Alamak

Dokter Spesialis Kurang, Bupati Ini Malah Mutasikan 2 Dokter Spesial RS ke Puskesmas, Ini Kata IDI

Pemindahan dua dokter spesialis ini dianggap Ikatan Dokter Indonesia (IDI) sebagai bentuk kebijakan kontraproduktif

Dokter Spesialis Kurang, Bupati Ini Malah Mutasikan 2 Dokter Spesial RS ke Puskesmas, Ini Kata IDI
Istimewa
Bupati Nias Sokhiatulo Laoli mengeluarkan 'Surat Perintah' memindahkan dua dokter spesial RSUD Gunungsitoli ke Puskesmas. 

Sementara, Sekretaris Jenderal PB IDI Dr.Moh Adib Khumaidi, Sp.OT mengatakan sudah berkoordinasi dengan Ketua IDI Cabang Nias untuk menghimpun informasi yang valid terkait permasalahan ini.

Ia juga meminta IDI Cabang Nias berkoordinasi dengan IDI Wilayah Sumut untuk melakukan advokasi yang diperlukan.

“Terungkap, ternyata ketua IDI Cabang Nias dan juga sebagai dokter spesialis Obstetri dan Ginekologi dr. Fatolosa Pardomuan Panjaitan, Sp.OG dipindahkan ke Puskesmas karena berupaya membela dokter spesialis bedah dr. Yamoguna Zega, Sp.B yang dipindahkan sebelumnya ke Puskesmas," ujar Sekretaris Jenderal PB IDI Dr.Moh Adib Khumaidi, Sp.OT. 

Surat Perintah
Surat Perintah Bupati Nias.

Hal ini, menurutnya, memperlihatkan arogansi dari pemegang kebijakan di daerah tanpa mempertimbangkan kepentingan masyarakat yang membutuhkan layanan.

"PB IDI melalui Biro Hukum dan Pembelaaan Anggota (BHP2A) akan melakukan langkah-langkah lebih lanjut dengan berkoordinasi dengan pengurus IDI di daerah” ujar Dr.Moh Adib Khumaidi.

Dr.Fatolosa P Panjaitan,Sp.OG sebagai Ketua IDI Cabang Nias dan juga sebagai korban kebijakan Bupati Nias, menyampaikan informasi melalui pesan ke Dr.Adib, bahwa ada kesalahpahaman Bupati dan direktur RSUD mengenai batasan tempat praktik dokter spesialis.

Langkah-langkah advokasi yang dilakukan oleh IDI Cabang Nias terhadap pemindahan dr. Yamoguna Zega, Sp.B menimbulkan ketidaknyamanan bagi pemangku kebijakan,  sehingga secara sepihak Bupati memerintahkan Dr.Fatolosa untuk turut dipindahkan ke puskesmas.

“Bupati terkadang tidak tahu menahu dengan kejadian yang sebenarnya. Hanya menerima laporan yang isinya menjelek-jelekkan keberadaan dokter spesialis,” ujar Dr.Fatolosa Panjaitan kepada Dr.Abid. 

Kepada Tribun-Medan.com, PR Representative PB IDI Elizabeth merasa heran dan tidak habis pikir dengan kebijakan Bupati Nias tersebut.

"Itu rumah sakit cuma punya 1 dokter spesialis bedah, lho. Ini yang jadi korban kan pasien. Bagaimana dokter spesialis bedah melakukan tugas di Puskesmas yang enggak ada alat bedah, terus bagaimana?" ucapnya. 

Halaman
1234
Penulis: Abdi Tumanggor
Editor: Abdi Tumanggor
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved