Breaking News:

Pantang Jadi Pengemis, Tuna Netra Ini Lakukan Ini Hidupi Istri dan 2 Anaknya

Di tengah kepadatan arus kendaraan bermotor, tampak lelaki memakai kopiah putih, bertongkat, dan ada lilitan

tribun-medan/ Fatah Baginda Gorby
Ridwan dengan barang dagangannya 

Laporan Wartawan Tribun-Medan/ Fatah Baginda Gorby

 TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Di tengah kepadatan arus kendaraan bermotor, tampak lelaki memakai kopiah putih, bertongkat, dan ada lilitan tali yang menggantung pada badannya. Tali tersebut, mengikat aneka plastik yang berisi makanan ringan seperti kerupuk, kacang, dan lainnya.

Pria ini berdiri di tengah persimpangan bak seorang polisi lalu lintas namun tanpa seragam dan pluit, ia bermaksud menyeberang namun kesulitan karena masalah penglihatan.

Ia adalah Ridwan, warga Jalan Sampul Ayahanda Gang Penjalin berprofesi sebagai tukang kerupuk keliling.

"Saya baru dari Pasar 4 Padang Bulan, sejak pagi tadi," ujarnya kepada tribun-medan.com, Selasa (2/11/2017).

Pria yang memiliki keterbatasan indera penglihatan ini mengaku dirinya berjualan kerupuk baru sebulan. Sebelumnya ia berprofesi sebagai tukang pijat dan bernyanyi di pom bensin.

"Suara saya sudah serak, pasien pijat juga sudah sepi. Saya memutuskan untuk berjualan saja, lagipula menyehatkan," ujarnya sembari tersenyum.

Ridwan menuturkan untuk membiayai seorang istri yang juga tuna netra dan kedua orang anaknya, ia harus membanting tulang. Pasalnya, kedua anaknya sudah bersekolah di tingkat SMP.

"Tak ada lagi yang saya harapkan, saya bekerja seperti ini untuk kedua anak saya agar bisa bersekolah. Saya memimpikan mereka kelak menjadi seorang guru," ungkapnya.

Ridwan menjual kerupuk miliknya seharga Rp 17 ribu. Namun, tak jarang para pembeli menawarnya.

Kerupuk beserta penganan lain itu bukanlah kepunyaan Ridwan, ia hanya menjual serta mengambil untung beberapa Rupiah saja dari barang dagangannya itu.

Barang tersebut menurut Ridwan merupakan milik koperasi organisasi Persatuan Tuna Netra Indonesia (Pertuni). Apabila laku, nantinya Ridwan mengembalikan modal kepada organisasi tersebut.

Ia menjelaskan, koperasi tersebut merupakan swadaya dari para tuna netra lintas profesi.

Pria yang terkena glukoma akut sejak usia 14 tahun ini bercerita, dirinya selalu memberitahu berapa modal dan untung yang didapatkannya kepada sang pembeli.

Halaman
12
Sumber: Tribun Medan
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved