Seratusan Siswa SMP Katolik ke Pesantren Tebuireng, Sempat Gugup lalu Kaget, Kenapa?

Sebanyak 160 siswa dari SMP Katolik Kanisius Jakarta, Oktober lalu, singgah ke pesantren Tebuireng, yang pernah diasuh langsung Gus Dur.

Seratusan Siswa SMP Katolik ke Pesantren Tebuireng, Sempat Gugup lalu Kaget, Kenapa?
dokumen
Pesantren Tebuireng, yang perah diasuh Bapak Pluralisme Gus Dur 

TRIBUN-MEDAN.COM - Di tengah tensi intoleransi yang masih memanas, berbagai pihak berinisiasi untuk mengatasi upaya segregasi akibat radikalisme dan isu SARA.

Satunya adalah dengan para pelajar non-Muslim yang berkunjung ke pondok pesantren Tebuireng di Jombang, Jawa Timur.

Sebanyak 160 siswa dari SMP Katolik Kanisius Jakarta, Oktober lalu, singgah ke pesantren Tebuireng, yang pernah diasuh langsung oleh mantan presiden yang acap kali menggaungkan pluralisme, Abdurahman Wahid atau Gus Dur.

Salah seorang siswa, Mikhail Prima Angelo Hanapie, mengaku baru pertama kalinya dia mengunjungi pesantren dan ketika menginjakkan kaki ke dalam pesantren, ia mengaku sedikit gugup.

"Awalnya agak sedikit gugup ya karena kita tidak tahu keadaan dan suasananya akan bagaimana. Namun ketika sampai dan masuk ke aula, mereka sangat sopan dan terbuka. Saya agak kaget betapa mereka sangat terbuka ketika kami datang," ujar siswa kelas IX yang akrab disapa Mikha kepada BBC Indonesia.

Mikha menjelaskan, dalam pertemuan tersebut, pihak pesantren yang diwakili oleh Lukman Hakim menjelaskan tentang sejarah pesantren yang dididirikan oleh KH Hasyim Asy'ari, salah satu pahlawan nasional yang juga pendiri Nahdlatul Ulama, organisasi massa Islam terbesar di Indonesia.

Tebuireng

Mantan presiden yang acap kali menggaungkan pluralisme, Abdurahman Wahid -yang akrab dipanggil Gus Dur- pernah menjadi pengasuh pesantren Tebuireng

Lukman Hakim dari pesantren Tebuireng membeberkan hal-hal yang dijelaskan kepada pelajar dalam kunjungan tersebut. Selain sejarah pesantren, para pelajar juga penasaran dengan cara belajar di pesantren yang notabene berbeda dengan sekolah kebanyakan,

"Mereka menanyakan kedisplinan santri seperti apa, aturan-aturan pondok itu bagaimana. Mungkin waktu itu tidak menyangka kalau di pesantren kita tekankan ada nilai-nilai pesanren, ada kejujuran, keikhlasan, kerja keras dan lain sebagainya. Itu yang kita sampaikan bahwa santri dianggap tidak lulus kalau dianggap tidak mampu menjalankan keikhlasan, kejujuran dan lain sebagainya," ujarnya.

Beberapa minggu sebelumnya, pesantren Tebuireng juga disambangi oleh sekelompok pelajar dari Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI). Pesantren ini menjadi salah satu dari destinasi Parade Kebangsaan -upaya untuk mengatasi upaya segregasi (pemisahan atau pengasingan) di tengah masyarakat Indonesia yang majemuk.

Halaman
1234
Editor: Tariden Turnip
Sumber: bbc
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved