditempah, karena penyertaan modal yang selama ini diberikan Pemprovsu.

Baca: Ini Konyol, Bikin Ngakak, Maling Tinggalkan Surat Berisi Identitas dan Pesan di Lokasi Pencurian

Baca: Gelombang Suhu Terlalu Panas akan Menerpa Asia, Kapan Itu Terjadi? Berikut Penjelasan Pakar

"Anggaran ada, bocornya karena kualitas infrastruktur pipa saluran air, bukan malah membaik malah secara bergiliran mengalami kebocoran dan pecah," jelasnya.

Ditambahkannya, PDAM Tirtanadi dalam menyelesaikan keluhan pelanggan tidak profesional, karena PDAM Tirtanadi tidak punya alternatif untuk mengatasi masalah yang tiba-tiba terjadi, pipa yang pecah atau bocor, selain menunggu rusak dulu baru pipanya ditempah.

Selain itu, ada kesan acuh tak acuh terkait keluhan pelanggan dan memaksa pelanggan untuk bersabar menerima alasan yang disampaikan.

"Petinggi PDAM tidak menjadikan pelanggan sebagai aset dan acuan dalam menjalankan pelayanan, tetapi terkesan indikator pelayanan itu adalah Gubsu. Ketika Gubsu tidak melakukan evaluasi kepada PDAM Tirtanadi maka bagi Petinggi PDAM tidak ada masalah, walaupun kualitas air keruh dan aliran air mati," pungkasnya.
(raj/tribun-medan.com)

Penulis: Ryan Achdiral Juskal
Editor: Salomo Tarigan
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved