Semangat Baru Sumut

Sempat Jadi Tukang Semir Sepatu, JR Saragih Sukses Dibesarkan sang Nenek

Perjalanan hidup Doktor Jopinus Ramli Saragih (JR Saragih) tidak semulus yang dibayangkan banyak orang

Sempat Jadi Tukang Semir Sepatu, JR Saragih Sukses Dibesarkan sang Nenek
TRIBUN MEDAN / M AZHARI TANJUNG
JR Saragih (kiri) saat menerbangkan seorang kakek yang sakit dengan menggunakan helikopter pribadinya 

TRIBUN-MEDAN.COM, RAYA - Perjalanan hidup Doktor Jopinus Ramli Saragih (JR Saragih) tidak semulus yang dibayangkan banyak orang. Jalan hidup yang dijalaninya tidak lah mudah,  berbagai macam pekerjaan pernah ia jalani sampai akhirnya ia menjadi Ketua DPD Partai Demokrat Sumut dan Bupati Simalungun

Jr saragih lahir 10 November 1968. Tak sampai berusia setahun, cobaan berat pertama dialaminya. Ayahnya, seorang prajurit TNI, meninggal dunia.

JR Saragih kemudian diasuh oleh neneknya (ibunda ayahnya) di Kecamatan Raya, Kabupaten SimalungunJR Saragih harus diasuh neneknya, karena faktor kesulitan ekonomi membuat ibunya menikah lagi.

 “Kasih sayang seorang nenek hanya saya rasakan sementara. Saat saya duduk di kelas V SD, nenek saya meninggal dunia,” JR Saragih

Lantas JR Saragih meninggalkan Raya dan diasuh kakek-neneknya yang lain (ayah-ibu dari ibundanya) di Kutabaru, Kecamatan Munthe, Tanah Karo.

Di Munthe, JR Saragih mulai  menunjukkan jiwa petarungnya. Sembari bersekolah, ia juga mulai bekerja serabutan. Ia menjadi tukang semir sepatu, kernetnya kernet (pembantu kondektur bus), hingga montir sepeda motor.

Ketua DPD Partai Demokrat Sumatera Utara JR Saragih berjumpa masyarakat Deli Serdang di Bangun Percut, Deliserdang, Sumatera Utara, Kamis (15/9/2017)
Ketua DPD Partai Demokrat Sumatera Utara JR Saragih berjumpa masyarakat Deli Serdang di Bangun Percut, Deliserdang, Sumatera Utara, Kamis (15/9/2017) (IST)

Di Munthe pula ia mulai melihat banyaknya pemuda Karo yang merantau. JR Saragih pun bertekad untuk merantau. Ia ingin memperbaiki kehidupannya. Bagi JR Saragih, jika orang lain bisa maka ia pun harus bisa.

Pada tahun 1984,  JR Saragih berhasil menamatkan pendidikan SMP di Kutambaru. Ia pun memutuskan merantau sekaligus melanjutkan pendidikan SMA ke Jakarta.

JR Saragih lantas hidup mandiri dengan kos di Jakarta dan melanjutkan pendidikan di SMA-1 Prasasti, Kemayoran, Jakarta Pusat. Untuk mencukupi kebutuhan dan biaya sekolah, JR Saragih bekerja serabutan. Pekerjaan sebagai buruh galian pasir pernah ia lakoni sepulang sekolah. 

JR Saragih bekerja sebagai buruh galian pasir milik Puskopad (Pusat Koperasi Angkatan Darat). Beberapa lama bekerja memeras keringat dengan menambang pasir, JR Saragih mendapat tawaran bekerja paruh waktu di Pusat Primer Koperasi Mabes TNI AD.

Halaman
123
Penulis:
Editor: Fahrizal Fahmi Daulay
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved