Catatan

Catatan Yanuar Nugroho: 'Geoekonomi Digital'

World Economic Forum (WEF) memang memperkirakan, dalam periode 2015 hingga 2020 mendatang, terdapat jutaan pekerjaan akan berkurang

Catatan Yanuar Nugroho: 'Geoekonomi Digital'
Istimewa
Deputi II Kepala Staf Presiden Yanuar Nugroho. 

Zaman baru, lapangan baru, peluang baru

Kita masuk ke zaman baru. Zaman yang disebut dengan zaman revolusi industri ke-4 – atau industry 4.0. Di zaman ini, ada sejumlah penanda pokok: muncul dan berkembangnya sistem fisik-siber (cyber-physical systems yang menyatukan dunia fisik, digital, dan biologis), the Internet of things, cloud computing, dan cognitive computing. Industry 4.0 ini membawa sejumlah dampak disruptif – salah satu yang utama adalah lapangan kerja.

Masifnya informasi tentang menyusutnya lapangan pekerjaan, yang kemudian dikonsumsi secara mentah oleh anak-anak muda pencari dan calon pencari kerja, memang tidak diiimbangi secara sepadan dengan berita tentang munculnya profesi-profesi baru yang belum pernah ada sebelumnya.

Di dunia media misalnya, sebelum tahun 2012, praktis tidak dikenal suatu posisi atau jabatan yang disebut digital media strategist. Juga tidak dikenal digital media analyst.

Kini, kedua posisi ini menjadi kunci kemajuan industri media yang mau-tidak mau harus bermetamorfosis secara adaptif ke lansekap digital.

Dalam bidang teknologi informatika, sebelumnya orang hanya mengenal profesi pemrogram (programmer) atau perancang web (web developer). Namun dalam kurun waktu 4 hingga 5 tahun terakhir, profesi tersebut telah membelah diri dengan spesialisasi yang makin runcing. Ada yang disebut search engine optimiser. Ada pula pekerjaan baru yang disebut user experience designer atau front-end developer. Spesialisasi ini dituntut karena makin meluasnya spektrum pengguna internet dengan berbagai kebutuhan yang makin personal.

Ketika fenomena industri perbankan dihadapkan pada peningkatan efisiensi yang berimbas pada pengurangan pekerjaan, ingatan orang langsung melayang pada pernyataan Bill Gates tahun 1994 yang secara kontroversial mengatakan bahwa di masa depan, “… banking is necessary, but banks are not.”

Saat itu, semua orang terhenyak mendengar pernyataan pendiri Microsoft tersebut, mengingat industri perbankan pada waktu itu justru sedang kuat-kuatnya. Tapi, seperempat abad kemudian, pernyataan itu seperti nubuat yang terwujud.

Sama seperti nubuatnya tahun 1980-an saat ia mengatakan bahwa komputer akan mengisi setiap rumah yang ada di kolong langit ini. Ia benar. Tidak hanya mengisi setiap rumah, hari ini perangkat komputasi sudah mengisi setiap kantong celana manusia.

Jika dikupas lebih dalam, industri keuangan dan perbankan hari ini, yang di permukaan seolah-olah telah mengubur ratusan ribu lapangan pekerjaan lama, sebenarnya memberikan peluang dan lapangan baru yang tidak kalah besar.

Halaman
1234
Editor: Abdi Tumanggor
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved