Wow, Pengakuan Pengemis Bawa Rp 23 Juta: Sebenarnya Gak Ada Niat, Tapi Malah Enak Ngemis Sih

Sri kedapatan membawa uang tunai puluhan juta dan emas dalam bentuk perhiasan sebanyak belasan gram.

Wow, Pengakuan Pengemis Bawa Rp 23 Juta: Sebenarnya Gak Ada Niat, Tapi Malah Enak Ngemis Sih
m15/Hamdi Putra
SRI bersama Kasubag TU Panti Sosial Bina Insan Bangun Daya 1, Rinawati, di Kedoya, Jakarta Barat, Selasa (14/11/2017). 

TRIBUN-MEDAN.COM - Sri Haryati (50), pengemis yang terjaring operasi Suku Dinas Sosial Jakarta Pusat pada hari Minggu, 12 November 2017 lalu, saat ini sedang berada di Panti Sosial Bina Insan Bangun Daya Satu, Kedoya, Jakarta Barat.

Sri menghuni panti sosial ini sejak 2 hari yang lalu, sesaat setelah terjaring razia PMKS di Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) Kramat Sentiong, Jakarta Pusat.

Dari pemeriksaan petugas, Sri kedapatan membawa uang tunai puluhan juta dan emas dalam bentuk perhiasan sebanyak belasan gram.

Jumlah uang tunai yang dibawa Sri mencapai Rp 23 juta, yang terbagi menjadi uang kertas berbagai pecahan dan uang recehan yang berbentuk uang logam. Uang kertasnya Rp. 22.750.000, uang recehannya Rp. 313.700. Totalnya sekitar 23 jutaan.

Sedangkan emas berbentuk perhiasan diperkirakan belasan gram, emas lama kayaknya," terang Rinawati, Kasubag TU Panti Sosial Bina Insan Bangun Daya 1, Kedoya, Jakarta Barat.
Menurut pengakuan Sri, ia mengemis di Jakarta baru selama empat hari.

"Baru empat hari udah ditangkap. Uang yang Rp 20 juta bukan hasil ngemis, tapi dari hasil saya bekerja waktu jadi Pembantu Rumah Tangga (PRT) dari tahun 1991. Sisanya (Rp 3 jutaan) itu yang hasil ngemis, Kalau emas saya beli sendiri di kampung," aku Sri.

Sri merupakan warga Karanganyar, Solo, Jawa Tengah. Ia pernah bekerja sebagai PRT di beberapa tempat seperti Blok M, Pulogadung, dan Rawamangun.

"Saya pernah jadi pembantu ikut orang Jepang, tapi berhenti karena majikan saya pulang kampung. Terakhir jadi pembantu di Pulo Asem, Rawamangun. Saya berhenti trus pulang kampung," tambah Sri.

Selain itu, Sri juga mengaku bahwa ia punya keluarga di Depok, Jawa Barat. Akan tetapi ia tidak mengetahui nomor telepon maupun alamat saudaranya itu.

Sri datang ke Jakarta setelah menetap di kampung halamannya selama lebih kurang dua tahun.
Ia akhirnya memutuskan untuk mengadu nasib ke Jakarta dan berniat kembali mencari pekerjaan sebagai PRT.

Halaman
12
Editor: Salomo Tarigan
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved