Warga Protes Akses Jalan Ditutup, Manajemen Hotel Antares Bilang Sudah Beli Tanah Jalan

gang tersebut sudah tercantum di dalam tata ruang Kota Medan, serta sejak puluhan tahun lalu telah menjadi fasilitas umum (fasum).

Tribun Medan/Ryan
Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi D DPRD Kota Medan, dengan manajemen Hotel Antares, perwakilan masyarakat Gang Batu, Satpol PP, Dinas PKPPR dan Camat Medan Kota, Kamis (14/12/2017). 

Laporan Wartawan Tribun Medan / Ryan Achdiral Juskal

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Warga melakukan protes terhadap Manajemen Hotel Antares, terkait penutupan akses jalan bagi warga di Gang Batu Kelurahan Masjid, Kota Medan.

Pasalnya, gang tersebut sudah tercantum di dalam tata ruang Kota Medan, serta sejak puluhan tahun lalu telah menjadi fasilitas umum (fasum).

Perwakilan warga Gang Batu Jalan Sisingamangaraja, Chandra Negara, memaparkan keberadaan Gang Batu sudah ada sejak puluhan tahun lalu. Di dalamnya terdapat akses jalan dan aliran drainase sebagai fasum.

Namun, katanya, sejak akses gang ditutup permanen, mengakibatkan masyarakat tidak bisa lagi mengakses gang tersebut.

Baca: Rayakan Akhir Tahun, Telkomsel Hadirkan Program Barbershop Carnival

"Akses warga ditutup sekarang ini. Parahnya lagi, drainase pun ikut ditutup. Akibatnya, banjir melanda daerah itu yang sebelumnya tidak pernah terjadi," katanya dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi D DPRD Kota Medan, dengan manajemen Hotel Antares, perwakilan masyarakat Gang Batu, Satpol PP, Dinas PKPPR dan Camat Medan Kota, Kamis (14/12/2017).

Sementara itu, Akmal, Warga Jalan Mahkamah mengatakan, berdasarkan UU Pokok Agraria pada pasal 6 aksesoris Gang Batu harus dibuka kembali, karena memang merupakan fasum.

"Dari rumah saya berjarak 30 meter bisa tembus ke Gang Batu itu. Saya tinggal di situ sejak 1980-an. Akses jalan dan paritnya memang sudah ada di situ," katanya.

Baca: Digeruduk Ribuan Suporter, Akhyar Jamin Stadion Teladan Menjadi Markas PSMS di Liga 1

Mewakili pihak manajemen Hotel Antares, Christopel Manurung, mengungkapkan tahun 2003 pihak manajemen telah membeli sebidang tanah di Jalan Sisingamangaraja dan telah mengurus ruang kavling tanah di kawasan itu.

"Memang benar, di Gang Batu itu dulu ada jalan, tapi setelah terjadi jual beli dari pemiliknya, H. Siraj, dengan status Hak Milik. Berarti seluruh perjanjian antara masyarakat dengan pemilik tanah dulu gugur demi hukum. Jadi, bagaimana masyarakat mau menuntut kami, kalaupun dulu, H. Siraj pernah memberikan tanah itu kepada masyarakat sebagai akses jalan," katanya.(*)

Sumber: Tribun Medan
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved