Pilgub Sumut 2018

Usung Djarot, PDI Perjuangan Wajib Pertimbangkan Hal Ini di Pilkada Sumut 2018

Mantan gubernur DKI Jakarta, Djarot Saiful Hidayat akhir-akhir ini sedang berkunjung ke Sumatera Utara,

Editor: Abdi Tumanggor
TRIBUN MEDAN/Dedy Kurniawan
Djarot S Hidayat saat berkunjung ke Pematangsiantar 

TRIBUN-MEDAN.COM - Mantan gubernur DKI Jakarta, Djarot Saiful Hidayat akhir-akhir ini sedang berkunjung ke Sumatera Utara, bukan tidak mungkin hal itu merupakan sinyal kuat bahwa PDI-P akan mencalonkan Djarot untuk bertarung di Pilkada Sumut 2018 nanti.

Nama-nama beken sudah disodorkan oleh partai politik ke publik. Ada Panglima Komando Strategis Angkatan Darat, Letnan Jenderal Edy Rahmayadi yang mendapat sokongan positif dari partai Gerindra, PAN, dan PKS. Pun demikian dengan sang petahana, Tengku Erry Nuradi yang didukung kuat oleh Golkar, Nasdem, PKB, serta PKPI.

PDI-P bukannya tak memilki nama hebat di internalnya sendiri yang sudah lama digadang-gadang oleh rakyat Sumatera Utara tentunya. Ada Maruar Sirait yang merupakan putra asli daerah Sumatera Utara, pun demikian dengan Effendi Simbolon yang pernah gagal di pertarungan kursi Sumut 1 pada 2013 lalu. Tetapi agaknya, PDI-P lebih memilih mendahulukan Djarot yang memang memiliki segudang prestasi dan sarat pengalaman sebagai pemimpin.

Perlu diketahui, Djarot sebelumnya merupakan kepala daerah yang memilki berbagai kinerja dan prestasi yang patut dibanggakan.

Pada saat memimpin  kota Blitar selama 10 tahun, Djarot sukses mengingkatkan PAD Blitar dari 2,5 Miliar menjadi 39,86 Miliar pada 9 tahun berikutnya. Kemudian APBD kota Blitar dari 38,625 Miliar naik menjadi 387 Miliar, kemudian IPM dari 68,9 menjadi 77,12 poin, atau yang tertinggi di Jawa Timur pada tahun 2009.

Di DKI Jakarta, bersama partner-nya Basuki Thahaja Purnama (Ahok), Djarot melakukan sejumlah terobosan penting seperti pembangunan RPTRA, transparansi anggaran dengan e-budgeting, penataan daerah aliran sungai yang selama ini kerap menjadi sumber utama banjir di DKI Jakarta, penataan pasar-pasar tradisional, perhatian yang tinggi untuk pendidikan melalui KJP dan KJS, layanan transportasi yang sangat murah, terjangkau, dan sangat nyaman, dan cepat tanggap terhadap berbagai isu terkini yang terjadi di masyarakat dengan memanfaatkan teknologi sebagai media utama.

Prestasi-prestasi tersebut tentunya hanyalah sebagian kecil dari apa yang sudah dilakukan oleh Djarot selama memimpin sebagai kepala daerah. Hal ini juga yang mungkin menjadi pertimbangan utama dari PDI-P untuk mengusung seorang Djarot di Pilkada Sumut 2018 karena era perkembangan teknologi saat ini, masyarakat akan semakin mudah mengenal siapa calon pilihannya yang benar-benar berprestasi dan bekerja untuk rakyatnya sendiri.

Meski demikian, ada beberapa hal yang patut menjadi pertimbangan PDI-P saat mengusung Djarot di perhelatan Pilkada SUMUT 2018 nanti. Yang pertama adalah Djarot bukanlah seorang putra asli Sumatera Utara.

Era modern memang tidak memandang siapa putra daerah dan siapa yang dari luar daerah. Terbukti di DKI Jakarta, pada 2012 lalu pasangan Jokowi-Ahok berhasil memenangkan pertarungan di DKI 1 setelah mengalahkan Fauzi Bowo-Nahrowi Ramli (yang merupakan putra asli DKI Jakarta).

Publik memang lebih melihat kepada track record seorang calon. Tetapi itu di DKI Jakarta, di mana pada saat itu tingkat rasionalitas pemilih lebih tinggi jika dibandingkan dengan daerah lain, salah satunya Sumatera Utara.

Keinginan agar putra daerah yang menjabat di kursi 1 Sumut selalu menjadi tolak ukur utama mayoritas pemilih di Sumatera Utara karena keyakinan atas kemampuan mengatasi berbagai permasalahan harus dimulai dari kemampuan mengenali dan mengerti terhadap rakyat itu sendiri.

Paradoks masyarakat Sumatera Utara ini menjadi hambatan terbesar PDI-P dalam mengusung Djarot untuk bertarung di 2018 nanti, apalagi dirinya akan bertarung dengan para putra daerah yang selama ini telah melakukanstart untuk kampanye terlebih dahulu secara tidak langsung.

Dari sisi internal dan citra partai itu sendiri, pengusungan Djarot bisa memberikan arti bahwa PDI-P kurang memberikan pendidikan politik yang baik sebab dengan mengusung Djarot berarti PDI-P kurang memberikan kesempatan kepada kader partai daerah sehingga terkesan tidak memiliki kepercayaan terhadap kader daerah itu sendiri.

Faktor berikutnya adalah, PDI-P kurang responsif dalam memenuhi keinginan masyarakat Sumut. Selain faktor putra daerah yang diinginkan oleh rakyat Sumut, PDI-P selalu terkesan lambat atau kalah start dari partai lain.

Halaman
12
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved