Raja Bius Empat Marga Tinjau Koordinat Ulayatnya di Zona BODT

Dari tokoh-tokoh marga ini terendus, lahan pengembangan BODT yang berada di Desa Motung diduga masih sengketa.

Raja Bius Empat Marga Tinjau Koordinat Ulayatnya di Zona BODT
TRIBUN MEDAN/Arjuna Bakkara
Bius Empat marga di Desa Motung mengukur dan meminjau titik kordinat lahan mereka di sekitar kawasan Danau Toba, (Minggu (4/11/2017) 

Laporan Wartawan Tribun Medan, Arjuna Bakkara
 

TRIBUN-MEDAN.Com, TOBASA- Warga Bius, sekitar seratusan orang jumlahnya, dari Empat Marga bersama-sama mengukur sendiri titik koordinat hak ulayatnya yang berkaitan dengan Pengembangan Badan Otorita Danau Toba (BODT) di Desa Motung, Kecamatan Ajibata Tobasa, Minggu (5/11/2017). 

Dari tokoh-tokoh marga ini terendus, lahan pengembangan BODT yang berada di Desa Motung diduga masih sengketa.

Berduyun-duyun mereka kompak berangkat dari rumah kayu milik Pak Indri Manurung di tengah kampung. Berdasarkan sejarah dan dokumen-dokumen yang ada, lahan yang kini mereka petakan adalah hak ulayat bersama yang terdiri dari Raja Bius Empat marga di Motung, yakni Manurung, Sitorus, Ambarita dan Sirait.

Baca: Tragis, Bertengkar Hebat dengan Anak Bos, Kekasih Nekat Bakar Diri di Depan Pacar

Baca: LIVE STREAMING: Manchester City VS Arsenal, The Gunners Berpeluang Hentikan Favorit Juara

Sabar Manurung, satu dari pemangku ulayat mengatakan, sedikitnya 500 hektar status lahan mereka nyaris timpang tindih. Pasalnya, lahan milik empat marga itu ditanami pohon eucalyptus secara sepihak. Sejak Bertahun-tahun, mereka juga tengah berjuang mempertahankan ulayatnya yang diduga ingin diklaim perusahaan pabrik kertas terbesar sekawasan Danau Toba.

Sabar mejelaskan, belum lagi menghadapi perusahaan kertas di Kawasan Danau Toba itu yang berupaya mengklaim ulayat mereka. Kesulitan lainnya juga datang mengempur.Sepengetahuan Manurung, tanah ulayat milik bersama itu malah masuk dalam peta kawasan pengembangan BODT tanpa persetujuan empat tokoh marga di Desa itu.

"Ini sebenarnya lahan untuk kepentingan bersama. Tapi banyak pihak luar yang ingin menguasai," ujarnya, sembari menunjuk tanah ulayat mereka.

Karenanya, kata Sabar mereka terpaksa mengukur dan mencari titik kordinat lahan mereka dengan sendiri. Lalu, secara kompak mereka akan beramai-ramai mempertanyakan status lahan tersebut, sehingga mendapat kepastian.

"Kalau misalnya ini hutan lindung, kenapa juga ada Eucaliptus di dalamnya. Padahal, lahan ini sudah ratusan tahun terwarisi ke kami. Bukti fisik juga ada ini," sebutnya sambil menunjuk parik (batas) berbentuk tembok tanah memanjang yang telah sibuat sejak jaman leluhur empat marga itu.

Terkait lahan mereka yang diduga diserobot BODT, Dirut BODT Ari Prasetio saat dikonfirmasi belum menjawan wartawan. Sebelumnya, beberapa waktu lalu dia mengaku masih sedang sibuk hingga 28 Oktober 2017 mendatang. Namun hingga kini belum memberi keterangan lebih lanjut.(cr1/tribunmedan.com)

Penulis: Arjuna Bakkara
Editor: Salomo Tarigan
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved