Ahmad Djauhar: Fenomena Padamnya Media Cetak Tidak Seseram Itu

Sebenarnya fenomenanya tidak seseram itu, tidak seseram yang kita bayangkan. Contohnya saja, kalau kita jalan- jalan ke luar negeri

Penulis: Muhammad Tazli | Editor: Muhammad Tazli
(Tribun Medan/Muhammad Tazli)
Wakil Ketua Dewan Pers yang juga Ketua Harian SPS Pusat Ahmad Djauhar saat acara Workshop Jurnalistik yang diadakan oleh Serikat Perusahaan Pers (SPS) Sumut di Madani Hotel, Rabu (22/11/2017). 

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Istilah senjakala media cetak yang beberapa tahun belakangan seolah mennjadi momok bagi perusahaan penerbit surat kabar ternyata menurut Wakil Ketua Dewan Pers yang juga Ketua Harian SPS Pusat Ahmad Djauhar tidak seseram yang dibayangkan.

Menurutnya, memang akhir-akhir ini banyak anggapan yang pesimis menyebutkan media cetak akan habis masa kejayaannya. Namun ia meyakini media cetak tidak langsung habis atau padam.

"Sebenarnya fenomenanya tidak seseram itu, tidak seseram yang kita bayangkan. Contohnya saja, kalau kita jalan- jalan ke luar negeri, masih banyak bule yang membawa buku untuk dibaca, mereka masih suka membaca buku untuk menghabiskan waktu. Koran nantinya tidak akan langsung mati atau habis. Yang mengerikan itu sebenarnya adalah fenomena kurangnya minat membaca kita sekarang ini. Padahal jika suatu bangsa tidak ada lagi yang suka membaca, maka negara itu akan punah," ujarnya saat acara Workshop Jurnalistik yang diadakan oleh Serikat Perusahaan Pers (SPS) Sumut di Madani Hotel, Rabu (22/11/2017).

Baca: Pengemudi Tabrak Sejumlah Kendaraan Saat Dikejar Polisi, Pakai Mobil Orangtua Tanpa Sepengetahuan

Ia bilang, kebiasaan kita membaca media online atau mengikuti media sosial itu baik, tapi sifatnya hanya informasi yang cepat dan kedalamannya kurang. 

"Ibaratnya kan kalau di media sosial ini warung kopi, siapa saja bisa ngomong. Maka dari itu, acara seperti ini saya anggap perlu karena berfungsi untuk menjaga kelembagaan media cetak dan menjadi rujukan bagi masyarakat agar mereka tidak terpengaruh dengan berita-berita hoax," ujarnya lagi.

Menurutnya, sebenarnya kita masih layak untuk menekuni media cetak, karena di usia remaja seharusnya wajib membaca media cetak. Dan hal itu harus ditanamkan kepada remaja saat ini.

"Saya berharap SPS di daerah lain bisa mengikuti untuk membuat acara seperti ini. Saya tadi kirim ke grup Whatsapp SPS di daerah berharap mereka bisa meniru pelatihan jurnalistik seperti ini," ujarnya.

Sebelumnya, acara Workshop Jurnalistik dengan materi Bahasa Menarik Minat Baca ini dibuka oleh Gubernur Sumut Tengku Erry Nuradi yang diwakili oleh Kadis Infokom Sumut Muhammad Fitriyus.

Baca: Lionel Messi Dikabarkan Kaget Lihat Gaya Hidup Neymar di Prancis

"Kita sama-sama tahu surat kabar mengalami penurunan, bahkan di Amerika lebih dulu mengalami itu. Kalau kita tidak awas dan hatihati dengan keadaan ini, kita akan digilas zaman.  Makanya dengan adanya kegiatan yang digelar SPS ini, dengan mengundang ahlinya, sehingga bisa didapatkan ilmu bagaimana nantinya menciptakan surat kabar yang indah dilihat dan berkualitas. Jadi, dari awal saja tampilannya sudah menggoda," ujarnya.

Sementara itu, Ketua SPS Sumut Farianda Putra Sinik mengatakan bahwa acara ini digelar sebagai solusi untuk media cetak yang saat ini menghadapi tantangan yang besar. Dan ini merupakan kegiatan yang ketiga digelar SPS, dengan mengambil materi berbeda-beda seperti sebelumnya mengangkat soal perwajahan koran.

"Ke depannya, kita menggelar workshop fotografer. Jadi fotografer juga harus tahu foto yang seperti apa yang harusnya diambil dan sesuai dengan permintaan pasar," ujarnya.(TRIBUN-MEDAN.com/Muhammad Tazli)

Sumber: Tribun Medan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved