Breaking News:

Catatan

Catatan Yanuar Nugroho: 'Geoekonomi Digital'

World Economic Forum (WEF) memang memperkirakan, dalam periode 2015 hingga 2020 mendatang, terdapat jutaan pekerjaan akan berkurang

Editor: Abdi Tumanggor
Istimewa
Deputi II Kepala Staf Presiden Yanuar Nugroho. 

Teknologi keuangan (financial technology) atau populer disebut fintech, berubah secara transformatif dari yang bersifat administratif ke arah solusi kreatif.

Meskipun dari sisi taksonomi pekerjaan definisi seperti analis atau manajer projek masih menggunakan pengertian lama, kategori ini juga mengalami pembelahan yang makin terspesialisasi, sehingga melahirkan ruang-ruang baru dalam urusan lapangan pekerjaan. Pemahaman akan bagaimana crypto-currency bekerja misalnya, akan meningkatkan peluang kerja di sektor keuangan di zaman digital ini.

Dalam sektor industri transportasi dan wisata pun, sekalipun banyak biro perjalanan dan biro wisata tradisional harus gulung tikar, kemunculan layanan transportasi dan wisata berbasis digital seperti traveloka, airbnb hingga tripal telah melahirkan berbagai jenis kategori pekerjaan baru yang lebih spesifik.

Di dunia bisnis pada umumnya, sebelum tahun 2014 istilah data scientist atau data analyst juga masih terdengar asing di kalangan pencari kerja. Tapi kini kedua profesi itu amat dibutuhkan, bahkan juga di dunia pemerintahan, yang sering dianggap lambat dibandingkan bisnis. Keahlian khusus di bidang big data analytics, augmented reality, dan virtual reality, akan sangat dibutuhkan sebagai seorang strategist, baik di perusahaan swasta, maupun pemerintah.

Perencanaan pembangunan yang akurat membutuhkan tak hanya data dan evidence, tetapi kemampuan perencana yang mengerti proses-proses teknokratik di zaman digital. Bahkan secara spesifik, keahlian development planner dan digital strategist dibutuhkan sekaligus agar perencanaan pembangunan di era ekonomi digital ini relevan dan tidak ketinggalan zaman.

Tak hanya itu, jangkauan dan dampak teknologi digital ini merambah bahkan hingga di organisasi-organisasi politik.

Di Inggris, 10 tahun yang lalu, partai-partai politik di sana sudah menggunakan augmented reality untuk menganalisis kekuatan dan menyusun strategi elektoralnya. Satu di antara cases tersebut bahkan menjadi bahan disertasi S2 yang saya bimbing sendiri saat itu di University of Manchester.

Saya yakin, di Indonesia, sebentar lagi hal ini akan terjadi. Bayangkan kecanggihan jika mengombinasikan big data analysis, artificial intelligence dengan augmented reality untuk memetakan potensi elektoral sebuah parpol. Lembaga-lembaga survei politik akan segera ditinggalkan jika tak segera meng-upgrade kemampuannya di tengah deru kemajuan digital ini.

Tantangannya adalah apakah mereka yang semula sudah menggeluti pekerjaan ini selama bertahun-tahun atau berpuluh-puluh tahun, seperti para karyawan swasta atau birokrat pemerintah bahkan aktivis lembaga masyarakat, mampu beradaptasi dan menyesuaikan diri dengan deskripsi dan jenis pekerjaan baru dalam sektornya atau tidak. Karena, hukum seleksi alam akan tetap berlaku: “Mereka yang tak mau berubah akan tinggal menjadi catatan sejarah.”

Ekosistem digital

Halaman
1234
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved