Pantang Menyerah, Pasien Pijit Sudah Sepi, Ini yang Dilakukan Wanita Ini

Bila anda sedang mengisi bahan bakar di pom bensin, maka tak jarang pasti melihat tuna netra yang duduk

Pantang Menyerah, Pasien Pijit Sudah Sepi, Ini yang Dilakukan Wanita Ini
Tribun Medan/Fatah
Seorang pengendara menyisihkan uangnya untuk Rahmita Ginting yang sedang bernyanyi. 

Laporan Wartawan Tribun-Medan/ Fatah Baginda Gorby

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Bila anda sedang mengisi bahan bakar di pom bensin, maka tak jarang pasti melihat tuna netra yang duduk di pelataran area pengisian bensin tersebut.

Jika anda melihatnya, mungkin saja anda pernah berjumpa dengan wanita yang satu ini sambil mendendangkan sebuah lagu. Rahmita Ginting begitu dia menyebutkan namanya kepada tribun-medan.com, Minggu (5 /11).

“Beginilah hidup di jalanan, rezekinya tak tentu, kadang bisa banyak seperti ini, kadang sangat sedikit, yang penting udah usaha,” ujarnya sambil memasukkan uang di dapatkannya ke dalam kantong yang setia menemaninya.

Wanita 45 tahun ini adalah seorang seniman jalanan jalanan. Bila artis ibukota memiliki panggung yang dikelilingi kerumunan penonton, namun tidak dengan Rahmita.

Ia tidak memiliki penonton atau pendengar setia, nada sendu yang dinyanyikannya dibalas oleh suara gemuruh mesin kendaraan bermotor di tempat itu. Namun ia, tetap setia pada profesinya tersebut.

Rahmita menuturkan dirinya baru setahun menekuni profesi itu,demi mencukupi kebutuhan diri dan satu orang anaknya. Suaminya meninggal setahun lewat. Sebelumnya,Rahmita berprofesi sebagai pemijat tunanetra. Menurutnya, penghasilan pada profesi memijat begitu minim karena jasanya minim peminat.

“Pelanggan Pijat tunanetra sangat sedikit. Rata-rata Rp30 ribu per hari penghasilan yang saya peroleh waktu itu. Sementara saya butuh dana lebih untuk menyekolahkan anak saya yang masih kelas 5 SD, hingga jenjang pendidikan tinggi,” ujarnya lirih.

 Rahmita biasa bernyanyi di dekat pintu keluar SPBU Jl. Sei Serayu Kec. Medan Sunggal. Dengan bermodalkan sound system mini dan kursi duduknya, wanita tunanetra ini tenang bernyanyi, meski terik mentari siang itu terasa membakar kulit.

Meski berhadapan dengan gemuruhnya suara mesin dan jalanan ia tetap teguh bernyanyi.

Halaman
12
Penulis: Fatah Baginda Gorby Siregar
Editor:
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved