Obituarium
Kita tak Sempat Motret PSMS Lagi, Bang Anul
Saya ternyata keliru. PSMS benar-benar lolos ke kasta tertinggi sepakbola nasional. Melaju ke final Liga 2 walau akhirnya kalah dari Persebaya.
Penulis: T. Agus Khaidir | Editor: T. Agus Khaidir
KIRA-kira tujuh bulan lalu, satu hari jelang petang di Kebun Bunga, kami bertemu. Seperti biasa, yang pertama saya lihat dari laki-laki ini adalah senyumnya yang khas. Mengembang sempurna dan membuat matanya menyipit. Senyum yang benar-benar lepas.
"Tak pernah lagi kita motret sama, ya. Sudah lama sekali. Rindu juga aku. Kapan-kapan kita motret di Teladan, di samping gawang saat PSMS bertanding," katanya.
Laki-laki itu Aryanul Lubis. Seorang fotografer. Di kalangan fotografer, namanya barangkali tidak pernah terlalu jadi perbincangan. Tidak pernah terlalu menonjol. Namanya tak pernah tercatat sebagai penerima penghargaan-penghargaaan fotografi bergengsi.
Begitulah, Aryanul memang tidak seperti umumnya fotografer media yang merambah ke semua bidang. Sebagian besar kariernya sebagai fotografer dihabiskan di arena-arena olahraga. Sepakbola, tinju, voli, basket, bulutangkis, tenis meja, atletik, otomotif, hingga perahu naga. Khusus sepakbola, dia memotret ke lapangan mana pun. Dari stadion hingga lapangan di pelosok-pelosok kampung, dari klub liga sampai sekolah sepakbola.
Sebelum mulai "terjauhkan" dari kamera enam tahun lalu, saya kerap bertemu dengan dia. Tak banyak pelajaran tentang fotografi yang saya dapat darinya. Mungkin nyaris tak ada.
Namun saya mendapat banyak sekali pelajaran tentang hidup dan kehidupan. Terutama perihal keikhlasan, kesabaran, juga tentang harga-menghargai, tentang kasih sayang. Hal-hal yang membuatnya mudah akrab dengan siapa saja, termasuk dengan orang yang baru atau bahkan tidak dikenalnya sama sekali.
Petang tujuh bulan lalu itu, saya datang ke Kebun Bunga untuk bermain dalam satu pertandingan uji coba bersama tim SIWO PWI Sumut. Dia datang untuk menonton.
Usai kami bermain, saya ingat dia masih juga menyinggung perihal memotret PSMS. Dia bertanya kapan, dan saya jawab sambil lalu. "Nantilah, Bang, kalau PSMS masuk Liga 1," kata saya.
Dia menanggapi serius. "Janji kau, ya. Motret sama lagi nanti kita."
Lebih dari keyakinan siapa pun saya kira, dia memang percaya PSMS berpeluang lolos ke Liga 1. Hal yang waktu itu saya anggap berlebihan. Materi cukup makan, sekadar bertahan di Liga 2 saja sudah harus disyukuri, pikir saya.
Ternyata saya keliru. PSMS benar-benar lolos ke kasta tertinggi sepakbola nasional. Melaju ke final Liga 2 walau akhirnya kalah dari Persebaya.
Aryanul Lubis semestinya bergembira. Semestinya, sebagaimana biasa dilakukannya jika perkiraannya benar, dia akan datang dengan memamerkan senyumnya yang lapang itu.
Namun tak ada. Saat PSMS memastikan lolos ke Liga 1, dia sedang berjuang melawan sakit. Hantaman stroke membuat sebagian anggota tubuhnya tidak berfungsi. Dia tidak bisa memotret lagi.
Dan memang, seterusnya tak bisa. Jumat, 8 Desember 2017, petang, Aryanul Lubis berpulang. Sesaat setelah mendengar kabar itu, saya tercenung lama. Di telinga saya terngiang kembali kata-katanya. "Janji kau, ya. Motret sama lagi nanti kita."
Ah, Bang Anul. Saya tidak bermaksud ingkar janji. Tapi kita memang tak sempat motret PSMS lagi. Tak bisa motret sama-sama lagi. Mungkin lain kali, bang. Mungkin lain hari.(t agus khaidir)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/bang-anoel_20171208_224522.jpg)