Edisi Cetak Tribun Medan

HAMBAR! Suporter PSMS Memilih Tidak Ikut Acara Penyambutan di Lapangan Benteng

Di Lapangan Benteng, di mana telah diberdirikan panggung penyambutan, yang menyeruak hanyalah kehambaran.

TRIBUN MEDAN/RISKI CAHYADI
Sejumlah pemain PSMS diarak melintasi Jalan Sisingamaraja, Medan, Kamis (30/11). PSMS Medan menjadi runner-up Liga 2 dan lolos promosi ke Liga 1. 

TRIBUN-MEDAN.COM - Di saat ruas-ruas jalan di Kota Surabaya nyaris lumpuh total akibat lautan manusia, Kamis (30/11), di Medan, yang terjadi adalah kontradiksinya. Tidak ada lautan manusia.

Di Lapangan Benteng, di mana telah diberdirikan panggung penyambutan, yang menyeruak hanyalah kehambaran.

PSMS dikalahkan Persebaya pada laga final Liga 2 di Stadion Gelora Bandung Lautan Api, Bandung, Jawa Barat, 28 November 2017. Tendangan Irfan Jaya pada menit pertama babak kedua fase perpanjangan waktu, membuyarkan ambisi PSMS membawa pulang tropi kejuaraan. Skor 3-2 untuk Persebaya bertahan hingga akhir pertandingan.

Apakah lantaran kekalahan ini sambutan terhadap PSMS tidak gegap-gempita? Sama sekali tidak. Ratusan ribu suporter PSMS di Medan, di Sumut, dan di manapun berada, menyambut kembalinya PSMS ke liga kasta teratas dengan penuh suka cita.

Setidaknya, ini tergambar di media sosial. Di Facebook, di Twitter, di Instagram, di Path, tak seorang pun di antara suporter-suporter ini yang menyesalkan kekalahan dari Persebaya. Sebaliknya, yang mengemuka adalah kata-kata, adalah kalimat-kalimat, yang menyiratkan kebanggaan.

Baca: Miris! Begini Perbandingan Sambutan Suporter pada Pemain PSMS Medan dan Persebaya

Akan tetapi, kemudian, lewat media sosial pula melesat sikap yang menyentak. Para suporter, dalam hal ini kelompok suporter, melalui akun resmi mereka, menyatakan memilih menepi. Mereka menolak hadir di acara penyambutan PSMS sebagai bentuk protes terhadap Pemerintah Kota (Pemko) Medan yang dinilai sekadar ingin nampang dan numpang tenar.

Dalam pernyataan itu, kelompok suporter melarang setiap anggotanya hadir dengan mengatasnamakan atau membawa identitas kelompok. Jika ingin hadir sebagai pribadi, walau tidak disampaikan secara eksplisit, dipersilakan.

Pernyataan ini ternyata berpengaruh besar. Suporter berjubel memadati Bandara Internasional Kualanamu menyambut pemain. Mereka menyuarakan yel-yel. Mereka menyanyi dan memperdengarkan bunyi-bunyian. Mereka ikut mengiringi pemain yang diarak di atas truk bak terbuka. Namun makin dekat ke Lapangan Benteng, jumlah suporter makin berkurang.

Baca: Suporter Boikot, Acara Penyambutan Kedatangan Pemain PSMS Sepi, Tonton Videonya

Pantauan Tribun, hingga acara dimulai menjelang sore, Lapangan Benteng bahkan tidak penuh terisi. Tidak ada massa yang menyemut. Separuh lebih lapangan lowong. Sungguh tak bisa dibandingkan dengan sambutan para Bonek (sebutan suporter Persebaya) untuk Persebaya.

Sungguh ironis bagi Ayam Kinantan--julukan PSMS. Ibaratnya, mereka justru kesepian di tengah keramaian, di antara keriuhan suporter di media sosial. Ironis karena mereka merayakan suka cita di dunia maya dan memilih menepi di dunia nyata.

Ketua Kampak FC, M Faisal, mengatakan bahwa sikap mereka ini tidak ada hubungannya dengan PSMS, tidak ada hubungannya dengan skuat. Suporter, imbuh Faisal, tetap sepenuhnya mencintai PSMS, mencintai para pemain dan pelatih. Juga menghargai para pengurus yang sudah bekerja keras sepanjang tahun untuk membangkitkan PSMS dari tidur panjang.

"Kami meminta maaf pada pemain, pelatih, dan pengurus, atas sikap ini. Namun kami memang harus menunjukkannya. Kami harus menunjukkan bahwa suporter tidak respek pada para pemimpin daerah yang mendadak peduli PSMS. Kami ingin menunjukkan bahwa PSMS tidak butuh kepedulian murahan semacam ini," ujarnya.

Acara di Lapangan Benteng akhirnya memang berjalan dengan cara paling hambar. Sekadar pidato-pidato yang datar, sekadar foto-foto tanpa semangat. Tidak ada lagu-lagu kebesaran PSMS yang biasa dinyanyikan dengan sepenuh jiwa oleh suporter di Stadion Teladan.

Dari atas panggung kecil yang diberdirikan di tepi Lapangan Benteng, dua biduan aduhai berbusana merah menyala, melantunkan Jaran Goyang dangdut koplo yang hari-hari belakangan ini sedang menjajah youtube dan pesta pernikahan kelas jelata. Apa salah dan dosaku sayang, cinta suciku kau buang-buang. Yeah! (t agus khaidir/ilham fazrir harahap)

Sumber: Tribun Medan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved