Romaulina, Anak Kecil Korban Puting Beliung Tak Beranjak Dari Pangkuan Ayahnya

Romaulina Gurning anak usia 7 tahun tak ingin beranjak dari pangkuan ayahnya.

Romaulina, Anak Kecil Korban Puting Beliung Tak Beranjak Dari Pangkuan Ayahnya
Romaulina duduk di pangkuan ayahnya di rumahnya di Lingkungan Sikunikan, Kecamatan Sumbul, Kabupaten Dairi, Selasa (27/2/2018). 

Laporan Wartawan Tribun Medan / Tommy Simatupang

TRIBUN-MEDAN.com, SIDIKALANG - Romaulina Gurning anak usia 7 tahun tak ingin beranjak dari pangkuan ayahnya.

Ia merasa takut dan trauma setelah kepalanya terhantam lembaran seng yang dibawa angin puting beliung kemarin. Kepalanya yang koyak harus diperban dengan lima bekas jahitan.

Bekas darah yang mengering masih terlihat di wajahnya. Di pangkuan ayahnya, Romaulina memegang lembaran uang pemberian sanak keluarga dan tetangga yang datang menjenguk.

Ayahnya, Roy Gurning menceritakan saat kejadian ia bersama istrinya, Rita Sitanggang sedang bekeja di ladang. Sedangkan empat anaknya berada di rumah.

Ketika melihat pusaran angin puting beliung yang kuat, ia bersama istrinya berlari ketakutan ke rumah. Sesampai di rumah, ia melihat anak wajah anak ke empatnya itu berlumuran darah. Ia pun langsung melarikan Romaulina ke Puskesmas Sumbul.

"Sampai saya di rumah, langsung wajah anak saya ini penuh dengan darah. Saya ketakutan, saya bawa langsung ke Puskesmas,"ujarnya di rumahnya Lingkungan Sikunikan, Kecamatan Sumbul, Kabupaten Dairi, Selasa (27/2/2018).

Roy menceritakan anaknya terhantam lembaran seng milik tetangga. Saat, anaknya sedang membuka pintu belakang, seng yang dibawa angin puting beliung langsung menyambar.

"Anak saya terus menangis. Kami semua sudah ketakutan. Tetangganya juga sudah ketakutan. Di puskesmas ada satu orang juga yang kami temui korban puting beliung,"tambahnya seraya mebgatakan anaknya tersebut duduk di bangku kelas 2 SD Negeri Sumbul.

Saat Tribun Medan/tribun-medan.com berbincang dengan keluarga, terlihat beras berserakan. Roy menjelaskan akibat bencana yang ditimpa anaknya, keluarga menggekar tradisi "Boras Sipirtondi" atau mengembalikan jiwa.

"Biar kuat jiwanya. Semoga dengan kejadian ini, anak saya semakin kuat,"pungkasnya.

(tmy/tribun-medan.com)

Penulis: Tommy Simatupang
Editor:
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved