Beredar Sprindik SP3 Palsu, Diduga Digunakan Oknum Polisi untuk Memeras Politeknik Negeri Medan

Asisten Pidana Khusus Kejati Sumut, Agus Salim berang menanggapi munculnya surat perintah penyidikan (Sprindik) palsu

Beredar Sprindik SP3 Palsu, Diduga Digunakan Oknum Polisi untuk Memeras Politeknik Negeri Medan
Kejaksaan Tinggi Sumut 

TRIBUN-MEDAN.COm - Asisten Pidana Khusus Kejati Sumut, Agus Salim berang menanggapi munculnya surat perintah penyidikan (Sprindik) palsu yang mencatut nama korps adhyaksa tersebut.

Terungkapnya Sprindik palsu ini bermula dari munculnya nama  personel Pelayanan Masyarakat (Yanma) Polda Sumut, Briptu MS disebut-sebut melakukan dugaan pemerasan terhadap Politeknik Negeri Medan.

Briptu MS memerintahkan dua orang kurir untuk mengantarkan sepucuk surat ke Politeknik Negeri Medan, Rabu (2/11/2017) sekitar pukul 13.00 WIB.

 
Kedua kurir ini bernama Ak (30) warga Pasar Bengkel Perbaungan, dan IL (27) warga Desa Kota Galo, Perbaungan. Briptu MS memfasilitasi kedua kurir ini dengan meminjamkan mobil pribadinya Honda City BK 1896 AP.

SP3 palsu yang mencatut nama Kejati Sumut yang digunakan oknum personel Yanm Polda Sumut Briptu Muhammad Syamrigo untuk diduga memeras Politeknik Negeri Medan.
SP3 palsu yang mencatut nama Kejati Sumut yang digunakan oknum personel Yanm Polda Sumut Briptu Muhammad Syamrigo untuk diduga memeras Politeknik Negeri Medan. (TRIBUN MEDAN/Aziz Husain)

"Saya tentu merasa sangat keberatan, nama saya dicatut oknum untuk melakukan dugaan percobaan pemerasan. Dari logo dan konsepnya saja sudah kelihatan kalau ini memang palsu. Bukan saya yang tanda tangani itu," kata Agus Salim saat ditemui di Kejati Sumut, Jumat (3/11/2017).

Menangapi pencatutan dan penghancuran institusi oleh oknum polisi tersebut, Kejati akan mendalami kasus ini sebelum melaporkannya ke pihak yang berwajib.

"Ini gak benar dan palsu. Kita akan dalami terkait hal ini. Terima kasih sudah menyampaikannya. Fotokopi sprindik palsu ini saya pelajari dulu," ujar Agus Salim.

Setibanya kedua kurir Politeknik Negeri Medan sekitar pukul 14.00 WIB sesuai perintah Briptu MS, keduanya berhadapan dengan sekuriti dan mengatakan, bahwa ada sepucuk surat dari Briptu MS.

Akmal Akmal (30) warga Pasar Bengkel Perbaungan, dan Indra Lesmana (27) warga Desa Kota Galo, Perbaungan saat berada di Polrestabes Medan, Kamis (2/11/2017).Kedua kurir mengaku disuruh Briptu MS untuk mengantar SP3 palsu untuk memeras Politeknik Negeri Medan.
Akmal Akmal (30) warga Pasar Bengkel Perbaungan, dan Indra Lesmana (27) warga Desa Kota Galo, Perbaungan saat berada di Polrestabes Medan, Kamis (2/11/2017).Kedua kurir mengaku disuruh Briptu MS untuk mengantar SP3 palsu untuk memeras Politeknik Negeri Medan. (TRIBUN MEDAN/Aziz Husain)

Setelah surat disampaikan, pihak Politeknik Negeri Medan curiga dengan surat tersebut.
Bahwa dalam surat yang pokoknya berisi Surat Pemberitahuan Penghentian Penyidikan (SP3) tentang adanya dugaan penyimpangan anggaran dana praktikum sejak 2011 sampai dengan 2017.

Briptu MS diduga membuat SP3 palsu yang ditandatangani langsung Asisten Pidana Khusus Kejati Sumut Agus Salim tanggal 2 November 2017. 

Adapun isi SP3 palsu itu yakni, Laporan Pertanggung Jawaban (LPj) dan pernyataan mahasiswa yang diketahui orangtua/wali tentang banyaknya pungutan liar terhadap mahasiswa Politeknik Medan serta Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) yang belum disetorkan ke kas negara.

Ternyata SP3 palsu yang seluruhnya dibuat Briptu MS ini ketahuan oleh pihak Politeknik Negeri Medan, lalu menginterogasi kedua kurir tersebut. (ase/tribun-medan.com)

Penulis: Azis Husein Hasibuan
Editor: Salomo Tarigan
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved