Larang Hormat Bendera, Murid SD Mudah Kafirkan Temannya yang Tak Berjilbab di Sumut
"Saya prihatin. Ada murid kelas dua SD, hanya gara-gara temannya tidak mengenakan jilbab, dia menyebut kafir," ujar KH Machfoedz
Laporan Wartawan Tribun Medan / Fatah Baginda Gorby
TRIBUN-MEDAN.com - Ketua Forum Kiai Muda Sumatera Utara KH Machfoedz Siddiq Muslih menyatakan keprihatinannya terhadap paham radikalisme yang sudah masuk ke kalangan murid sekolah dasar.
Ia mengaku memiliki data banyak sekolah, yang praktik belajar-mengajar potensial menumbuhkembangkan paham intoleransi dan anti-Pancasila.
Baca: Kisah Cinta Romeo dan Juliet Modern: Sejoli Ini Menikah setelah 40 Tahun Menunggu
Baca: Dokumen CIA Dibuka, ternyata Presiden Sukarno termasuk Target yang Harus Dibunuh
"Banyak sekolah melarang murid menghormat bendera. Di Sumatera Utara banyak, saya tahu. Bahkan ada satu dua pondok pesantren juga berpotensi mengajajarkan bibit radikalisme dan intoleransi," ujar Machfoedz saat berkunjung ke redaksi Tribun-Medan.com di Jalan Wahid Hasyim 37, Medan, Senin (12/6/2017).
Pengurus Himpunan Alumni Santri Lirboyo (Himasal) Sumut ini meneruskan keperihatinannya saat praktik pendidikan anak-anak sekolah dasar sudah terjebak pada pemikiran sempit.
"Saya prihatin. Ada murid kelas dua SD, hanya gara-gara temannya tidak mengenakan jilbab, dia menyebut kafir," ujar pria asal Jawa Tengah dan lulusan Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur.
Baca: Meme Sumpah Pemuda, Tulisan Ridwan Kamil Ngena Banget
Baca: Menggugah Hati, Pidato Jokowi pada Peringatan Sumpah Pemuda
Menurutnya Machfoedz, menghadapi makin maraknya sikap, perilaku dan tindakan intoleran akhir-akhir ini, Forum Kiai Muda Sumatera Utara akan bekerja sama dengan instansi pemerintah guna meminimalisir potensi radikalisme di kalangan para pelajar.
Walau demikian, Machfoedz sadar, Forum Kiai Muda tidak memiliki kewenangan apa-apa. Pemerintahlah yang seharusnya berwenang melakukan tindakan.
"Kami mengajak berdiskusi melalui beberapa pendekatan," kata warga Stabat, Kabupaten Langkat.
Baca: Selalu Pakai Emas Seberat 1 Kg, Ternyata Pekerjaan Perempuan Ini Sangat Mengejutkan
Baca: Mempelai Wanita Menangis hingga Pingsan, Mantan Pacar Gendong dan Bawa Pergi dari Pesta Pernikahan
Menurut Machfoedz, pendidikan formal agama di sekolah-sekolah sebaiknya jangan dikurangi, malah ditambah. Baginya Kementerian Agama dan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mempunyai tanggung jawab dalam hal ini.
Bagi pria berpeci hitam itu, pendidikan Pancasila pun masih relevan dan perlu ditingkatkan di kalangan pelajar muda.
"Dengan minimnya pemahaman terhadap Pancasila, maka inilah akibat yang terjadi. Bangsa ini rentan sekali mengalami perpecahan," ujarnya.
Ia juga menjelaskan, Forum Kiai Muda Sumatera Utara sudah melakukan kegiatan-kegiatan yang menyosialisasikan kerukunan antarumat beragama.
Di antaranya, kunjungan Forum ke pondok-pesantren, lintas agama, fakultas-fakultas di Universitas Sumatera Utara.
PBNU Identik dengan Identitas Indonesia
KH Machfoedz Siddiq Muslih merupakan anggota organisasi Islam terbesar di Indonesia, Nahdatul Ulama (NU). Dan Forum Kiai Muda banyak berasal dari tokoh agama Islam dari kalangan NU.
Sebagai warga NU, ia tahu betul induk organisasinya, yakni Pengurus Besar Nahdatul Ulama (PBNU). Organisasi ini sekarang dipimpin Said Aqil Siradj selaku Ketua Tanfidziyah PBNU. Sebelumnya jabatan serupa dipegang KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur, dan KH Hasyim Muzadi.
Nahdlatul Ulama didirikan pada 31 Januari 1926, dan kala itu dipimpin KH Hasyim Asy’ari, kakek Gus Dur. NU terkenal sebagai organisasi yang sangat menjunjung dan garda terdepan menjaga Pancasila dan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang terdiri atas masyarakat heterogen, majemuk.
Terkait peran serta NU alam berbangsa-bernegara, Machfoedz bahkan mengidentikkan PBNU dengan empat pilar kebangsaan.
"PBNU itu sudah mengisyaratkan sebenarnya. P itu Pancasila, N-nya NKRI, B-nya itu Bhineka Tunggal Ika, dan U-nya Undang-Undang Dasar 1945," kata kepada Tribun-Medan.com.
Menurutnya, seperti NU, ormas-ormas Islam harus mempunyai tujuan yang sama dalam mengikat kebhinekaan bangsa ini.
Machfoedz menganjurkan agar semua elemen bangsa dapat meniru prinsip dan praktik perjuangan mendiang KH Abdurrahman Wahid.
"Kenegerawanan Gus Dur sangat perlu kita contoh, beliau itu orang yang berpikir jauh ke depan dari masanya. Banyak orang mengaggap remeh pada masa itu, tetapi Gus Dur mengatakan, biarlah sejara yang mencata. Dan terbukti sekarang, apa yang diperjuangankan Gus Dur yakni toleransi, demokrasi dan Pancasila sangat penting," ujarnya.
Ia menambahkan, Pancasila itu sudah sesuai dengan nilai-nilai islam yang ada.
"Sila pertama Ketuhanan Yang Maha Esa itu identik dengan surat Al-Ikhlas," katanya.
Bagi Machfoedz, Indonesia harus bersyukur sudah diikat oleh semboyan Bhineka Tunggal Ika, biar berbeda-beda tetapi tetap satu juga. Menurutnya, falsafah bangsa itu bisa mengikat semua elemen yang berbeda-beda.
Nilai-nilai Pancasila, seperti gotong royong bagi Machfoedz adalah cara efektif untuk membangun komunikasi yang baik di masyarakat.
Ia juga menegaskan bahwa Pancasila tidak bertentangan dengan nilai-nilai Islam. "Kalau ada orang yang mengaku Islam, tetapi menolak Pancasila, berarti orang itu masih dalam tahap belajar tentang Islam. Maka itu, kita ajak agar terus belajar Islam. Bila perlu, kami bersedia menuntun dan mengajari, bahwa Pancasila, tidak bertentangan dengan Islam."
Machfoedz Siddiq Muslih pun mengajak Umat Islam agar mempelajari Alquran terlebih dahulu sebelum bertindak. Menurut Alumni Pondok Pesantren Lirboyo Jawa Timur ini masih banyak muslim yang melakukan tindakan duluan, kemudian mencari pembenarannya di dalam Alquran.
Ia menceritakan keprihatinannya terhadap oknum pemuka agama yang ingin memecah belah umat.
"Banyak yang mendahulukan formalitas, ketimbang substansi," kata Machfoedz.
Menurut pria berpeci hitam itu, seorang pemuka agama tidak boleh menjadi seorang politisi. Baginya, tugas seorang ulama adalah menasihati para politisi.
Ia juga mengajak kepada seluruh pemuka agama untuk turun ke lapangan agar menjaga keberagaman.
"Jangan berpikir uang dulu, uang tidak ada artinya bagi kepentingan bangsa dan negara ke depan," ujarnya.
Ia juga berharap ormas-ormas Islam terbesar seperti Nahdatul Ulama, Alwasliyah dan Muhammadiyah bisa bersatu dalam memberikan pengertian ke pada masyarakat. (cr7/tribun-medan.com)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/murid-sd-saat-upacara-bendera_20171027_225109.jpg)